
Kota kecil tempat saya tinggal, belakangan ini sedang diresahkan dengan kemunculan beberapa perempuan yang berkeliling meminta sumbangan. Para perempuan tengah baya berpenampilan cukup rapi itu berjalan dari rumah ke rumah, membuka sendiri pagar yang tidak dikunci pemiliknya, bahkan berani mengintip melalui jendela rumah warga.
Sebenarnya bukan sikap lancang mereka yang memasuki kediaman seseorang tanpa permisi, yang menjadi persoalan utamanya. Yah, meskipun itu juga sedikit menimbulkan kekhawatiran. Mengingat sekarang ini banyak hal bisa terjadi. Tapi tujuan mereka itu, lho. Mereka meminta belas kasihan (uang) pada orang lain dengan cara memberitahukan bahwa anak atau ibu mereka – bahkan mereka sendiri – tengah menderita sakit parah. Tumor, kanker, dan penyakit lainnya yang membutuhkan operasi serta dana besar.
Tidak masalah bila yang dikatakannya tersebut memang lah benar. Saya yakin, pasti akan banyak orang yang bersedia menolong. Memberi beberapa rupiah, semampunya. Namun sangat disayangkan, menurut berita yang berkembang, disinyalir mereka itu adalah peminta-minta dengan alasan yang mengada-ada. Menipu. Berharap orang yang mendengarkannya akan jatuh kasihan kemudian memberi sedekah. Kabarnya, mereka sengaja dikoordinir dan diturunkan dari mobil yang mengangkutnya dari kota ke kota dengan membawa “misi” buruk tersebut.
Yang mereka lakukan adalah kebohongan, dan berbohong adalah dosa. Ya, siapa pun pasti mengetahuinya. Namun ada hal yang menurut saya tidak kalah pentingnya, yaitu ucapan adalah doa. Apapun yang kita ucapkan, hendaknya merupakan hal-hal baik dan positif. Malaikat penjaga akan mencatat perkataan kita dan mengamininya. Bagaimana bila perkataan itu menjadi kenyataan? Anak, ibu, atau bahkan mereka sendiri menderita penyakit berat.
Well, saya sendiri tidak lepas dari kebohongan. Dalam beberapa hal saya pernah berbohong. Tapi untuk mengucapkan alasan tentang “sakit” atau sesuatu yang buruk, saya tidak memiliki nyali. Jaman sekolah dulu, bila tidak mengikuti pelajaran dan harus menyerahkan surat ijin, saya tidak pernah mencantumkan alasan sakit (bila memang tidak sakit). Masih terngiang perkataan almarhumah ibu saya ketika masih kecil, “Jangan bilang yang jelek-jelek. Nanti terjadi sungguhan, lho!” Ya, saya meyakini bahwa ucapan adalah doa yang menanti nomer urut untuk dikabulkan. Maka jagalah lisanmu agar senantiasa dalam kebaikan.
Kalau menurut kalian..?
Gambar diambil dari sini.
