Membaca adalah salah satu cara untuk membuat kita berhasil menembus batas imaji. Membantu kita untuk mengetahui segala hal yang sebelumnya bahkan tidak pernah kita duga. Dengan membaca, kita dapat membayangkan suasana di belahan dunia lain, atau di era purbakala, atau di angkasa luar misalnya. Bahkan kita dapat menyelami isi hati seseorang hanya dengan membaca. Menyenangkan bukan?
Saya dulu termasuk orang yang memiliki hobi membaca. Saya menyukai segala jenis buku bacaan, namun saya lebih suka buku yang mengekplorasi perasaan manusia. Buku Chicken Soup, misalnya. Saya bahkan sampai mengoleksinya. Setelah membeli dan membawanya pulang, saya akan memberinya sampul plastik dan menyelipkan sebuah pembatas buku di dalamnya. Setelah selesai membaca, akan saya letakkan lagi di dalam lemari buku. Rapi, tapi bukan berarti tidak saya baca. Begitu terus hingga koleksi buku Chicken Soup saya bertambah banyak. Namun itu dulu. Hobi itu terakhir saya sukai sebelum menikah. Entah karena apa alasannya, setelah menikah saya tidak lagi terlalu suka membaca.
Suatu hari bahkan saya dengan teganya menegur teman saya yang membawa-bawa novelnya ketika kami jalan-jalan berdua. Pikir saya sih, dia kan sudah saya temani, jadi kenapa harus ada buku lagi untuk menemani dia? Padahal sebelumnya, dia tidak pernah lepas dari kegiatan membaca.
Mungkin karena gemas, beberapa waktu sesudahnya, ia mengirimi saya enam buah novel yang telah ia baca dengan rekomendasi dua buah novel terbaik (versi dia) di antaranya. Bergegas saya mulai melahap novel itu. Novel pertama habis dalam waktu satu minggu, itupun dengan penuh perjuangan. Beberapa kali ia bahkan harus bertanya pada saya, hari ini sampai halaman berapa. Barangkali dia heran melihat saya yang lama sekali membaca sebuah buku. Ah, seandainya dia tahu berapa lama waktu yang saya habiskan untuk membaca buku kedua yang saya pilih. Buku kedua lebih parah lagi. Dua minggu ini baru terbaca 143 halaman dari jumlah keseluruhan 717 halaman.
GUBRAKKK…!!!
Duh, susahnya menumbuhkan lagi keinginan membaca buku yang setebal bantal itu. Sekarang saya memang lebih suka membaca bacaan yang singkat dan tak membutuhkan waktu lama untuk membacanya. Baca blog, misalnya. Atau baca berita sekilas di situs internet atau dua minggu sekali saya membaca tabloid resep makanan. Ah, tapi sepertinya saya tertantang untuk menumbuhkan lagi budaya membaca. Saya bahkan sudah berjanji kepada teman saya itu, bila kami bertemu lagi, keenam buku yang ia kirimkan untuk saya pasti sudah habis saya baca.
Semoga.










