RSS

Daily Archives: December 21, 2011

Hentikan!

www.deviantart.com

“Sini, Rita. Jangan malu-malu!” mas Samwani melambaikan tangan sambil memanggilku.

Kutarik-tarik ke bawah rok mini ketat warna shocking pink yang membalut pinggul sintalku sembari menghampiri mereka. Untung saja aku masih sempat mencukur bulu kaki. Tadi siang rok ini baru kubeli di toko seberang Pasar Minggu. Hasil tawar menawar yang cukup alot. Selisih harga sepuluh ribu, sudah bisa membuatku tersenyum penuh kemenangan. Lumayan, untuk tambahan membeli minyak sinyong-nyong.

Kini aku semakin dapat memandang jelas wajah mas Slamet. Ia tersenyum padaku. Kulihat kumisnya bergerak-gerak. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa geli. Mungkin karena kumisnya yang melintang itu terlihat seperti ujung ekor tikus got.

“Par… Eh, Rita.” Deheman keras mas Samwani menyadarkanku. Kuterima uluran tangan mas Slamet yang mengajakku bersalaman. Ujung telunjuknya menggelitiki telapak tanganku. Nakal.

“Slamet,” ujarnya sambil tersenyum, yang bagiku lebih mirip seringaian. Lelaki ini ternyata terlihat jauh lebih tampan bila dipandang dari kejauhan.

Belum sempat kami saling bertukar kata, tiba-tiba kurasakan hembusan angin yang sangat kencang menghantam punggungku. Daun-daun kering bertebaran ke segala penjuru seolah terkena tiupan maha dahsyat. Tanpa kami sadari, lelaki dengan tato angka di dada, telah menjejakkan kakinya dan berdiri di hadapan kami. Menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu gin-kang yang sungguh mempuni.

“PARTO! Sudah kubilang, jangan keluar dari persembunyianmu!” Wajahnya terlihat merah padam menahan amarah. Ditariknya paksa lengan kananku hingga aku nyaris terjengkang di balik tubuh tambunnya.

“Kurang ajar! Wahai Kisanak, apa maumu?” damprat mas Slamet. Matanya melotot seperti nyaris mencuat dari dalam kepala. Mas Samwani yang melihat keadaan menjadi kian memanas, beringsut mundur lalu bersembunyi di balik bilik bambu. Badannya gemetar ketakutan.

“Aku yang harusnya bertanya padamu. Apa yang hendak kau lakukan pada Parto? Dia murid perguruanku yang terbaik. Jangan coba-coba menculiknya!” Suara pria bertato itu terdengar menggelegar.

Aku? Murid terbaik dari perguruan pria bertato itu? Padahal sedikitpun aku tak mengenalinya. Bibirku membuka hendak bertanya, ketika kudengar teriakan mas Slamet. “Aaahhh…!” Tubuhnya serta merta terangkat tinggi lalu menghantam sebuah pohon besar. Secepat kilat pria bertato itu melayang lalu menerjang mas Slamet. Tulang keringnya ditendang sekuat tenaga. Krakk!! Tulang kaki mas Slamet berderak patah. Ia melosoh ke tanah. Menggeliat-geliat karena tak sanggup berdiri. Tak memberi kesempatan, pria bertato itu menelikung tangan mas Slamet kuat-kuat.

“Jangan coba-coba lagi mendekati Parto! Atau kau akan rasakan sendiri akibatnya.”

“Coba saja kalau kau berani,” desis mas Slamet di tengah erangannya.

“Hentikan!” Aku memberanikan diri berlari menuju mereka sambil berteriak. “Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa kalian sebenarnya? Mengapa aku kehilangan ingatanku?”

~~~

Ini adalah cerita berantai. Seperti cerita pertama, yang dibawakan Om Belukar dan cerita kedua, oleh Rushed. Ini adalah bagian cerita saya. Dan cerita selanjutnya akan dilanjutkan oleh anaknye emak.

 
Leave a comment

Posted by on December 21, 2011 in Ngerumpi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.