RSS

Monthly Archives: January 2012

You’re Beautiful

 http://browse.deviantart.com/?q=love&order=9&offset=24#/d1a1j34

Lovin’ you is easy cause you’re beautiful

Making love with you is all I wanna do

Lovin’ you is more than just a dream come true

And everything that I do is out of lovin’ you…

Seperti itulah penggalan lirik dari tembang lawas berjudul “Loving You” yang dinyanyikan oleh Minnie Ripperton. Saya suka lagu ini. Menyiratkan perasaan jatuh cinta yang mendalam terhadap pasangannya yang rupawan. Namun entah mengapa, tiba-tiba saya terpana. Diam sesaat hingga sebuah pertanyaan iseng bersliweran di otak saya. Apakah memang terasa lebih mudah untuk mencintai orang-orang yang molek nan rupawan?

Pertanyaan itu tak terjawab hingga akhirnya terlupakan. Suatu siang saya bertemu dengan kawan-kawan lama saya. Saling menanyakan kabar satu sama lain dan bertukar cerita. Dari perbincangan itu saya mengetahui ada seorang teman yang istrinya mengalami kanker payudara stadium tiga dan sedang berjuang dalam upaya penyembuhan secara medis. Sang istri harus menyelesaikan tahap kemoterapi sebanyak enam kali, radiasi 25 kali, serta satu kali operasi pengangkatan payudara kanannya.

Secara fisik, tentu saja terjadi perubahan pada dirinya. Kulit menghitam, tubuh kian kurus, bahkan setelah kali kedua kemoterapi, ia harus rela kehilangan rambut indahnya untuk kemudian digantikan dengan wig. Tidaklah mudah bagi seorang wanita berusia 34 tahun dengan dua orang putri yang masih kecil-kecil ini dalam menjalani peristiwa besar tersebut. Belum lagi bila harus memikirkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Namun apa yang terjadi? Ia tetap menjalaninya dengan penuh suka cita. Kawan-kawan terdekatnya memberi kesaksian bahwa ia tak banyak mengeluh atas apa yang sedang dijalaninya, rajin berdoa, serta tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dengan baik. Kesabaran yang luar biasa ini ditampakkannya sepanjang waktu.

Sang suami – kawan saya tadi – selalu setia mendampingi istrinya. Dari hari ke hari rasa cintanya yang kian besar diwujudkan dalam sikap nyata, perhatian, serta semangat. Mereka melangkah bersama dan saling menguatkan. Kawan saya menerima keadaan istrinya. Apapun itu. ia mencintai istrinya bukan karena kecantikan, tapi cinta lah yang membuat sang belahan jiwa nampak selalu cantik di matanya.

Loving you is easy cause you’re beautiful…

Kini saya mengerti artinya.

 
2 Comments

Posted by on January 28, 2012 in Ngerumpi

 

Mas Mun Sayang

www.deviantart.com

 

Mas Mun sayang,

Sebenarnya aku takut menuliskan surat ini karena teringat dengan bentakanmu tempo hari, ketika aku merajuk ingin menuliskan sebuah surat cinta untukmu. Aku kangen. Habisnya kamu di sana, aku di sini.Semua orang yang sedang jatuh cinta menulis surat, jadi aku boleh menuliskannya juga untukmu, ya? Begitu rengekku yang seketika itu langsung terhenti sesaat setelah kudengar kamu berkata, tidak usah! Cinta terlalu menye-menye untuk dituliskan. Itu menurutmu.

Kejamnya dikau, Mun. Padahal ujung lidahku sedang ingin menumpahkan segala perasaan yang menggolakkan hati. Jemariku tak sabar ingin segera menari bersama pena, agar kau tahu apa yang tengah kurasakan. Dan kamu malah melarangku? Ah, Mun…

Sudahlah, aku nekad saja. Aku berharap kamu membacanya hingga tuntas dulu. Setelah itu terserah hendak kamu apakan suratku ini. Boleh saja bila hendak kamu bingkai atau simpan di lemari besi sebagai kenang-kenangan. Aku pasrah.

Mun, tahukah kamu, kusyukuri hadirmu dalam hidupku. Bahkan aku tak mampu menghitung semua hal baik yang telah kuserap selama ini darimu. Ya, darimu, Mun. Eits, jangan buru-buru tertawa dan menganggap ini hanyalah bualan semata.

Ingat tidak, saat pertama kali kita bersua dan aku terlambat 15 menit menemuimu? Dengan muka kaku karena senyum yang terpaksa, kamu pun berkata, “Tak apa.” Sejak itu aku berjanji dalam hati takkan pernah membuatmu menunggu. Aku belajar untuk memanajemen waktuku. Yah, meskipun setelah itu – tanpa kusengaja lho, Mun – aku terlambat lagi 30 menit. Soalnya aku mampir dulu ke toko membeli sepatu cantik. Ah, beginilah Mun, wanita!

Dan hebatnya, kamu masih menjawab, “Tak apa.” Kali ini dengan senyum lebar. Mungkin kamu sudah hafal bahwa tak mungkin aku belajar dengan cepat. Itulah kelebihanmu yang semakin membuatku jatuh hati. Meskipun kamu galak, tapi hati lembut bagai kembang tahu. Kamu juga mengajarkanku untuk berani protes bila merasa benar. Tak menunggu waktu lama, itu langsung kamu praktekkan pada supir mobil sewaan yang kamu pesan. Jantungku nyaris mencelos melihatmu berdebat dengan pria bertubuh dempal itu, Mun. Dan kamu memenangkannya.

Pantas saja kini aku merindukan senyummu. Senyum langka yang hanya tercipta ketika gerhana terjadi, begitu gurauku. Memang sosokmu identik dengan keseriusan dan ketegasan. Berbanding terbalik denganku. Tapi entah mengapa, kamu sedemikian istimewanya bagiku.

Mun yang tampan, terimakasih banyak untuk cintamu..

 

Salam gujleng-gujleng,

cintamu, miayam.

 

 
2 Comments

Posted by on January 22, 2012 in Ngerumpi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.