RSS

Semangat!

www.google.com

 

Musim hujan mulai bersiap pergi. Waktunya membenahi rumah dan cat dinding yang pudar disana-sini. Setelah memperoleh tukang, saya mulai melakukan kerja bakti. Lemari, buku-buku, tempat tidur, hingga rak piring tiba-tiba seolah terlempar ke segala penjuru rumah. Memberi ruang yang lebih lega agar memudahkan pak tukang memulas kuasnya.

Hari pertama cukup memuaskan. Tukang saya bekerja dengan cepat. Namun rasa puas saya ternyata tak bertahan lama. Hari ketiga semangat pak tukang mulai mengendur. Pekerjaan yang sebelumnya dapat selesai dalam setengah hari, kini ia selesaikan selama satu hari penuh.

Saya yang kian gerah dengan debu plamir dan aroma cat yang menusuk, mau tak mau berpikir bagaimana cara membuatnya bekerja lebih cepat – tentu saja tanpa menyinggungnya.

Aha, saya tahu!

Teringat kejadian minggu lalu, dimana seorang sahabat menyemangati saya untuk menyelesaikan tulisan. Alih-alih memberi semangat hanya dengan kata-kata, ia malah melecut saya dengan ikut menulis bersama. Kami berlomba dengan batas waktu yang telah ditentukan. Hasilnya luar biasa! Saya yang kadang dalam seminggu tidak dapat menghasilkan tulisan apapun, hari itu juga, dalam waktu satu hari dapat menyerahkan beberapa tulisan jadi kepadanya.

Nah, cara itulah yang kemudian saya terapkan pada pak tukang saya. Ikut mengecat! Dengan begitu, saya tidak terlihat sedang mengawasinya langsung. Keinginan saya terwujud. Ia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Meskipun pada akhirnya kegiatan itu malah membuat saya merasa sangat kelelahan di malam hari. Namun tak apa. Bukankah selalu ada harga yang harus dibayar bila kita menginginkan sesuatu?

Saya kini kian meyakini. Ada kalanya menyemangati seseorang tidak cukup hanya dengan kata-kata. Ikutlah ‘bergerak’ serta ambil bagian bersamanya.  Setidaknya dengan melihat bahwa kita mampu, ia akan terpacu untuk berbuat hal yang sama. Selain itu, ia pasti lebih merasa diperhatikan dan antusias dalam menyelesaikan tugasnya. Dia bisa, kenapa saya tidak?

Ah, thanks to my Best Friend!

 

 
4 Comments

Posted by on May 1, 2012 in Ngerumpi

 

Kupu-kupu Kuning

“Menurutmu, mungkinkah suatu saat kita bertemu lagi?” Kata-katamu kudengar tersendat.

Kutatap kedua matamu meragu. “Jangan banyak berharap,” tukasku tajam.

“Baiklah, aku tidak berharap padamu. Aku hanya bergumam. Sekiranya semesta menangkupnya dalam genggaman.”

Kamu melepaskan tautan tangan kita, kemudian berbalik. Dalam hening, kamu pun berlalu. Meninggalkanku yang menatap punggung bisumu. Membawa pergi buntalan kenangan – yang entah sejak kapan – pernah kita tumpuk satu demi satu.

Seperti itulah salam perpisahan kita,  lima tahun yang lalu.

“Aku ingin kita bersama. Bukan hanya hari ini, tapi selamanya,” sekelebat kuingat kata-katamu lima belas tahun silam, ketika aku berseragam abu-abu. Kutepuk pipi kirimu perlahan. “Mimpi!” Ketika mendengarnya, kamu pun terbahak hingga bahumu berguncang. Pelukanmu terasa makin erat. Hangat.

“Sungguh. Aku ingin bersamamu,” ucapmu pelan seiring pudarnya tawa di bibir. Aku tertunduk, tak sanggup menatap kedua matamu. Mungkin pipiku merona. Buktinya kamu tergoda untuk mengecupnya lembut. Berada dalam dekapmu, dulu, selalu membuatku merasa pada sebuah rumah. Rumah dimana aku bebas tertawa, bersenandung, menangis, atau bahkan meluapkan amarah. Aku bebas menjadi diriku tanpa harus menipu matamu. Nyaman sekali rasanya. “Aku pun tak ingin jauh darimu,” lirih aku berkata. Jemarimu bermain di ujung rambut ikalku.

“Sungguh?”

“Ya.”

“Bagaimana kelak bila aku mati? Kita pasti akan terpisah.”

“Ah, aku ingin mati sebelum kamu mati. Lalu aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang selalu terbang mengelilingimu, menemani hari-harimu dengan kepak sayap kuningku. Hmm, mungkin sesekali aku akan terbang rendah di depan matamu. Mengganggu konsentrasimu. Agar kamu menyadari ada kupu-kupu kuning sedang merindumu.” Sekali lagi kamu tergelak lalu mendekap tubuhku.

Namun apa lacur. Sekian lama bersama, ternyata tak kunjung membawa kita pada satu muara. Akhirnya kita tetap harus berpisah. Lengkap dengan kegetiran dan airmata. Aku tahu, tak ada perjumpaan yang tak berujung pada perpisahan. Aku bahkan telah belajar melepasmu dengan seulas senyum pada detik pertama kutitipkan hati padamu. Tapi toh, nyatanya aku tetap menangisimu.

*****

Sudah berjam-jam aku menunggumu di sini. Di sudut lobby mewah gedung tinggi yang pada salah satu lantainya terdapat kantormu. Sengaja kunanti hingga tiba waktu pulang kantor, karena memang aku tak punya alasan khusus untuk menemuimu. Kuperhatikan setiap orang yang berjalan tergesa seolah kehabisan waktu. Pandanganku menyapu seluruh ruangan, mencari-cari sepahat wajah yang kukenal.

Ting!

Pintu lift yang terdekat denganku membuka. Serasa ada tarikan magnet yang memaksaku untuk melihat siapa yang akan berjalan keluar dari situ. Aku tercekat. Kamu! Aku masih mengenali sosokmu. Langkahmu tegap, pandangan mata lurus ke depan. Mana bisa kulupa, sedangkan aku pernah sangat memuja sorot mata itu.

Perlahan tapi pasti, kamu pun melewatiku. Duh, wangi tubuhmu masih juga sama. Segera kuhirup dalam-dalam aroma itu. Segar. Seketika membuatku ingin membelai rambutmu, menciumi keningmu, dan bergelayut manja di lengan kirimu. Tapi tahukah kamu, aku tak sanggup. Rindu ini kukalahkan. Telak.

Bergegas kuikuti langkahmu dari belakang. Sungguh, tak apa jika kamu tak mengenaliku. Sudah cukup bagiku menguntitmu seperti ini. Menatap punggungmu saja membuatku merasa teramat nyaman. Aku hanya tak ingin berpisah darimu lagi.

“Hei, lihat! Ada yang lucu. Kupu-kupu kuning itu dari tadi mengikuti kemana pun orang itu berjalan. Seperti jinak saja, ya?” Tak kuhiraukan bisik seorang perempuan kepada kawannya, sambil menunjuk kita. Aku terus mengikutimu.

 
2 Comments

Posted by on April 3, 2012 in Ngerumpi

 

Kenangan dalam Sebuah Lemari

Mudik. Semua pasti akan merasa senang bila melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Bersua dengan rumah masa kecil, kamar yang ditempati selama masa remaja, suasana yang penuh dengan kenangan tak tergantikan oleh apapun juga, dan yang terpenting: bertemu dengan keluarga.

Saya mudik ke kota kelahiran saya dua minggu sekali. Atau kadang tiga minggu sekali. Tergantung kesempatan. Nah, belakangan ini saya memiliki kebiasaan baru saat mudik: masuk ke dalam lemari pakaian mendiang mama saya. Hihihi… untung muat. Lemari itu menyimpan beberapa pakaian yang pernah dipakai beliau semasa hidupnya. Saya masih ingat dengan jelas, blazer mama yang itu pernah dipakai di acara apa, kebaya yang ini waktu nikahan saudara yang mana, kain yang itu dijahit sendiri, baju santai itu kainnya beli dimana, dan ahhh… Setiap kali saya menciumi pakaian yang tergantung tersebut satu per satu, kerinduan saya meletup-letup tanpa dapat dicegah.

Aromanya memang sudah berganti dengan bau kapur barus. Tapi masuk dan duduk di dalam lemari besar itu, kemudian merasakan bersentuhan langsung dengan pakaian-pakaian tersebut,  membuat saya merasa sedikit lega. Nyaman. Lucu ya? Kerinduan yang teramat sangat kadang dapat lumer dengan cepat bila kita dapat menyentuh sebuah barang kenangan kita bersama seseorang. Serasa berada dalam pelukannya kembali. Walau jauh dari kasat…

 
4 Comments

Posted by on March 19, 2012 in Uncategorized

 

Ingin Menolong, Tapi…

 

Suatu senja menjelang maghrib, gerimis tak putus mengawali perjalanan pulang saya bersama seorang kawan. Jalanan licin, udara dingin, serta gelapnya suasana mengharuskan kawan saya ekstra berkonsentrasi mengemudikan mobil. Kami melewati jalan pintas tak seberapa luas yang banyak melalui tanah kosong dan persawahan. Lebar jalan hanya muat oleh dua mobil bersimpangan.

Tiba-tiba “BRAKKK…!!”

Bukan main terkejutnya saya, ketika melihat ada seorang pengendara sepeda motor jatuh terguling di depan mobil kami. Refleks saya berteriak, “Berhenti, berhenti! Kamu harus berhenti!” Kawan saya bukannya menginjak pedal rem, melainkan sigap membanting setir menghindari tubuh yang tergeletak di jalan itu dan melaju terus tanpa menghiraukan pukulan saya di lengannya. “Dia tabrakan sama motor di depan itu, lho. Bukan sama aku. Panjang urusannya kalau kita berhenti. Bisa-bisa kita yang harus mengantar ke Rumah Sakit. Belum kalau nanti ada polisi, kita yang ditanya sebagai saksi, ” dia balik bersungut-sungut. Ini bukan mobil saya, jadi tidak mungkin memaksanya menuruti permintaan saya untuk menghentikan kendaraan. Padahal saya ingin sekali memberikan pertolongan. Katakanlah saya naïf, tapi saya sungguh-sungguh tidak berpikir panjang. Hanya ingin memberikan pertolongan pertama.

Sepanjang sisa perjalanan, saya terdiam. Pikiran saya terus berkecamuk hingga tiba di rumah. Bertanya-tanya apakah korban kecelakaan itu selamat, mengingat kerasnya ia jatuh dan terguling di jalan? Apakah ada pengendara lain yang sudi berhenti untuk memberikan pertolongan tanpa berpikir akan panjangnya urusan yang mungkin akan ditimbulkan?

Seandainya korban kecelakaan itu adalah orang terdekat atau keluarga kita, dan tak ada seorang pun yang mau memberi pertolongan, apa rasanya? Saya sendiri lebih sering mengendarai sepeda motor – yang saya beri nama Momo – ketimbang mobil jika bepergian seorang diri dengan jarak tempuh yang tak terlalu jauh. Bila terjadi sesuatu pada saya di jalan (nggak minta), dan tidak ada yang mau sekedar membantu saya berdiri dengan alasan takut panjang urusannya… Ah! Miris.

Begitulah. Kadang hati nurani dan tindakan tidak dapat berjalan berdampingan.

 

Kalau Rumpiers, pernahkah mengalami kejadian seperti ini? Apa yang kalian lakukan?

 

 
6 Comments

Posted by on March 8, 2012 in Ngerumpi

 

Love Me Tender

sunset

Dimana aku bagimu?

Pada dada sebelah kiriku. Dekat denyut jantungku.

Padahal rasaku tak pernah sebesar itu padamu.

Tak apa.

Karena kelak kau akan merasa, satu-satunya yang sanggup tulus mencintaimu adalah aku.        

        

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2012 in Ngerumpi

 

Ucapmu adalah Doa

liar

Kota kecil tempat saya tinggal, belakangan ini sedang diresahkan dengan kemunculan beberapa perempuan yang berkeliling meminta sumbangan. Para perempuan tengah baya berpenampilan cukup rapi itu berjalan dari rumah ke rumah, membuka sendiri pagar yang tidak dikunci pemiliknya, bahkan berani mengintip melalui jendela rumah warga.

Sebenarnya bukan sikap lancang mereka yang memasuki kediaman seseorang tanpa permisi, yang menjadi persoalan utamanya. Yah, meskipun itu juga sedikit menimbulkan kekhawatiran. Mengingat sekarang ini banyak hal bisa terjadi. Tapi tujuan mereka itu, lho. Mereka meminta belas kasihan (uang) pada orang lain dengan cara memberitahukan bahwa anak atau ibu mereka – bahkan mereka sendiri – tengah menderita sakit parah. Tumor, kanker, dan penyakit lainnya yang membutuhkan operasi serta dana besar.

Tidak masalah bila yang dikatakannya tersebut memang lah benar. Saya yakin, pasti akan banyak orang yang bersedia menolong. Memberi beberapa rupiah, semampunya. Namun sangat disayangkan, menurut berita yang berkembang, disinyalir mereka itu adalah peminta-minta dengan alasan yang mengada-ada. Menipu. Berharap orang yang mendengarkannya akan jatuh kasihan kemudian memberi sedekah. Kabarnya, mereka sengaja dikoordinir dan diturunkan dari mobil yang mengangkutnya dari kota ke kota dengan membawa “misi” buruk tersebut.

Yang mereka lakukan adalah kebohongan, dan berbohong adalah dosa. Ya, siapa pun pasti mengetahuinya. Namun ada hal yang menurut saya tidak kalah pentingnya, yaitu ucapan adalah doa. Apapun yang kita ucapkan, hendaknya merupakan hal-hal baik dan positif.  Malaikat penjaga akan mencatat perkataan kita dan mengamininya. Bagaimana bila perkataan itu menjadi kenyataan? Anak, ibu, atau bahkan mereka sendiri menderita penyakit berat.

Well, saya sendiri tidak lepas dari kebohongan. Dalam beberapa hal saya pernah berbohong. Tapi untuk mengucapkan alasan tentang “sakit” atau sesuatu yang buruk, saya tidak memiliki nyali. Jaman sekolah dulu, bila tidak mengikuti pelajaran dan harus menyerahkan surat ijin, saya tidak pernah mencantumkan alasan sakit (bila memang tidak sakit). Masih terngiang perkataan almarhumah ibu saya ketika masih kecil, “Jangan bilang yang jelek-jelek. Nanti terjadi sungguhan, lho!” Ya, saya meyakini bahwa ucapan adalah doa yang menanti nomer urut untuk dikabulkan. Maka jagalah lisanmu agar senantiasa dalam kebaikan.

Kalau menurut kalian..?

Gambar diambil dari sini.

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2012 in Ngerumpi

 

Bintang

bintangku,

mungkin terang malam kini sedang meredup. dipenuhi awan yang pekat menutup. mewakili sebuah degup, karna sejatinya ku tak ingin hatimu menguncup. 

kalau boleh sedikit berharap, jangan menghilang kau ditelan kelam. berkelap-kelip lah kembali bagi hati yang kan selalu ada untukmu. aku.

sebab engkau bintangku.

bintang terindah dalam hidupku.

 

 
Leave a comment

Posted by on February 25, 2012 in Ngerumpi