RSS

Category Archives: my memory

Just saying..

(230608-230611 01.30pm)
Tiga tahun berlalu dan begitu banyak hal yang telah terjadi. Selalu ada yang terasa kurang karena engkau tak lagi nyata hadir di tengah-tengah kami. Tapi aku yakin, engkau senantiasa mengawasi dan menyertai kami dari tempat terindah yang kunamakan Surga.
I love and miss you sooooo much, Ma..

Rest in peace.

 
Leave a comment

Posted by on June 23, 2011 in my heart, my memory

 

The Eagle, Sebuah Perjuangan Atas Nama Kesetiaan

Minggu lalu saya diajak oleh seorang teman ke bioskop terbesar di Indonesia, karena memiliki 11 theater. Apalagi kalau bukan Blitz Megaplex Grand Indonesia. Wah, asli keren lho, tempatnya! Ruang tunggunya aja, cozy, apalagi dalamnya, yah? Benar saja, begitu masuk ke dalam theater, saya langsung dihadapkan pada layar yang lebar, pendingin ruangan yang memang dingin, kursi yang lega dan empuk, plus penonton yang hanya segelintir. Saya kemudian menyimpulkan bahwa tempat ini super duper nyaman untuk nonton. Eits! Kok saya bilang penontonnya segelintir? Iya… wong kami nontonnya jam 1 siang, saat semua orang pada sibuk kerja, hihihi… Saya ingat betul, hanya ada empat orang yang menonton film bersama kami. Enam orang, bila kami termasuk dalam hitungan. Duduknya berjauhan pula. Jadi serasa punya bioskop pribadi saja.

Pilihan kami jatuh pada film The Eagle. Film yang sekitar bulan Februari lalu menjadi box office ini, berkisah tentang kesetiaan seorang prajurit terhadap kerajaannya, kesetiaan anak terhadap ayahnya, sekaligus juga kesetiaan seseorang terhadap sahabatnya.

Ceritanya nih, pada tahun 120 Masehi, 5.000 legiun Roma yang perkasa, di bawah komando Flavius Aquila, berbaris menuju utara dengan membawa lambang berharga mereka, Elang emas. Tapi mereka tidak pernah kembali. 20 tahun kemudian, setelah mendengar desas-desus bahwa Elang telah terlihat di sebuah kuil di utara, putra Flavius yang bernama Marcus (Channing Tatum) bertekad untuk mengembalikan reputasi ayahnya. Ditemani oleh seorang budak Esca (Jamie Bell), Marcus kemudian menuju ke dataran tinggi Skotlandia yang berbahaya untuk menghadapi suku liar tersebut, berdamai dengan kenangan akan ayahnya, dan kembali merebut Elang suci. Sepanjang jalan Marcus kemudian menyadari bahwa misteri hilangnya sang ayah mungkin berhubungan dengan identitas budaknya sendiri. Sebuah rahasia yang semakin memuncak ketika keduanya bertatap muka dengan para prajurit Pangeran Seal (Rahim Tahar) yang menakutkan. Wah, seru deh, pokoknya! Teman saya saja sampai menangis terharu melihat ending film ini.

Senang deh, bisa ke Blitz Megaplex itu. Pengennya sih, bisa ke sana lagi untuk nonton film yang lain. Hmm, atau mungkin kapan-kapan nyobain theater 1 nya ya, yang kabarnya telah terdaftar di MURI karena layar terlebarnya.

Lain waktu, gantian aku yang mentraktirmu nonton di situ ya, Teman… :)

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2011 in my heart, my memory

 

Sup yang Siiipppp…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu lalu di suatu siang, saya dan seorang teman memutuskan untuk makan siang di rumah makan seafood sebuah mall di bilangan Thamrin Jakarta Pusat. Teman saya yang baru saja sembuh dari sakit tifusnya, memilih sup ayam asparagus yang terbilang lembut dan tidak pedas sebagai pelengkap menu yang dipilihnya. Kalau saya, lebih memilih sapo tahu untuk mengganjal perut.

Sambil menunggu pesanan datang, kami berbincang dengan asyiknya. Ketika pada akhirnya seorang pelayan mengantarkan pesanan teman saya, kami sedikit tertegun. Dia bertanya pada saya, “Ini kok warnanya merah, ya? Pedes nggak, ya?” Saya mencicipi sedikit dan menjawab, “Nggak, kok. Aman. Mungkin warna merahnya dari warna tomat, atau kepitingnya.” Dengan hati-hati ia mulai menyendokkan sup dan memakannya. “Iya, nggak pedes. Mungkin merahnya warna tomat, kali, ya?” “Iya,” jawab saya.

Baru beberapa sendok ia memakan sup panasnya, seorang pelayan mendatangi kami lagi, dan meminta maaf karena salah mengantarkan sup. Katanya itu sup kepiting. Setelah pelayan itu berlalu, kami sempat saling bertatapan dengan ekspresi terkejut. “Kita tadi pesan apa sih, emangnya?” Tanya teman saya. Sambil mengingat-ingat kembali, saya menjawab, “Eh? Apa ya? Oh iyaaa… Sup ayam asparagus! Lalu kenapa kita diam saja sih, waktu lihat itu isiannya kepiting?” “Hahahaha… Iyaaaaa… Aku lupa tadi pesan apa!” Sahut teman saya seketika dan mencairlah keterkejutan kami selama beberapa menit itu, berganti dengan tawa terpingkal-pingkal yang harus kami tahan sekuat-kuatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Harusnya tadi kakak makannya cepat-cepat, ya? Jadi waktu pelayannya datang untuk narik lagi menu itu, satu mangkuk sup kepiting gratis sudah habis, hihihihi…” Kata saya sambil menahan geli. Ah, maklumlah… pikiran mantan anak kos.

 

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2011 in my laugh, my memory

 

Ketika Si Dudul Bertemu Jenderal (Part 3)

Tak terasa enam purnama pun berlalu. Si Dudul dan Jenderal Go semakin dekat. Mereka kerap berjumpa di tepi telaga di pinggiran hutan, tempat dimana mereka pertama kali bertemu. Di situ mereka berbagi cerita serta tawa. Tak jarang, mereka bermain musik bersama dan Jenderal Go mendendangkan lagu-lagu riang. Di akhir lagu, biasanya Si Dudul akan bertepuk tangan dengan gembira. Ia memang jarang ikut menyanyikan lagu yang sedang didendangkan Jenderal Go. Ia tidak ingin membuat Jenderal Go menghentikan suara merdunya karena tertawa terbahak-bahak mendengarnya bernyanyi. “Bernyanyilah mengikuti irama, Dudul! Jangan nadanya kemana, suaramu kemana seperti itu… hahahaha… Sudah, sudah… kau hanya membuatku sakit perut karena tidak bisa berhenti tertawa mendengar suaramu itu! hahahaha…” Begitu selalu ucap Jenderal Go tiap kali Si Dudul berusaha mengikuti lagu yang dinyanyikan Sang Jenderal. Si Dudul tidak marah. Sebaliknya, ia sangat senang melihat Jenderal Go dapat tertawa lepas seperti itu. Menurutnya, wajah Sang Jenderal semakin terlihat menarik ketika tertawa.

Hari demi hari berlalu, hingga suatu ketika terasa ada yang aneh dalam hati Si Dudul. Tampaknya ia mulai jatuh cinta pada Sang Jenderal. Namun ia pun menyadari perbedaan mereka yang tidak memungkinkan keduanya untuk bersama lebih daripada sekedar teman. Namun dasar nekat, Si Dudul tetap ingin mengutarakan perasaannya pada Sang Jenderal. Hari itu, ketika mereka bertemu di tepi telaga, dikumpulkannya seluruh keberanian hingga pada akhirnya ia dapat mengatakan perasaannya pada Sang Jenderal. Ternyata benar yang ia pikirkan. Jenderal Go tidak menginginkannya. Si Dudul merasa sangat sedih, terutama ketika Jenderal Go kemudian memintanya untuk mengurangi intensitas pertemuan mereka. Ia pun tidak lagi diperkenankan memperhatikan kesehatan Jenderal Go. “Supaya aku tidak terbiasa denganmu,” ujar Sang Jenderal.

Sambil tertunduk lesu, Si Dudul berjalan pulang ke rumahnya. Ia menangis sedih dan bercerita pada ibunya. “Apa arti cinta buatmu, Nak? Apa yang sebetulnya kau inginkan untuk orang yang kau cintai itu?” Dengan penuh kasih, Sang Ibu membelai rambut panjang Dudul yang tertelungkup di pangkuannya sambil menangis. “Aku ingin membuatnya bahagia di sisiku, Ibu. Aku ingin selalu ada untuknya, memperhatikannya, agar ia tak lagi berpura-pura kuat ketika hatinya rapuh menjalani segala sesuatunya seorang diri,” jawab Dudul sambil terisak.

“Lalu apa kau yakin ia juga bahagia bila di sisimu?” Tanya ibunya. “Hmm… entahlah. Aku sering melihatnya tertawa ketika bersamaku, Ibu, tapi tadi ia berkata bahwa ia merasakan sakit setiap kali kami bersama dan menyadari bahwa kami tidak akan mungkin bersatu.” “Nah, apa kau mau ia selalu merasakan kesakitan itu demi keinginanmu untuk memilikinya? Cintamu hanya akan menyakitinya, Anakku… Kalau kau memaksanya, itu hanya akan memuaskan egomu. Buatlah ia berbahagia dengan melepaskannya. Turutilah keinginannya.” “Tapi, Ibu… Aku mencintainya. Sangat mencintainya,” isak Si Dudul makin keras. Dengan lembut Sang Ibu berkata, “Ibu yakin, ia juga mencintaimu. Tapi bila ia memilih untuk menekan perasaannya dengan alasan demi  kebahagiaanmu, tidakkah kau tersentuh melihatnya? Tidak dapatkah kau mencoba melakukan hal yang sama untuknya, Nak…?“ Si Dudul terdiam. Tercipta keheningan selama beberapa saat di antara mereka.

Dengan suara pelan dan berat, Si Dudul akhirnya berkata, “Ya, Ibu, aku akan menuruti keinginannya. Aku sangat mencintainya. Satu-satunya keinginanku adalah membuatnya bahagia. Bila kebahagiaannya adalah bila kami tak lagi bersama, aku akan mengabulkannya. Karena aku hanya ingin melihatnya bahagia…”

 

 


 
Leave a comment

Posted by on April 12, 2011 in my heart, my life, my memory

 

You Know that I Love U

Saya dibesarkan dalam keluarga yang tidak terlalu terbuka dalam menyatakan perasaan sayang secara verbal. Akan terasa sangat janggal ketika kami harus mengutarakan kata ‘aku sayang ….’ kepada anggota keluarga yang lain. Hal ini termasuk dalam hubungan saya dengan mama. Kami tidak pernah saling mengatakan sayang satu terhadap yang lain. Meskipun saya tahu persis, beliau sangat menyayangi saya.

Di saat mengalami sakit dan harus opname di masa kecil saya, saya tahu mama menjaga dan merawat saya dengan sangat baik. Bukan karena pekerjaan mama yang waktu itu adalah seorang tenaga medis, tapi karena mama menyayangi saya. Meskipun tak terucap kata itu sewaktu merawat saya di Rumah Sakit.

Ketika saya beranjak remaja, kami lebih sering berdebat tentang lelaki-lelaki muda yang sering datang ke rumah untuk menemui saya. Mama berpikir mereka tak cukup layak untuk saya, sedangkan saya beranggapan, toh, saya tidak akan menikah besok. Mama cukup ketat menyortir siapa saja teman dekat saya waktu itu, tak peduli apakah saya keberatan atau tidak dengan sikap beliau. Mama tidak pernah bilang, semua ia lakukan karena rasa sayangnya pada saya.

Kemudian tibalah saat dimana “Mr. Right” melamar saya. Semua terasa sangat menyenangkan dan penuh tawa, hingga tiba waktunya saya melakukan prosesi sakramen perkawinan di gereja. Tangis tak terbendung ketika saya sungkem di hadapan mama. Mama pun tak melepaskan peluknya untuk menangis bersama saya. Entah apa yang sebenarnya kami tangiskan pada waktu itu. Mungkin rasa haru yang sangat dalam. Namun lagi-lagi tak ada kata ‘sayang’ dalam momen itu.

Sayapun tidak pernah mengharapkan kata itu keluar dari bibir mama. Karena saya tahu, tanpa kata-katapun, mama PASTI menyayangi saya.

Seminggu sebelum mama dirawat di Rumah Sakit karena stadium kanker ovariumnya yang semakin akut, mama menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat ke telpon selular saya. Isinya, “Mbak, mama sayaaaaaaaaannnnggggg…. sama kamu.”

Dua minggu kemudian, saya berkata, “Ma, aku sayaaaaaaannngggg… sama Mama,” sambil memeluk tubuh kakunya.

(Photo by. Bpk. Budhi Astawa)

 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2010 in my memory

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.