Sekitar tahun 2000, seorang sahabat memberi saya kado ulang tahun satu paket sisir yang berisikan berbagai macam bentuk sisir. Mulai dari sisir kecil dan bisa dilipat, sisir bulat, hingga sisir sasak. Sepertinya ia tahu betul kegemaran saya yang sering menyisiri rambut atau sekedar mengelus dan mencium-cium harumnya. Dari sekian banyak sisir itu, yang paling saya sukai adalah sisir berwarna biru tua dengan bentuk jari-jari yang ‘ramah’ bagi rambut keriting saya. Ujungnya yang tidak menyakiti kulit kepala serta ruasnya yang lentur dan cukup lebar, membuat rambut saya tergerai dengan bebasnya ketika disisir.
Itulah sisir andalan saya selama bertahun-tahun. Beberapa kali saya membeli sisir baru dengan bentuk serupa, namun tidak ada yang sanggup mengalahkan kelembutannya. Ujung-ujungnya, yah… sisir-sisir baru itu hanya menumpuk di meja rias. Hingga suatu hari, CTAKKK…!! Salah satu jari sisir biru itu patah karena tanpa sengaja tertindih tangan. Merasa masih dapat dipergunakan, saya tetap memakainya. Toh, hanya satu jari yang patah. Dipakainya pun masih enak.
Namun sayang, beberapa waktu berselang dan satu per satu jari sisir tersebut patah. Bahkan ada yang sekaligus dua jari. Tak jarang orang-orang terdekat saya mengingatkan untuk segera mengganti sisir. Bukannya saya tidak menghiraukan, saya hanya merasa tidak cocok dengan sisir baru itu. Ada saja alasan yang membuat saya tidak sreg, hingga akhirnya kembali lagi pada sisir biru. Selalu saja begitu. Saya seolah menutup mata bahwa wujud sisir itu sudah tak menarik sama sekali, pun tidak dapat lagi saya pergunakan dengan maksimal karena jarinya yang hilang di sana sini.
Tapi toh, selalu ada waktunya kekerasan hati harus dilunturkan. Minggu lalu saya mematahkan kembali salah satu jari sisir itu, hingga akhirnya kini yang tersisa hanya tinggal tiga jari. Kalau sudah begini, mana bisa digunakan? Sudah waktunya memberi masa pensiun untuk sisir biru itu.
Mau tak mau, saya kemudian mengambil salah satu sisir yang dulu pernah saya letakkan begitu saja di meja rias. Memang awalnya terasa kurang nyaman karena jari-jarinya masih kaku dan ujungnya membuat sakit kulit kepala saya. Namun karena selalu saya pergunakan, lama kelamaan ujung sisir itupun menumpul dan terasa lembut. Mungkin benar adanya, bahwa bila kita mau membuka diri untuk menerima sesuatu yang baru dan sedikit merendahkan hati untuk beradaptasi dengannya, maka yang terjadi selanjutnya adalah keharmonisan.
Kini, tanpa mengurangi rasa terimakasih saya pada sisir biru yang telah mengabdikan dirinya pada saya selama lebih dari sepuluh tahun itu, saya percayakan sepenuhnya kerapian rambut saya pada sisir ungu muda yang baru. Sisir dengan jari-jari yang utuh, tentu saja.






