Sembilan hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Hiruk pikuk dan segala bentuk euforianya mulai menguap perlahan seiring dengan berlalunya hari. Tradisi saling mengunjungi sanak saudara serta kawan dekat pun mulai berkurang. Jalanan yang seminggu lalu tampak cerah dengan aneka warna kerudung, kini berangsur kembali sesak oleh pegawai berkemeja rapi, anak-anak berseragam sekolah sambil menenteng tas baru hadiah untuk puasanya yang tak bolong, atau bahkan penjual sayur yang mulai menjual dagangannya kembali setelah libur seminggu penuh. Ada cuti bersama untuk mereka juga, rupanya.
Bersamaan dengan kembalinya ritme normal itu, sebuah tradisi turun menurun di kota tempat saya tinggal ini, tidak lupa pula untuk dilakukan. Kupatan. Sebuah kebiasaan dimana setiap keluarga membuat ketupat beserta lauknya bukan tepat di saat hari raya, namun justru seminggu setelahnya. Saya kurang mengerti alasannya. Yang jelas, setelah itu, biasanya mereka akan membagikan seporsi ketupat yang sudah jadi untuk kerabat dan tetangga dekat.
Sebelumnya, melihat dimana-mana orang menenteng janur dan ketupat yang sudah matang, membuat saya tergoda untuk ikut membuat ketupat. Meskipun saya bukan seorang muslim, namun saya pikir tak ada salahnya untuk mencoba. Seumur hidup saya belum pernah merebus ketupat dan menyiapkan lauk pendampingnya sendiri.
Esoknya saya segera memesan janur ketupat pada tukang sayur langganan. Itupun harus menunggu, karena sehari setelahnya ia tidak berjualan. Libur kupatan, katanya. Ketika kemudian ia berjualan, tanpa saya minta, disodorkannya ke hadapan saya sepuluh buah ketupat matang. Saya yang merasa tidak memesan ketupat matang pun seketika bengong. Setelah menjelaskan secara singkat, ia pun akhirnya dapat mengerti bahwa yang saya pesan sesungguhnya adalah ketupat yang masih kosongan. Tak ingin ia kecewa, saya membeli sebagian dari ketupat itu sambil mewanti-wanti padanya agar tak lupa membawakan janur ketupat untuk saya besok.
Senang rasanya ketika pada akhirnya saya berhasil mendapatkan janur ketupat idaman, lengkap dengan bahan belanjaan untuk lauknya. Sayur pepaya muda istimewa resep warisan keluarga yang dibagikan oleh seorang kawan, serta opor ayam menjadi pilihan saya sebagai pelengkap. Bahan sudah siap di tangan, niat pun telah diikat kuat agar tak lepas dan mendatangkan malas.
Tapi yang namanya jodoh, kalau belum waktunya ya mau apa? Di tengah saya mempersiapkan pembuatan ketupat, saya menerima kabar duka bahwa kawan saya meninggal.Saya bisa menunda makan ketupat, tapi tidak dalam urusan melayat. Seorang kawan yang sangat baik telah meninggal, dan itu jauh lebih penting daripada seporsi ketupat. Tak menunggu lama, saya putuskan untuk berangkat ke luar kota melayatnya.
Akhirnya, hitung punya hitung, sembilan hari setelah Hari Raya saya baru berhasil membuat ketupat. Bukan sebagai penanda lebaran, bukan pula menjadi pemuas tradisi kupatan. Saya menamakannya “Ketupat Kesiangan”. Ketupat yang baru muncul ketika jejak sang janur di piring orang-orang itu telah tandas. Bahkan ketika mereka belum lagi bersiap menanti ketupat di tahun depan.
Tapi sebuah momen yang terlewat bukanlah alasan untuk kecewa, karena pujian tulus dan lahapnya teman beserta keluarganya yang saya undang untuk mencicipi hasil ekperimen kali ini, sudah cukup membuat saya tersenyum puas. Ya! Akhirnya saya berhasil membuat ketupat sendiri.




