Mas Mun sayang,
Kejamnya dikau, Mun. Padahal ujung lidahku sedang ingin menumpahkan segala perasaan yang menggolakkan hati. Jemariku tak sabar ingin segera menari bersama pena, agar kau tahu apa yang tengah kurasakan. Dan kamu malah melarangku? Ah, Mun…
Sudahlah, aku nekad saja. Aku berharap kamu membacanya hingga tuntas dulu. Setelah itu terserah hendak kamu apakan suratku ini. Boleh saja bila hendak kamu bingkai atau simpan di lemari besi sebagai kenang-kenangan. Aku pasrah.
Mun, tahukah kamu, kusyukuri hadirmu dalam hidupku. Bahkan aku tak mampu menghitung semua hal baik yang telah kuserap selama ini darimu. Ya, darimu, Mun. Eits, jangan buru-buru tertawa dan menganggap ini hanyalah bualan semata.
Ingat tidak, saat pertama kali kita bersua dan aku terlambat 15 menit menemuimu? Dengan muka kaku karena senyum yang terpaksa, kamu pun berkata, “Tak apa.” Sejak itu aku berjanji dalam hati takkan pernah membuatmu menunggu. Aku belajar untuk memanajemen waktuku. Yah, meskipun setelah itu – tanpa kusengaja lho, Mun – aku terlambat lagi 30 menit. Soalnya aku mampir dulu ke toko membeli sepatu cantik. Ah, beginilah Mun, wanita!
Dan hebatnya, kamu masih menjawab, “Tak apa.” Kali ini dengan senyum lebar. Mungkin kamu sudah hafal bahwa tak mungkin aku belajar dengan cepat. Itulah kelebihanmu yang semakin membuatku jatuh hati. Meskipun kamu galak, tapi hati lembut bagai kembang tahu. Kamu juga mengajarkanku untuk berani protes bila merasa benar. Tak menunggu waktu lama, itu langsung kamu praktekkan pada supir mobil sewaan yang kamu pesan. Jantungku nyaris mencelos melihatmu berdebat dengan pria bertubuh dempal itu, Mun. Dan kamu memenangkannya.
Pantas saja kini aku merindukan senyummu. Senyum langka yang hanya tercipta ketika gerhana terjadi, begitu gurauku. Memang sosokmu identik dengan keseriusan dan ketegasan. Berbanding terbalik denganku. Tapi entah mengapa, kamu sedemikian istimewanya bagiku.
Mun yang tampan, terimakasih banyak untuk cintamu..
Salam gujleng-gujleng,
cintamu, miayam.
