RSS

Category Archives: fiction

Perempuan Tanpa Nama

Perempuan itu lagi. Mungkin sudah tiga, ah, atau empat senja ini aku melihatnya di tempat yang sama. Sebuah bangku taman di seberang kolam angsa. Ia seolah tak terganggu dengan orang yang lalu lalang. Raut wajahnya bahkan tak dapat menjelaskan apa yang sedang berlompatan dalam benaknya. Berkali-kali ia menggesekkan kedua telapak tangan kuat-kuat pertanda dingin mulai menyusup di pori-pori kain jaket tebalnya. Setelah bulan menggigit malam serta satu persatu lampu taman berpendar, perlahan perempuan itu bangkit sembari mengibaskan bagian belakang pakaiannya. Ia berlalu begitu saja.

Senja ini ia datang kembali. Benakku tergoda untuk bertanya, apa yang sesungguhnya ia lakukan? Mengapa ia datang hanya ketika matahari mulai tergelincir lalu pergi tanpa ada yang dibawa serta?

Ragu kulangkahkan kaki menghampirinya. “Boleh saya duduk di sini?” tanyaku canggung.

Ia mendongak, menatapku dengan tatapan aneh. Oh, Demi Tuhan, ia bahkan lebih indah bila dipandang dari jarak sedekat ini. “Ya, duduklah.”

Tak lama setelah ruang kosong di sisinya kuisi, seketika itu pula, mengalirlah rangkaian kata yang bahkan terlalu basi untuk mencairkan kebekuan yang telah diciptakan oleh sang alam.

Menikmati senja, itu alasannya mengapa ia betah berdiam di sini meski udara membekukan tulang.

I’m Nad. What’s your name?” sambil tersenyum hangat kuulurkan tangan mengajaknya berkenalan.

“Perlu?” jawabnya datar.

“Ha? Mhh, maaf… maksudnya?” kutarik kembali uluran tanganku yang tak bersambut. Heran.

“Perlu sekalikah untuk mengetahui namaku?”

“Ngg… tidak juga. Ya sudahlah, yang penting kamu tahu namaku Nad. Tidak masalah,” jawabku ringan. Dan ia pun tersenyum.

Entah berapa senja berlalu setelahnya. Sejak saat itu Perempuan Tanpa Nama, begitu aku menyebutnya, menjadi bagian dari setiap senja yang kutingkahi. Kini bukan hanya hening yang menemani kami. Senja semakin penuh dengan gelak tawa, desah merengut, serta jemari yang terpaut. Mencoba bergumul dengan waktu, hingga malam terpagut.

Sekali lagi kuhabiskan senja bersama Perempuanku. Lelah tertawa. Kepalanya menyandar di dadaku. Tak menunggu lama, kubelai lembut rambut Perempuanku. Aroma harum penguat rindu menguar dari sela jemariku.

“Siapa sesungguhnya namamu?” bisikku. Aku tahu tanyaku takkan terjawab. Tapi setidaknya aku memiliki harap.

“Masih juga kau tanyakan. Apa pentingnya untukmu?” Ia menggeliat gelisah.

Cepat-cepat kugamit lengannya. “Ya, ya… Maaf. Takkan kutanyakan lagi. Don’t leave me, please?” ucapku memohon.

Kutepati janjiku. Tak pernah sekalipun kutanyakan namanya lagi. Aku hanya mencoba nikmati setiap detik yang berlalu tanpa jeda dalam setiap senja bersama Perempuanku. Yang bahkan tak kuketahui namanya.

*****

“Bukakan pintu, bukakan pintu! Cepaaatttt…!!! Tolonglah, biarkan aku keluar menemuinya!” teriakku panik. Ruang apa ini? Mengapa aku terkunci di ruangan ini? Padahal sekarang sudah hampir senja dan Perempuanku pasti telah menunggu di bangku taman itu. Aku tak ingin membiarkannya menantiku hingga tubuhnya menggeletar menahan dingin. Aku tak ingin Perempuanku berlalu dan meninggalkanku. Aku tak mau kehilangan Perempuanku.

Tuk tak tuk tak… Kutempelkan telingaku di daun pintu. Ada langkah sepatu mendekat. Aku mundur tiga langkah ketika anak kunci diputar perlahan. Pintu terbuka, dan… Hei, Perempuanku datang! Entah dari mana ia tahu aku berada di sini. Tapi siapa dua orang lelaki tegap yang sedang bersamanya itu?

“Sayang…” aku menghambur tak sabar ingin memeluk Perempuanku. Namun tiba-tiba aku merasakan hentakan kuat dua lelaki tersebut, menarikku menjauh dari Perempuanku. Mereka mencengkeram kuat-kuat kedua lenganku.

“Tenang ya, Pak. Tenang…” Perempuanku mendekat dan berkata dengan lembut. Ah, suaranya memang selalu berhasil menenangkan dentuman keras di dadaku. Kini tubuhku terasa lebih ringan. Aku digandengnya ke taman dengan kolam angsa, tempat kami biasa mencuri senja.

Samar terdengar Perempuanku berkata-kata pada kedua lelaki yang bersamanya. Ah, aku tak peduli apa yang mereka bicarakan. Yang penting sekarang aku dapat menikmati senja bersama Perempuanku.

“Tolong terus dipantau setiap satu jam sekali, ya? Kalau kondisinya belum juga membaik, kita tambah dosis injeksinya.”

“Baik, Dok,” jawab kedua lelaki itu bersamaan.

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in fiction, my heart

 

Burung Malam dan Bulan

Suatu malam di tengah hutan, terdengar isakan tertahan. Seekor burung malam yang sedang beristirahat di pucuk ranting mengarahkan pandangannya ke sekitar. Tak nampak siapapun di situ. Siapa yang sedang menangis, pikirnya. Burung itu lalu terbang ke pucuk ranting pohon yang lain. Ia menajamkan pendengarannya dan suara isakan itu terdengar semakin jelas. Suara itu berasal dari suatu tempat di atasnya.

Burung Malam mendongakkan kepalanya. Ia melihat Bulan sedang murung. Ia lalu terbang mendekati Bulan dan bertanya, “Hai, sedang apa kau, Bulan? Mengapa engkau menangis? Langit menjadi muram karena tangisanmu.” Bulan yang terkejut oleh sapaan Burung Malam, menghentikan tangisnya dan menjawab, “Aku kesepian. Sepanjang malam aku hanya sendiri di sini. Bintang tak kunjung datang karena terhalang awan.” Burung Malam merasa iba melihat Bulan. Ia kemudian mencari pucuk pohon tertinggi dan berdiam di situ.

“Jangan bersedih lagi. Aku akan menemanimu di sini hingga kau bertemu dengan Bintang,” ujar Burung Malam. Sejak saat itu, setiap malam Burung Malam terbang ke ujung ranting tertinggi untuk bercengkrama dengan Bulan. Ia sering menyanyikan lagu-lagu merdu untuk Bulan. Malam demi malampun berlalu, dan Bulanpun tak lagi kesepian. Ia mendapatkan kawan yang menemani malam-malam sunyinya. Perlahan tapi pasti, Bulan jatuh hati pada Burung Malam. Ia selalu menantikan saat-saat dimana ia dapat berjumpa dengan Burung Malam. Hanya ketika Burung Malam ada, ia dapat tersenyum. Bulan semakin bersinar karenanya, hingga malam terlihat semakin benderang.

Suatu malam, Bulan berkata kepada Burung Malam, “Burung Malam, aku mencintaimu. Maukah engkau tetap tinggal di sisiku?” Burung Malam tertegun mendengarnya. Pelan ia menjawab, “Aku tak dapat mencintaimu dengan rasa yang sama seperti yang kau miliki terhadap aku. Kau tak bersuara merdu yang dapat memikat hatiku, kau tak dapat terbang membelah angin bersamaku, kita bahkan tak dapat bersisian di pucuk ranting ketika siang datang. Karena begitu Mentari menggantikan tempatmu, kau akan menghilang meninggalkan aku. Kau hanya kesepian. Kelak ketika Bintang menghampirimu, kau akan segera melupakan aku.”

Bulan terdiam. Sinarnya meredup. Ia sangat terluka ketika mendengar jawaban Burung Malam. “Kupikir rasa itu juga mendiami hatimu. Burung Malam, dengarlah. Aku memang tak bersuara merdu, namun aku menjauhkan langit kelam hingga engkau dapat bernyanyi dengan riang tanpa risaukan hujan. Aku memang tak dapat kepakkan sayap bersamamu, namun aku selalu menerangimu dengan cahayaku kemanapun kau ingin terbang. Mentari memang muncul dan melenyapkan sosokku, namun tak jarang aku melawan panasnya yang membakar hanya sekedar untuk memandangmu dalam lelap. Kaupun lihat sendiri, Gemintang sering datang menerangi malamku, tapi aku tetap merindukanmu. Aku selalu mengharapkan kehadiranmu di pucuk ranting itu.” Burung Malam hanya dapat terdiam.

Malam setelahnya, Burung Malam tak datang. Esok malamnyapun ia tak menampakkan diri di pucuk ranting. Burung Malam tak pernah lagi datang. Bulanpun berhenti bersinar. Hujan terus berganti dengan mendung pekat yang menyelimuti malam. Tak nampak lagi langit malam yang cerah.

Hingga di suatu malam yang basah, Burung Malam terbang kelelahan setelah menembus rinai hujan dan segera mencari pucuk ranting tertinggi yang dapat ditemukannya. Ia merindukan cerahnya Bulan yang pernah menerangi malam-malamnya. Sesungguhnya ia berusaha melawan rasa yang juga tumbuh dalam hatinya, sebelum Bulan mengatakannya. Ia merasa malu bila terlihat oleh kawanannya ketika sedang menemani Bulan yang tak bersuara merdu seperti mereka. Namun tak dapat dipungkiri, sesungguhnya Burung Malam menyayangi Bulan.

Setibanya di pucuk ranting, Burung Malam menyenandungkan kicauan merdu yang biasa ia lakukan ketika melewatkan malam bersama Bulan.  Ia berharap Bulan mendengarnya. Tak berapa lama, mendung tersibak perlahan-lahan. Bulan mulai menampakkan dirinya malu-malu. “Engkaukah itu, Burung Malam?” tanya Bulan meragu. “Ya, ini aku, Bulan. Tampakkan dirimu, sinarilah aku. Karena sesungguhnya aku tak bisa lewati malam tanpa dirimu,” ujar Burung Malam. Bulan tersenyum dan menampakkan sinar tercerahnya.

Sejak itu tak pernah ada lagi malam yang muram dan Bulan yang tersaput awan. Tak pernah ada lagi malam yang sunyi karena selalu ada Burung Malam yang berkicau merdu. Bulan selau mendekap hangat Burung Malam dalam cahaya lembutnya, dan sebaliknya Burung Malam selalu dapat menghadirkan senyum Bulan. Mereka saling mencintai dengan caranya sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2011 in fiction, my heart, Ngerumpi

 

Ssttt…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ssttt.. Jangan bilang siapa-siapa.

Jangan biarkan orang lain tau. Bisikmu.

Taukah kau, aku tak bisa menyimpanmu rapat-rapat dalam sekat hatiku.

 

Ssttt.. Bungkamlah mulutmu.

Sumpallah dengan segala memori tentang kita.Desismu.

Ah, kau selalu tak pernah mengerti apa inginku.

 

Ssttt.. Sudahlah!

Kubur saja mimpimu yang semu dan tak berujung. Bentakmu.

Dan isakku tak lagi dapat mendatangkan pelukmu.

 

Akupun menyerah.

Berilah aku kecupan terakhir. Pintaku.

Yang terakhir? Tanyamu meragu.

Ya, terakhir. Untukku. Untukmu.

 

Sungguh, kubungkam bibirmu dalam segala nafsu memburu.

Sungguh, kulumat bibirmu atas nama kenangan yang tersisa.

Sungguh, kuhisap bibirmu hingga meluaplah nyawamu.

 

Dan kucumbui kau, sementara belati kutancapkan di jantungmu.

 

 

 

Ssttt.. Jangan banyak bergerak.

Akan kuambil hatimu untuk kusimpan sendiri.

Kupastikan takkan ada yang tau.

 
14 Comments

Posted by on November 13, 2010 in fiction

 

Hujan dan Kau

Lagi-lagi hujan, Jo. Entah berapa kali sudah kau datang dan pergi dengan dikawal air dari Surga itu.

Seperti kemarin, lewat sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku, dari nomer yang tak kukenal. “Sedang apa? Gimana kabarmu?” Entah dari mana asalnya, jantungku berdetak tak karuan. Aku kenal rasa ini. Aku kenal pertanda ini. Aku bisa merasakan kehadiranmu, Jo. Tiga hari berturut-turut sebelum ini, aku bahkan sedang memikirkanmu. Memikirkan segala pertanda alam yang selalu menunjuk pada namamu. Kuhapus, muncul lagi. Kuhapus, muncul lagi… Selalu begitu, Jo.

Bertahun-tahun menghilang, ternyata tak cukup membuatmu benar-benar lenyap. Aku tak tahu, energi apa yang membuatmu sepertinya tak pernah lelah untuk selalu mencariku, sedangkan jawabanmu tak pernah cukup memuaskanku. Apa yang kauharapkan dariku, Jo? Tidakkah kau lelah dengan semua fatamorgana ini?

Aku sendiri telah lelah, Jo. Lelah mengikuti permainanmu. Membiarkan senyum dan bisikanmu mengaduk-aduk hatiku. Kau remukkan, lalu merekatkannya lagi. Kau remukkan, dan kau rekatkan lagi… Begitu terus berulang kali. Bahkan mungkin darah takkan kau temukan, Jo, bila kau masih ingin membelah hatiku dan mencacahnya menjadi serpihan-serpihan yang tak terpungut.

Kini kau bertanya padaku, setelah kuungkapkan semua resah dalam hati, “Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk kebaikanmu?” Bibirku terkatup erat. Aku tahu persis jawaban apa yang harus kuucapkan. Tapi Jo, kaupun tahu. Aku sungguh tak pernah sanggup mengatakannya.

Ah, lagi-lagi hujan yang tak seharusnya ada di bulan Juni, datang menemaniku. Menegaskan kehadiranmu…

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2010 in fiction

 

Takkan Lelah Kumenanti

shy

Hujan bulan April belum lagi usai. Hembusan angin dingin yang membekukan tulang tiba-tiba menyergapku, membuatku merapatkan sweater di tubuh. Kursi besi yang kududuki berderit mengikuti irama kaki yang kugoyang-goyangkan untuk mengusir rasa kantuk. Bau karat kursi ini menyeruak ke dalam lubang hidungku, bergantian dengan aroma tanah basah.

Sudah 15 menit berlalu dari jadwal kereta senjanya. Mestinya sekarang ia sudah hangat berada dalam dekapanku. Kulirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Tak sabar rasanya menunggunya. Petugas stasiun yang sempat kutanya, tak memberi jawaban yang memuaskanku. Senja di stasiun kota kecil ini terasa sepi. Membuatku makin gelisah.

Kuhisap rokokku dalam-dalam.

“Mas, bisa pinjam korek apinya?” Seorang perempuan dengan payung menutupi separuh wajahnya tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Aku hanya diam dan mengulurkan korek apiku kepadanya. “Boleh saya duduk di sini?” Aku hanya mengangguk dan menerima korek apiku kembali. Tak sengaja aku menyentuh tangannya. Dingin, seperti tercelup sebaskom es batu. Penasaran, kukerlingkan mataku ke arahnya. Kulihat ia sedang melipat payungnya. Perempuan usia sekitar akhir 30 dengan wajah yang tampak muram, sedikit pucat, namun sungguh menawan. Di tengah kabut dan hawa sedingin ini, dia hanya memakai gaun terusan tipis selutut berwarna hitam. Pantas saja tangannya beku, pikirku.

“Nunggu kereta, Mbak?” iseng aku bertanya. Dia menoleh dan tersenyum padaku. Entah mengapa, senyumnya membuat bulu kudukku meremang. “Iya, Mas. Saya mau jemput suami saya. Sudah lama kami tidak bertemu. Saya ingin mengajaknya tinggal bersama saya di sini.” Aku hanya tersenyum. Betapa cinta yang merindu sungguh menyentuh hati. Seperti rinduku pada kekasihku…

Suara kereta yang memasuki stasiun meningkahi obrolan kami yang singkat itu. Kereta yang kutunggu akhirnya datang juga. Aku berdiri dan berharap kekasihku melihatku. Ah, itu dia! Ia tersenyum lebar dan berlari kecil seolah tak sabar ingin memelukku. Sepintas aku melihat perempuan bergaun hitam tadi berdiri dan menghampiri seorang pria berkacamata dan bermantel kulit berwarna coklat. Ah, itu pasti suaminya. Mereka memang pasangan yang serasi. Sambil memeluk pinggang kekasihku, aku melihat mereka berjalan bersisian sambil bergandengan tangan. Mereka tak bercakap-cakap, hanya saling memandang dengan penuh kasih.

“Duh, tadi ngeri banget deh, Yank… Nggak lama sebelum kereta memasuki stasiun, penumpang di depanku ada yang meninggal mendadak! Sakit jantung kayaknya. Mana gerbong lagi sepi, pula… Hiyyyy…” celoteh kekasihku mengejutkanku. “Oya? Laki atau perempuan?” tanyaku. “Laki. Sepertinya dia ke kota ini untuk berkunjung. Waktu baru naik tadi sih, sempet ngobrol sebentar. Katanya mau nengok keluarga di sini.” Malang benar orang itu. Bagaimana pula dengan keluarganya, pikirku dalam hati. “Eh, eh… Liat deh, Hun! Itu tuh, orang yang tadi kuceritakan itu…” tunjuknya pada kerumunan petugas yang mengangkat sesosok tubuh yang nampak tak asing bagiku. Aku memicingkan mata memperjelas penglihatanku.

Aku berlari mendekat. Tak kupedulikan seruan kekasihku yang kutinggalkan di ujung peron stasiun. Kudekati sosok yang diangkat oleh empat orang lelaki itu. “Bapak mengenali mayat ini?” tanya seorang petugas ketika melihatku menyeruak kerumunan. Ya! Aku mengenalinya. Bagaimana aku tidak mengenalinya, kalau aku baru saja melihatnya sekian menit yang lalu? Tapi bagaimana pula caraku mengatakan pada petugas itu, kalau sosok mayat yang kulihat adalah pria berkacamata dan bermantel kulit berwarna coklat, yang meninggalkan stasiun dengan menggandeng perempuan bergaun hitam tadi?

 
4 Comments

Posted by on April 29, 2010 in fiction

 

Saat Ku Tak Bisa Memilikimu

Sayup-sayup terdengar suara gamelan Jawa berkumandang di pekatnya malam.

Laras, perempuan lajang yang masih terlihat cantik di usia akhir tiga puluhan itu perlahan membuka gordyn jendela kamar tidurnya. Dia menajamkan telinganya, mencari asal suara gamelan yang sudah seminggu ini membangunkan tidurnya di tengah malam.

Baru seminggu ia menempati rumah yang dibelinya dari seorang perantara ini. Rumah tua berarsitektur joglo dengan pepohonan besar yang menaungi halaman. Asri. Langsung membuatnya jatuh hati sejak pertama kali melihat. Meskipun sedikit terisolir dari perkampungan, ia tak keberatan memiihnya sebagai rumah peristirahatan. Laras memang menyukai keheningan.

Kriyeeetttt…

Suara derit jendela yang tidak tertutup sepenuhnya menyadarkan Laras dari lamunan. Ia merutuki kealpaannya yang tidak segera memanggil tukang untuk memperbaiki jendela kamarnya itu. Sesaat kemudian ia menutup gordyn jendela dan menaiki ranjang. Memejamkan mata, membiarkan suara gamelan di kejauhan menjadi musik pengantar tidurnya.

“Mbak… Mbak Laras… Sudah pagi, Mbak,” terdengar suara Mbok Siwuh, pengasuh setianya sejak kecil, dari balik pintu kamar membangunkan Laras dari tidurnya. “Ya, Mbok. Saya sudah bangun,” jawab Laras sambil menguap. Hari ini aku harus tahu, siapa yang memainkan gamelan itu, kata Laras dalam hati. Iapun bergegas menyiapkan diri.

***

Lelah rasanya mengitari perkampungan ini. Tidak ada seorangpun yang bisa memuaskan rasa penasarannya tentang siapa penabuh gamelan yang ia dengar tiap malam selama seminggu ini. Mereka hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu. Bahkan ada seorang ibu tua yang duduk di teras rumah, sambil mengepang rambut panjang cucunya, berkata, “Wealah, Nduk, sudah lama ndak ada yang main gamelan di kampung ini. Terakhir ya, si Jarwo, yang rumahnya dekat sungai itu.” “Lalu, kenapa Jarwo tidak memainkan gamelannya lagi, Bu?” tanya Laras penasaran. “Lha, gimana bisa main, Nduk? Wong, orangnya sudah ndak ada. Sudah mati,” jawab ibu itu ringan.

Setelah bertanya arah rumah Jarwo pada ibu itu, perlahan Laras melangkahkan kaki menuju ke sana. Entah apa yang membuatnya merasa perlu melihat rumah Jarwo. Mungkin ia ingin melihat seperangkat alat gamelan milik Jarwo, yang bahkan belum tentu masih ada. Atau mungkin ia berharap, ada salah seorang keluarga Jarwo yang memang memainkan gamelan, sehingga ia bisa membenarkan indera pendengarannya selama ini. Entahlah. Yang jelas, kini ia sudah ada di depan rumah Jarwo.

Rumah Jarwo adalah sebuah rumah kayu sederhana di pinggir sungai yang terlihat tidak terawat dan lapuk di sana sini. Sepi. Tak ada seorangpun yang terlihat di sana. Laras melongokkan kepalanya ke dalam rumah melalui pintu depan yang setengah terbuka. Sepertinya tak ada yang menempati rumah itu lagi sejak beberapa tahun belakangan ini. Didapatinya sebuah ruangan berlantaikan tanah yang berbau pengap. Hanya ada sebuah meja dengan sebuah kursi kayu di sampingnya. Di pojokan terdapat seperangkat gamelan usang dengan banyak karat. Laras menghampiri dan menyentuh gamelan itu dengan lembut. Menyingkirkan sarang laba-laba yang menutupi hampir seluruh permukaannya.

Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kotak kayu hitam berukuran sedang yang teronggok di samping gamelan. Laras membukanya dengan hati-hati. Ia merasakan rambut halus di tengkuknya mulai meregang. Ia melihat secarik kertas lusuh kekuningan yang terlipat rapi. Dibukanya kertas itu dan berusaha merangkai huruf-huruf yang hampir tak terbaca lagi. Tertera di pojok kanan, tanggal penulisan surat itu lima belas tahun yang lalu.

“Le, Simbok minta maaf ndak bisa nuruti  permintaanmu untuk melamar cah ayu itu. Simbok ndak punya apa-apa untuk melamarnya. Lupakan saja ya, Le?”

Laras melipat kembali surat itu dan hendak mengembalikannya ke dalam kotak. Belum sempat ia menaruhnya, jemarinya terasa kaku. Ia melihat foto dirinya ketika berumur 20-an di dasar kotak kayu. Sudah pudar, tapi ia mengenali foto itu. Di bawah foto terdapat kuntum bunga kamboja dan sedap malam yang telah kering. Mengapa foto itu ada di sini? Siapa Jarwo sebenarnya? Apa hubungannya denganku?

Belum habis tanya dalam benaknya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara seseorang di belakangnya. “Maaf, Mbak Laras. Maafkan Jarwo. Maafkan Simbok…” Segera ia berpaling dan melihat mbok Siwuh dengan wajah ketakutan serta air mata menggenang di pelupuk matanya. “Ada apa, Mbok? Siapa Jarwo? Kenapa Simbok ada di sini? Apa hubungannya dengan saya?” Laras mencecar perempuan tua itu dengan pertanyaan bernada tak sabar. “Jarwo itu panggilan Jarot, Mbak. Anak Simbok yang pernah datang ke rumah Ibu dulu. Dia suka sama Mbak Laras, tapi Simbok larang. Simbok usir dari rumah Ibu sebelum lancang bilang sama Mbak Laras ,” dengan terbata mbok Siwuh menjelaskan.

Pikiran Laras mengembara ke 15 tahun yang lalu. Ya, ia memang sempat mengenal anak mbok Siwuh itu sebagai tukang kebun di rumah ibunya. Ibu mempekerjakannya agar mbok Siwuh bisa berkumpul dengan anak lelaki satu-satunya itu. Hanya saja ia tak pernah ambil pusing ketika tiba-tiba ia tak mendapati lelaki itu di rumah ibunya lagi. Ia disibukkan dengan pekerjaannya.

“Lalu, kenapa Simbok minta maaf ke saya?” tanya Laras pelan. Otaknya serasa diperas untuk menggabungkan tiap kejadian yang muncul secara tiba-tiba ini. “Nganu, Mbak… mmm…” mbok Siwuh tidak meneruskan kata-katanya. Ia malah menangis tersedu-sedu. Laras meraih pundak perempuan tua itu dan memeluknya. Ah, ringkih sekali tubuh perempuan ini. Perempuan yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri. “Bilang saja, Mbok. Saya nggak akan marah, deh,” ujar Laras lembut. “Jarwo… sejak Simbok usir dulu… sudah ngikat Mbak Laras… Jadi Mbak Laras dibuat… dibuat ndak akan bisa nikah… seumur hidup… Sekarang Jarwo sudah ndak ada. Ndak ada yang bisa mbuka ikatan itu. Maafkan Jarwo, Mbak. Maafkan Simbok…,” ujar mbok Siwuh sambil terus sesenggukan. Tubuh Laras membeku, tenggorokannya tercekat.

 
4 Comments

Posted by on March 10, 2010 in fiction

 

Aku Mencarimu di Ujung Senja

beach

aku menemukan bayangmu dalam dia,

sosok yang mungkin, atau bahkan sama sekali,

berbeda dengan dirimu.

entahlah.

akupun lelah mengira-ngira.

aku mencari kesamaan di antara keduanya

kutemukan

lalu menghilang

bagai embun pagi yang menguap

setelah dicumbu sang mentari.

kutunggu bayangmu di tiap senja yang datang

tapi yang kutemukan malah

semburat jingga hampa tak berbekas.

sampai berapa senja ku harus menunggu?

aku lelah mencarimu.

sungguh, aku lelah…

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2010 in fiction

 

Hatiku Dibawa Kereta

stasiun Tugu

Kereta ekonomi jurusan Surabaya ini mulai disesaki oleh manusia yang berdatangan satu persatu. Entah itu penumpang, atau mungkin juga pengantar yang penasaran ingin melihat seperti apa isi gerbong kereta. Padahal dari luar saja sudah terbayang betapa pengapnya hawa di dalam gerbong. Penuh dengan bau kecut orang-orang yang berjubelan, suara riuh pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, tangis bayi yang kepanasan, dan tas-tas besar yang saling menyenggol. Ughhh…

Blug..!!

Kulemparkan tas ranselku ke sebuah bangku yang kosong tepat di pinggir jendela sebagai penanda bahwa bangku itu adalah milikku. Aku terpaksa egois kali ini, berebut tempat duduk dengan penumpang lain yang juga tak ingin kakinya membatu sepanjang perjalanan dari Jogja. Setelah permisi pada ibu yang kulewati, kududukkan tubuhku di bangku itu dan hufftt… kusandarkan punggung sambil kuedarkan pandangan ke sekeliling. Teman seperjalananku kali ini adalah seorang ibu yang berusia lebih dari separuh baya, yang tampak kerepotan dengan tas-tas bawaannya. Kulirik ke bawah kakinya, ada sesuatu yang bergerak-gerak. Hah?? Seekor ayam jago? Untuk apa ibu ini membawa ayam hidup, pikirku. Rupanya ibu itu menangkap mimik muka keherananku. “Cucu saya yang di Surabaya, Mas, dia sangat suka pelihara ayam jago. Kebetulan di rumah saya ada, jadi saya bawakan sekalian,” ujarnya lembut. Aku hanya tersenyum padanya tanpa mengucap sepatah katapun. Aku sedang tidak ingin menyapa seseorang. Bukan karena terbiasa tak ramah, tapi benar-benar sedang tak ingin.

Sesaat kulemparkan pandanganku ke luar jendela. Terdengar peluit tanda kereta akan segera berangkat. Tanpa sadar, mataku mengarah ke orang-orang di sekitar luar kereta dan peron. Kujelajahi tiap wajah, berharap ada satu wajah yang kukenal. Yang seharusnya tahu persis jadwal keberangkatan kereta yang kutumpangi hari ini. Ah, ternyata dia benar-benar tak datang, keluhku lelah. Kupejamkan mataku seiring laju kereta yang perlahan mulai bergerak. Makin berat rasanya kutinggalkan kota ini tanpa senyumnya yang melepas kepergianku. Kota dengan sejuta kenangan yang tak terganti.

Sementara itu di peron, di balik salah satu pilar, seorang perempuan dengan mata tak berkedip sedang mengawasi sebuah kereta ekonomi jurusan Surabaya yang perlahan melaju. Pandangannya lurus mengarah ke seorang lelaki muda yang duduk di sisi jendela dengan ransel di pangkuan yang sedang mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru peron. Setitik air mata tampak di sudut mata perempuan itu.

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2010 in fiction

 

Karena Kita Sama

gothic

Aku diam memandang sosok di hadapanku. Kepulan asap rokoknya mengaburkan pandanganku dari wajah tirusnya. Kutunggu hingga dia menyesap kopi hitamnya.

“Well… Gimana?” tanyaku.

“Hmmm… Apa ini sangat mendesak, Hun?” jawabnya yang membuatku mulai merasa sebal.

“Apa kamu tidak merasa ini penting? Atau cuma aku yang menginginkannya?”

“Tapi kan, hubungan kita masih terlalu singkat untuk dibawa ke tahap yang lebih serius?”

“Tiga tahun bagimu singkat??” nada suaraku mulai meninggi.

Dia menyesap lagi kopi di cangkirnya dan menghisap dalam-dalam rokok yang masih terselip di bibirnya. Lalu diam.

Secara tiba-tiba kucondongkan wajahku ke hadapannya. Dia terbelalak, terkejut.

“Ada apa?” tanyanya.

“Kalau kamu enggan melangkah denganku lagi, mungkin lebih baik kita berhenti di sini saja,” kataku perlahan dengan intonasi mengancam.

“Hey… Apa… Apa… Apa-apaan kamu? Arrgghhh…!!” dia tergagap lalu berdiri dari kursinya.

Dia merasa gusar dengan kata-kataku, rupanya.

“Apa sebuah pernikahan sangat berarti bagimu?” tanyanya gemas sambil mencengkeram lenganku.

“Apa buatmu tidak?” jawabku balik bertanya. Menantang matanya.

“Buatku, selama kita bersama, tidak menikahpun tak apa.”

“Gila!” kupalingkan mukaku darinya.

“Ya, aku gila karenamu…” bisiknya sambil menciumi leherku.

Kudorong bahunya dan berteriak, “Lalu kenapa kamu tak mau menikah denganku?!”

“Suatu saat kamu akan tahu itu.”

“Cuma itu saja, jawabmu setahun ini! Apa yang belum aku tahu? Apa?? Aku bosan dengan kata-katamu yang mulai tak masuk akal buatku. Buang-buang waktu saja. Sudahi semua ini dan kita cari jalan masing-masing!” putusku telak.

Segera kusambar tas tanganku dan mencoba berlalu dari hadapannya. Tapi gerakanku kalah cepat dengannya. Tiba-tiba saja dia sudah menarik pinggangku dan meraihku dalam dekapannya.

“Kamu mau tahu apa alasanku?!” dia berteriak tepat di mukaku. “Ini semua karena aku masih sama sepertimu! Sama sepertimu…”

“Apa maksudmu?” tanyaku keheranan.

Hening.

“Aku masih perempuan. Sama sepertimu…”

 
4 Comments

Posted by on February 22, 2010 in fiction

 

Kerinduan

miss u

tahukah kamu?

aku titipkan rinduku ini pada sang bayu,

akankah ia meniupkannya kembali padamu?

pun ketika aku meminta sang mentari menghangatkanmu,

sudahkah ia memelukmu dalam dekap buai sinarnya?


ah, ternyata untuk

sampaikan rinduku padamupun, aku tak mampu

sekedar melihat senyummupun, aku tak berani.


aku sadar, segala aturan dunia membentuk tembok

merintangiku untuk mendekatimu,

dan aku tak kuasa memaksakan diri.


maaf, aku tak bisa menghampirimu  lagi

maaf, aku tak sanggup  melihatmu lagi

karena aku takut…


jatuh hati padamu (lagi).

 
2 Comments

Posted by on February 10, 2010 in fiction

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.