Perempuan itu lagi. Mungkin sudah tiga, ah, atau empat senja ini aku melihatnya di tempat yang sama. Sebuah bangku taman di seberang kolam angsa. Ia seolah tak terganggu dengan orang yang lalu lalang. Raut wajahnya bahkan tak dapat menjelaskan apa yang sedang berlompatan dalam benaknya. Berkali-kali ia menggesekkan kedua telapak tangan kuat-kuat pertanda dingin mulai menyusup di pori-pori kain jaket tebalnya. Setelah bulan menggigit malam serta satu persatu lampu taman berpendar, perlahan perempuan itu bangkit sembari mengibaskan bagian belakang pakaiannya. Ia berlalu begitu saja.
Senja ini ia datang kembali. Benakku tergoda untuk bertanya, apa yang sesungguhnya ia lakukan? Mengapa ia datang hanya ketika matahari mulai tergelincir lalu pergi tanpa ada yang dibawa serta?
Ragu kulangkahkan kaki menghampirinya. “Boleh saya duduk di sini?” tanyaku canggung.
Ia mendongak, menatapku dengan tatapan aneh. Oh, Demi Tuhan, ia bahkan lebih indah bila dipandang dari jarak sedekat ini. “Ya, duduklah.”
Tak lama setelah ruang kosong di sisinya kuisi, seketika itu pula, mengalirlah rangkaian kata yang bahkan terlalu basi untuk mencairkan kebekuan yang telah diciptakan oleh sang alam.
Menikmati senja, itu alasannya mengapa ia betah berdiam di sini meski udara membekukan tulang.
“I’m Nad. What’s your name?” sambil tersenyum hangat kuulurkan tangan mengajaknya berkenalan.
“Perlu?” jawabnya datar.
“Ha? Mhh, maaf… maksudnya?” kutarik kembali uluran tanganku yang tak bersambut. Heran.
“Perlu sekalikah untuk mengetahui namaku?”
“Ngg… tidak juga. Ya sudahlah, yang penting kamu tahu namaku Nad. Tidak masalah,” jawabku ringan. Dan ia pun tersenyum.
Entah berapa senja berlalu setelahnya. Sejak saat itu Perempuan Tanpa Nama, begitu aku menyebutnya, menjadi bagian dari setiap senja yang kutingkahi. Kini bukan hanya hening yang menemani kami. Senja semakin penuh dengan gelak tawa, desah merengut, serta jemari yang terpaut. Mencoba bergumul dengan waktu, hingga malam terpagut.
Sekali lagi kuhabiskan senja bersama Perempuanku. Lelah tertawa. Kepalanya menyandar di dadaku. Tak menunggu lama, kubelai lembut rambut Perempuanku. Aroma harum penguat rindu menguar dari sela jemariku.
“Siapa sesungguhnya namamu?” bisikku. Aku tahu tanyaku takkan terjawab. Tapi setidaknya aku memiliki harap.
“Masih juga kau tanyakan. Apa pentingnya untukmu?” Ia menggeliat gelisah.
Cepat-cepat kugamit lengannya. “Ya, ya… Maaf. Takkan kutanyakan lagi. Don’t leave me, please?” ucapku memohon.
Kutepati janjiku. Tak pernah sekalipun kutanyakan namanya lagi. Aku hanya mencoba nikmati setiap detik yang berlalu tanpa jeda dalam setiap senja bersama Perempuanku. Yang bahkan tak kuketahui namanya.
*****
“Bukakan pintu, bukakan pintu! Cepaaatttt…!!! Tolonglah, biarkan aku keluar menemuinya!” teriakku panik. Ruang apa ini? Mengapa aku terkunci di ruangan ini? Padahal sekarang sudah hampir senja dan Perempuanku pasti telah menunggu di bangku taman itu. Aku tak ingin membiarkannya menantiku hingga tubuhnya menggeletar menahan dingin. Aku tak ingin Perempuanku berlalu dan meninggalkanku. Aku tak mau kehilangan Perempuanku.
Tuk tak tuk tak… Kutempelkan telingaku di daun pintu. Ada langkah sepatu mendekat. Aku mundur tiga langkah ketika anak kunci diputar perlahan. Pintu terbuka, dan… Hei, Perempuanku datang! Entah dari mana ia tahu aku berada di sini. Tapi siapa dua orang lelaki tegap yang sedang bersamanya itu?
“Sayang…” aku menghambur tak sabar ingin memeluk Perempuanku. Namun tiba-tiba aku merasakan hentakan kuat dua lelaki tersebut, menarikku menjauh dari Perempuanku. Mereka mencengkeram kuat-kuat kedua lenganku.
“Tenang ya, Pak. Tenang…” Perempuanku mendekat dan berkata dengan lembut. Ah, suaranya memang selalu berhasil menenangkan dentuman keras di dadaku. Kini tubuhku terasa lebih ringan. Aku digandengnya ke taman dengan kolam angsa, tempat kami biasa mencuri senja.
Samar terdengar Perempuanku berkata-kata pada kedua lelaki yang bersamanya. Ah, aku tak peduli apa yang mereka bicarakan. Yang penting sekarang aku dapat menikmati senja bersama Perempuanku.
“Tolong terus dipantau setiap satu jam sekali, ya? Kalau kondisinya belum juga membaik, kita tambah dosis injeksinya.”
“Baik, Dok,” jawab kedua lelaki itu bersamaan.









