RSS

Category Archives: my laugh

yang menjadi tawaku

Baca yuk, baca…

Membaca adalah salah satu cara untuk membuat kita berhasil menembus batas imaji. Membantu kita untuk mengetahui segala hal yang sebelumnya bahkan tidak pernah kita duga. Dengan membaca, kita dapat membayangkan suasana di belahan dunia lain, atau di era purbakala, atau di angkasa luar misalnya. Bahkan kita dapat menyelami isi hati seseorang hanya dengan membaca. Menyenangkan bukan?

Saya dulu termasuk orang yang memiliki hobi membaca. Saya menyukai segala jenis buku bacaan, namun saya lebih suka buku yang mengekplorasi perasaan manusia. Buku Chicken Soup, misalnya. Saya bahkan sampai mengoleksinya. Setelah membeli dan membawanya pulang, saya akan memberinya sampul plastik dan menyelipkan sebuah pembatas buku di dalamnya. Setelah selesai membaca, akan saya letakkan lagi di dalam lemari buku.  Rapi, tapi bukan berarti tidak saya baca. Begitu terus hingga koleksi buku Chicken Soup saya bertambah banyak. Namun itu dulu. Hobi itu terakhir saya sukai sebelum menikah. Entah karena apa alasannya, setelah menikah saya tidak lagi terlalu suka membaca.

Suatu hari bahkan saya dengan teganya menegur teman saya yang membawa-bawa novelnya ketika kami jalan-jalan berdua. Pikir saya sih, dia kan sudah saya temani, jadi kenapa harus ada buku lagi untuk menemani dia? Padahal sebelumnya, dia tidak pernah lepas dari kegiatan membaca.

Mungkin karena gemas, beberapa waktu sesudahnya, ia mengirimi saya enam buah novel yang telah ia baca dengan rekomendasi dua buah novel terbaik (versi dia) di antaranya. Bergegas saya mulai melahap novel itu. Novel pertama habis dalam waktu satu minggu, itupun dengan penuh perjuangan. Beberapa kali ia bahkan harus bertanya pada saya, hari ini sampai halaman berapa. Barangkali dia heran melihat saya yang lama sekali membaca sebuah buku. Ah, seandainya dia tahu berapa lama waktu yang saya habiskan untuk membaca buku kedua yang saya pilih. Buku kedua lebih parah lagi. Dua minggu ini baru terbaca 143 halaman dari jumlah keseluruhan 717 halaman.

GUBRAKKK…!!!

Duh, susahnya menumbuhkan lagi keinginan membaca buku yang setebal bantal itu. Sekarang saya memang lebih suka membaca bacaan yang singkat dan tak membutuhkan waktu lama untuk membacanya. Baca blog, misalnya. Atau baca berita sekilas di situs internet atau dua minggu sekali saya membaca tabloid resep makanan. Ah, tapi sepertinya saya tertantang untuk menumbuhkan lagi budaya membaca. Saya bahkan sudah berjanji kepada teman saya itu, bila kami bertemu lagi, keenam buku yang ia kirimkan untuk saya pasti sudah habis saya baca.

Semoga.

 
3 Comments

Posted by on July 14, 2011 in my heart, my laugh, my life

 

Sup yang Siiipppp…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu lalu di suatu siang, saya dan seorang teman memutuskan untuk makan siang di rumah makan seafood sebuah mall di bilangan Thamrin Jakarta Pusat. Teman saya yang baru saja sembuh dari sakit tifusnya, memilih sup ayam asparagus yang terbilang lembut dan tidak pedas sebagai pelengkap menu yang dipilihnya. Kalau saya, lebih memilih sapo tahu untuk mengganjal perut.

Sambil menunggu pesanan datang, kami berbincang dengan asyiknya. Ketika pada akhirnya seorang pelayan mengantarkan pesanan teman saya, kami sedikit tertegun. Dia bertanya pada saya, “Ini kok warnanya merah, ya? Pedes nggak, ya?” Saya mencicipi sedikit dan menjawab, “Nggak, kok. Aman. Mungkin warna merahnya dari warna tomat, atau kepitingnya.” Dengan hati-hati ia mulai menyendokkan sup dan memakannya. “Iya, nggak pedes. Mungkin merahnya warna tomat, kali, ya?” “Iya,” jawab saya.

Baru beberapa sendok ia memakan sup panasnya, seorang pelayan mendatangi kami lagi, dan meminta maaf karena salah mengantarkan sup. Katanya itu sup kepiting. Setelah pelayan itu berlalu, kami sempat saling bertatapan dengan ekspresi terkejut. “Kita tadi pesan apa sih, emangnya?” Tanya teman saya. Sambil mengingat-ingat kembali, saya menjawab, “Eh? Apa ya? Oh iyaaa… Sup ayam asparagus! Lalu kenapa kita diam saja sih, waktu lihat itu isiannya kepiting?” “Hahahaha… Iyaaaaa… Aku lupa tadi pesan apa!” Sahut teman saya seketika dan mencairlah keterkejutan kami selama beberapa menit itu, berganti dengan tawa terpingkal-pingkal yang harus kami tahan sekuat-kuatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Harusnya tadi kakak makannya cepat-cepat, ya? Jadi waktu pelayannya datang untuk narik lagi menu itu, satu mangkuk sup kepiting gratis sudah habis, hihihihi…” Kata saya sambil menahan geli. Ah, maklumlah… pikiran mantan anak kos.

 

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2011 in my laugh, my memory

 

Antara Aku, Kau, dan Raminten

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yogyakarta yang saya kenal adalah sebuah kota dengan sejuta kisah, sejuta kenangan, sekaligus juga sejuta makanan. Mulai dari nasi bungkus seukuran sekepal tangan anak kecil yang berlaukkan sepucuk sendok sambal teri dan ditata di angkringan, sampai dengan makanan manca negara a la resto yang disajikan di hotel mewah, semua tersedia. Atau mau cari tempat makan serupa kafe dengan pengunjung mayoritas anak-anak muda? Banyak.

Khusus yang terakhir ini, saya selalu suka aura khas yang tercipta ketika memasuki tempat makan seperti itu. Bukan karena pemandangan Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2011 in my laugh

 

Salah Saran

Suatu hari, Joni bertamu ke rumah Rahmat sahabatnya sejak dari SMA. Perawakan Rahmat masih cungkring kurus kering seperti dulu waktu SMA. Sedangkan Joni sendiri sudah menjadi gemuk dalam urusan perut, pertanda bahwa sudah sukses dalam pekerjaannya.

Joni : “Gimana kabarmu, Mat?”

Rahmat : “Ya tetep begini-begini aja. Seperti yang kamu lihat ini…”

Joni : “Lha gimana sih? Harusnya itu kalau kerja yang serius!! Supaya bisa dapet uang banyak!!”

Rahmat : “Sebenernya kalau masalah kerja, aku udah serius, tapi apa daya, aku masih tetap kekurangan. Istriku juga masih sering ngomel…”

Joni : “Jaman sekarang itu kalau kerja jujur itu gak bakal dapat apa-apa!! Gak bakal bisa nyukupin kebutuhan sehari-harimu!”

Rahmat : “Maksudnya?”

Joni : “Begini, aku beri tahu rahasianya ya? Contohnya aku, kerjaanku cuman kecil-kecilan di kantor, tapi gimana caranya supaya aku bisa dapat uang tambahan buat ngecukupin kebutuhan sehari hari. Maka dari itu, hidupku skeluarga bisa kecukupan. Gak kayak kamu.”

Rahmat : “Emang caranya gimana, Jon?! Aku ajarin dong, supaya bisa makmur kayak kamu sekarang. Kalau aku cuma berharap dari bosku sekarang juga gak mungkin cukup!!”

Joni : “Caranya gampang banget, Mat. KORUPSI. Coba dulu, kecil-kecilan saja. Kecil-kecilan supaya tidak ketahuan.”

Rahmat : “KORUPSI??!!! Gila kamu??!!”

Joni : “Iya! kaya yang di TV itu lho. Orang-orang kelas atas kan, korupsinya gede-gede tuh. Nah, kita-kita yang kecilan saja. Kalau aku biarpun kecil, tapi bisa nyukupin kebutuhan sekeluarga… Ayo, kamu mesti bisa kok. Inget lagi kebutuhanmu yang jauh dari kata ‘terpenuhi’…”

Rahmat : “Bentar dulu, Jon. Sebenarnya aku setuju dengan usulmu yang satu ini. Tapi masalahnya, aku gak bakal bisa deh, kalo mau korupsi di tempat kerjaan…”

Joni : “Kok bisa?! ada apa gerangan??! Emang pengawasan di kantormu ketat?? Udah ada yang ketahuan korupsi?? Atau diawasin sama KPK??”

Rahmat : “Bukan masalah itu…”

Joni : “Terus?? Masalah apa lagi yang kamu pusingin??”

Rahmat : “Aku ini kerjaannya ikut orang, jasa sedot tinja. Nah kalo begitu, apaan yang mau dikorupsi??!! Tiap hari ane ngubek-ubek tinja orang.”

Joni : “???”

 
7 Comments

Posted by on March 24, 2010 in my laugh

 

Salah Sendiri…

semut hitam

 

Tadi pagi tidak sengaja saya menginjak seekor semut hitam yang lumayan besar. Semut itu tidak mati, tapi malah balas menggigit saya. Clekiiiitttt…!! Rasa panas dan sakit membuat saya refleks mengangkat kaki kiri saya. Tak lama kemudian timbul bentolan keras berwarna merah dan gatal di area yang digigit semut itu, yang membuat saya mengomel kesakitan.

Suami saya yang melihat kemudian bertanya, “Ada apa?” “Ini, ada semut keinjek. Nggak terima, aku malah digigit,” aku mengadukannya pada suamiku. “Tenang… Semut itu ya, habis nggigit pasti langsung mati,” lanjutnya dengan mimik muka yang serius. “Hah? Beneran? Bukannya Cuma tawon yang habis nyengat langsung mati?” tanya saya keheranan. Latar belakang pendidikan dan pekerjaannya yang berkutat dengan serangga dan sejenisnya, membuat saya mempercayainya. “Bener. Nggak percaya? Mana semutnya? Kita lihat apa semut itu mati habis nggigit kamu,” tantangnya.

Saya segera menunjukkan semut tertuduh yang telah menggigit saya tadi. Suami saya mendekati semut itu dan… theeessss, dia menekankan ibu jarinya pada semut itu hingga membuat si semut langsung mati di tempat. “Nah, kan? Apa kubilang? Semut pasti langsung mati setelah nggigit,” ujarnya puas.

Saya hanya bisa bengong…

 

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2010 in my laugh

 

Beruang Mana Ya, Yang Mau Diambil Susunya?

bear

Beberapa hari yang lalu, saya merasa tidak enak badan. Mungkin karena musim hujan, ya? Tenggorokan terasa agak sakit dan badan sedikit meriang. Kebetulan ketika saya mampir ke sebuah supermarket, saya membeli susu dengan merk yang bergambar beruang. Saya menyebutnya susu beruang. Saya sih, tidak begitu paham cara kerjanya, memang berkhasiat ataukah hanya sugesti. Yang penting ada hasilnya, kan, ya?

Dalam perjalanan pulang, saya sempatkan untuk langsung membuka kalengnya dan meminum susu itu. Suami saya bertanya, “Minum apa, Say?” ya, saya jawab, dong, “Susu beruang. Lagi nggak enak badan, nih. Biasanya sih, bisa langsung terasa efeknya.” Seketika itu juga dia menoleh pada saya dengan pandangan mata keheranan yang membuat saya hampir terbahak melihatnya. “Seperti apa rasanya?” tanya dia kemudian. “Ya, kayak susu biasa,” jawab saya. Dia langsung memintanya dari saya untuk dia cicipi rasanya. “Hmm… rasanya kayak susu sapi, ya? Beruang mana yang bisa diambil susunya itu?” tanya dia lagi. Dia bukanlah orang yang suka bercanda dengan mimik muka seserius itu. Dan saya tahu persis, dia tidak sedang bercanda. Dia benar-benar mengira itu susu yang diambil dari seekor beruang!

Memang sih, dia lelaki yang tidak terlalu tahu macam barang belanjaan. Dia lebih suka mempercayakan pada saya tentang asupan yang dia konsumsi. Dan lagi, saya tidak pernah memberikan susu itu kepadanya karena dia tidak terlalu suka susu yang hambar. Saya maklumi saja kekagetannya tadi, karena memang dia tidak tahu.

Setelah saya menjelaskan padanya bahwa susu yang saya minum itu adalah susu sapi biasa yang disterilkan, diapun ikut tertawa terbahak-bahak bersama saya.

 
4 Comments

Posted by on February 6, 2010 in my laugh

 

“Halah, Mbak, ribet ngomong sama kamu…!”

Saya ini perempuan yang kadang riwil, ceplas-ceplos, dan kurang mudheng sikon kalau bicara. Apalagi kalau lawan bicara saya adalah orang membuat saya nyaman untuk ngobrol dan memiliki sifat yang  sama pula dengan saya. Uhh..  bisa betah, deh.

Celakanya, ketika saya menyadari keceplas-ceplosan saya, biasanya saya lalu jadi sensitif. Merasa tidak enak dan sungkan berlebihan. Efek dari rasa menyesal yang tak terhingga. Setiap perubahan dari orang itu akan membuat saya khawatir, jangan-jangan dia masih jengkel atau tersinggung dengan saya. Ah, bodohnya saya, berbicara tanpa berpikir lebih dulu.

Saat iseng-iseng ngobrol di YM, saya pernah bertanya pada seorang teman (precil) saya. “Eh,  kalo aku bikin salah, sampe temenku marah, kira-kira dimaafin ga, ya?” Dia menjawab dengan pertanyaan lagi, “Marah kenapa?” “Ceritanya nih, aku lagi bikin salah. Salah omong yang mungkin bikin temanku tersinggung.” “Udah minta maaf, belum?” “Udah.” “Udah dimaafin, belum?” “Udah. Kemarin juga keliatannya biasa-biasa aja.” “Ya udah, berarti dia udah gapapa.”

Diam.

“Tapi, kan…” saya melanjutkan. “Napa?” “Sikapnya kok, lain?” “Lain gimana?” “Kayak menghindar, gitu.” “Ya, masih sebel sama kamu kali, Mbak? Emang salah ngomong apa, sih?” “Ada, deh! Urusan orang dewasa.” “Ya udah, kalo ga mau kasih tau.” “Ya, memang ga mau kasih tau.”

Diam.

“Ntar kalo dia menghindar beneran, gimana? Aku kan, ga enak.” “Biarin aja sampe ilang sebelnya, Mbak.” “Hmm… Udah sempet kutanya sih, kenapa sikapnya berubah.” “Trus, jawabnya?” “Ya gitu deh, tiap perubahan sikapnya dia bisa kasih alasannya.” “Ya udah, mungkin memang bener gitu, kali?” “Apa perlu kutanya lagi, ya, apa bener dia maafin aku?” “Mbak, Mbak… Aku dulu pernah punya temen yang aku delete id YM-nya gara-gara ga percaya kalo udah aku maafin. Nguber-nguber terus, kayak kamu gini. Kalo kamu dibilang udah dimaafin, berarti ya udah dimaafin. Soal alasannya yang lain-lain itu, ya memang mungkin bener gitu. Jangan banyak berprasangka gitu, deh.””Tapi kan, aku jadi nggak enak, kalo memang dia masih marah. Mending dia bilang aja terus terang,  jadi aku bisa jaga sikapku.” “Iya, mestinya terus terang aja. Kebanyakan basa-basi, sih. Kalo aku, sih, udah kubilang aku ga suka sama kamu, Mbak.” Buseeettttt…

“Tapi…” “Apa lagi?” “Trus gimana perbaikinya?” “Apanya? Kan, kamu udah dimaafin, Mbak.” “Iya, sih… Tapi sikapnya itu, lho… Jadi lain.” “Halah, Mbak, ribet ngomong sama kamu…!”

Dan YM-pun terputus karena dia harus mengantar adiknya.

 
3 Comments

Posted by on January 29, 2010 in my laugh

 

Kisahku dengan Si Kerupuk

Membicarakan kerupuk di komentar posting si kwaci antik, saya jadi ingat kejadian beberapa minggu yang lalu.

Saya adalah salah seorang penggila kerupuk. Sehari saja tanpa mengunyahnya, seperti hidup tak tentu arah (lebaiiiiii…. hehehe). Sudah jadi kebiasaan saya untuk membelinya dan menjadikannya salah satu menu pendamping yang wajib ada di meja makan.

Seperti juga hari itu.

Saya kebetulan sedang berbelanja di sebuah pasar tradisional di kota saya. Setelah belanja ini itu, tujuan terakhir adalah kerupuk yang dibungkus plastik panjang. Berhubung saya ke pasar mengendarai sepeda motor, maka tidak semua barang belanjaan saya bisa saya gantungkan di gantungan motor. Yang tidak mendapat tempat adalah si kerupuk.

Jadilah kemudian saya menyimpannya di balik jaket, di bagian dada. Belum sempat saya lajukan motor saya, terdengarlah celetukan dari arah kanan saya, dimana banyak abang becak berkumpul menunggu penumpang.

“Aku yo, gelem, mbak, dadi krupuk’e.”

Yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia, “Saya juga mau, mbak, jadi krupuknya.”

Errrrrrgggghhhhhh……!!!

@ ! % $ & # ?

 
4 Comments

Posted by on January 27, 2010 in my laugh

 

Siapa Bilang Bawa Laptop itu Keren?

Hari itu suami saya minta tolong untuk diantar ke kantor karena hendak pergi ke luar kota bersama temannya. Jadi, mobil saya bawa pulang kembali. Ketika dia melangkah keluar mobil, dia bilang, “Laptopnya tolong dibawa pulang saja sekalian, say. Hari ini aku nggak pakai.” Antara ya dan tidak, saya meng-iyakan. Rencananya setelah mengantar dia ke kantor, saya harus ke pasar. Stok dalam lemari es sudah waktunya diisi ulang. Bagaimana saya bisa belanja, kalau dipasrahi laptop? Ngomel? Pasti. Kenapa juga laptop dibawa, kalau memang hari itu tidak diperlukan. Tapi ngomelnya ya, di dalam hati, hehehe..

Sesampai di pasar, saya yang tidak tega meninggalkan laptop di dalam mobil, akhirnya memutuskan untuk mengajaknya mencium hawa pasar tradisional. Daripada si laptop diculik orang?

Tujuan pertama: toko kelontong yang menjual bahan-bahan kering untuk dapur. Karena teringat kecap manis yang sudah titik darah penghabisan di atas meja makan, maka order pertama adalah kecap manis. “Bu, kecap manisnya ada?”, tanya saya sambil menyebutkan sebuah merk kecap manis. Dengat semangat, si penjual menjawab, “Wah, masih banyak, mbak. Baru aja kemarin dikirim.” Saya sempat terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya mudheng juga. WHATT…??? Ibu itu mengira saya sales kecap manis!! Katanya gara-gara dia melihat saya nyangklong tas laptop ala sales. GUBRAKKK..!!

Setelah memberi penjelasan ala kadarnya, yang membuat ibu itu senyum-senyum sambil minta maaf, sayapun memilih untuk langsung ngacir pulang. Komplit dengan rasa dongkol, malu, sekaligus menahan tawa. Acara belanjapun akhirnya batal dengan sukses. Daripada tiap masuk ke lapak, dikira sales..??

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in my laugh

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.