RSS

Di Balik Layar: “Sejuta Kepak Kupu-Kupu”

20 Dec

www.google.com

 

Beberapa waktu lalu saya meminang Ladypiano untuk bersama-sama menulis rangkaian cerita. Sebenarnya saya tidak berani terlalu berharap ia mau menerima pinangan saya. Kesibukannya yang luar biasa membuat saya akan sangat memaklumi bila jawabannya adalah penolakan. Hikss… Lama kemudian, ia menyanggupi permintaan saya dan lahirlah “Sejuta Kepak Kupu-Kupu”.

Cerita bersambung yang saya impikan bukan sekedar kisah jalinan asmara biasa. Harus ada warna lain yang akan membuatnya terasa lebih istimewa bila dibandingkan dengan cerita kolaborasi yang pernah saya jalani sebelumnya. Niat awalnya sih, mengemas obyek wisata dalam bentuk yang berbeda tanpa kesan menyerupai iklan biro perjalanan.

Saya yang banyak maunya, menetapkan dua syarat *wogh, gaya!  Satu, harus ada penggalan lirik lagu di setiap akhir episode yang mewakili perasaan si tokoh cerita. Semacam soundtrack. Dua, harus ada setting lokasi yang nyata ada, bukan rekaan semata. Jadi tidak sekedar bercerita adegan berlangsung di café Cangkir, kampus Mawar Biru, ataupun rumah si Doi.

Ladypiano, dengan pengalamannya menjelajahi beberapa kota di dalam serta luar negeri, memberi saya banyak pencerahan dan membuka wawasan baru tentang ragam tempat eksotis yang belum pernah saya kunjungi. Gaya bertuturnya yang ringan, mampu mendeskripsikan tempat-tempat indah itu dengan sangat baik hingga membuat saya serasa ikut mengalaminya.

Sebetulnya, tidak ada konsep yang jelas tentang penulisan cerbung ini. Hanya menulis bergantian di tiap episodenya tanpa rekan duet mengetahui ending episode tersebut. Sesederhana itu. Namun yang terjadi, bagi saya lebih sulit berkolaborasi menulis cerbung daripada cerpen. Kenapa? Mulanya, saya ingin menulis dengan gaya saya. Mengalir, tanpa tahu ending-nya seperti apa. Itu berhasil pada episode satu hingga empat. Kemudian, saya baru menyadari, bila diteruskan akan berakibat fatal:  episode menjadi tak terkontrol jumlahnya. Bisa dipastikan, pembaca akan merasa bosan. Cerita berkepanjangan dan bertele-tele bak sinetron. Meminjam istilah om warm “sejuta episode”, hehehe…

Teknik pun diubah. Ladypiano mengusulkan ide cemerlang agar alur dibuat lebih jelas dan terarah. Harus ada garis besar ceritanya. Dan begitulah yang terjadi. Episode demi episode selanjutnya tetap kami tulis secara bergantian. Hanya saja, kali ini kami tahu (akan) seperti apa episode berikutnya. Khusus pada dua peisode terakhir, kami menuliskannya secara bersama-sama. Menggabungkan setting lokasi yang kuat a la Ladypiano dan romantisme dua sejoli a la miayam.

Banyak kejadian seru dan unik yang kami alami ketika berperan sebagai penulis, sekaligus editor.

Pertama, lantaran saya baru mengetahui ending episode yang dipilih Ladypiano beberapa menit setelah ia terbitkan, maka baru pada saat itulah saya pontang-panting menyusun “skenario” lanjutannya. Demikian juga sebaliknya. Pernah Ladypiano manyun seharian gara-gara ulah saya. Pasalnya, saya merubah ending yang telah disepakati tanpa sepengetahuannya. Padahal tulisan sudah terbit! Tantangan ini membuat Ladypiano berpikir keras memeras otak karena ia terpaksa merubah total skenarionya agar selaras dengan cerita sebelumnya. Sangat merepotkan. Tapi percayalah, that’s fun!

Kedua, adalah lumrah bagi kami untuk saling mengkritik tulisan rekan duet selama kritikan itu positif dan dapat diterima. Jadwal terbitnya yang rutin setiap pagi, kecuali hari Minggu, mengharuskan kami untuk lebih menaruh perhatian dan meluangkan waktu di tengah kesibukan masing-masing. Sembari berkejaran dengan jam tayang, kami masih menyempatkan diri mengedit tulisan beberapa menit sebelum SENT. Tentu saja, kami selalu berusaha menjunjung tinggi sikap tenggang rasa saat perbedaan pendapat terjadi di antara kami.

Ketiga, proses pemilihan gambar latar dan penggalan lirik lagu untuk setiap episode, berhasil menciptakan kesan tersendiri. Browsing gambar untuk tulisan kolaborasi tampaknya semudah menjentikkan jari.  Ternyata tidak demikian, Rumpiers. Lama, bo! Sebab kami harus saling setuju memilih satu di antara banyak gambar/lagu yang tersedia. Pada episode ke-9, saya bahkan sempat dua kali mengganti gambar latar setelah tulisan itu terbit! Bahkan hingga memilih kata-kata kutipan pun kami harus sepakat. Atau mungkin, sepakat untuk tidak sepakat.

Di atas segalanya, hal paling mengharukan kami adalah ketika mengetahui ada diantara pembaca yang setia mengikuti cerbung ini sedari awal. Sungguh di luar perkiraan. Untuk itu, sudah selayaknyalah kami menghaturkan rasa TERIMAKASIH yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga Ngerumpi disini, terutama para editor dadakan yang bersedia mengkoreksi penulisan kata yang dirasa kurang tepat: Penikmat Senja dan Anaknye Emak

Semoga cerbung ini dapat menjadi inspirasi dan menambah wawasan para pembaca sekalian.

 

Salam Rumpiers!

 

Ladypianomiayam

 

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2011 in Ngerumpi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.