Untuk menyenangkan hati Kinan, Andrew ingin mengajaknya ke Quebec. Untuk itu, ia rela berkendara selama beberapa malam menempuh jalan bebas hambatan yang menghubungkan Toronto – Ottawa – Montreal – Quebec. Dalam perjalanan yang sangat panjang ini, Andrew mengarahkan kendaraannya menuju exit kota Ottawa.
Ottawa Parliament Building, lebih dikenal dengan sebutan Parliament Hill, terletak di kota Ottawa, Ontario, ibukota negara Kanada. Bangunan Parliament Hill bergaya gothic abad ke-18 itu berdiri megah dan anggun di hadapan Andrew dan Kinan. Daya tariknya mampu menyihir tiga juta pengunjung dari manca negara setiap tahunnya. Pada malam-malam tertentu di musim panas, biasanya ada pertunjukan Sound and Light Show dengan Parliament Hill itu sendiri sebagai layar raksasanya. Setelah lelah berkeliling bangunan, Andrew mengajak Kinan duduk rehat di atas halaman berumput hijau gedung itu yang luas.
“Kau belum menceritakan bagaimana bisa sampai di sini,” ujar Andrew sambil memandang wajah Kinan.
“Oh, itu. Kau masih terkejut rupanya?” Kinan bertanya menggoda. Andrew tergelak ringan menanggapi godaan Kinan, “Dua hari setelah kepergianmu, ibumu datang ke restoranku. Beliau mengkhawatirkan kesehatanmu akhir-akhir ini dan memintaku secara khusus menemanimu di sini selama ibumu berada di Jakarta. Katanya, kau pria kedua tersulit diatur untuk urusan makanan setelah almarhum ayahmu.”
“Ah, ibu! Jadi ibuku mengatur semua ini untukmu?” seru Andrew setengah tak percaya. Kinan menganggukkan kepala. Di tengah tawanya yang berderai, Andrew berkata, “Ibu memang paling tahu apa yang aku butuhkan!”
****
Setibanya di Quebec.
Keduanya menjejakkan kaki di depan hotel Fairmont Le Chateau Frontenac, Quebec, yang berada di atas bukit. Usai beristirahat semalam di hotel itu, siang harinya Andrew dan Kinan duduk di sebuah bangku taman yang menghadap Quebec City nun jauh di bawah sana. Sekelompok burung kecil berkumpul dan berterbangan di pelataran hotel. Hembusan angin pada temperatur 20 derajat celcius membuat Kinan menggosokkan kedua lengannya. Andrew yang melihat hal itu, seketika membuka jaketnya sendiri dan mengenakannya pada tubuh Kinan. Setelah puas menikmati pemandangan kota, merekapun berjalan menuruni beberapa anak tangga dan tiba di sebuah restoran masakan Perancis.
“Sesungguhnya aku sudah lama mendengar namamu. Bahkan sudah banyak yang kuketahui tentangmu,” tutur Andrew santai.
“Oh?”
“Ibuku sering pulang ke Jakarta. Gara-gara sup ikan restoranmu yang enak, beliau ketagihan makan di sana. Kau mungkin tak mengenalnya karena beliau selalu datang bersama para kolega atau staf perusahaan. Beliau kagum pada sosok wanita mandiri sepertimu dan memintaku datang untuk mengenalmu.” Andrew memandang wajah Kinan yang merona menahan malu.
“Selama dua bulan di Jakarta, aku memang hanya dua kali bertemu denganmu. Tapi melalui cerita ibuku, banyak hal telah kuketahui tentangmu. Dan, kau tahu? Aku mengerahkan seluruh staf perusahaan untuk makan siang di restoranmu. Berharap kau mau menerimaku makan di paviliunmu lagi,” lanjut Andrew sembari tersenyum.
“Jadi, PT. Adhi Perkasa itu..? Kau?”
“Ya, itu perusahaanku,” jawab Andrew tanpa bermaksud menyombongkan diri.
“Kau menyelidikiku, ya?” Kinan tersenyum.
“Demi kebaikan, ya!” jawab Andrew. “Tidak heran bila ibu menyukai sosokmu. Kau sendiri, mengapa bersedia datang ke sini memenuhi permintaan ibuku?”
“Bukan karena ibumu saja. Aku memang tertarik padamu setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa kau sangat menyayangi ibumu.”
“Hmm?”
“Ya. Aku melihatmu mencium tangan dan pipi ibumu saat kalian berada di paviliun. Ingat?”
“Tentu ingat. Bagaimana aku bisa lupa?”
Please don’t let this feeling end, it’s everything I am
Everything I want to be, I can see what’s mine now
Finding out what’s true, since I found you
Looking through the eyes of love…
Looking Through the Eyes of Love by Nikka Costa
to be continued…
