(Cerita sebelumnya: 6)
Senyum tersungging di bibir Ibu Ratna. Andrew pasti akan datang secepat kilat. Anak semata wayangnya ini memang tiada tara. Sejak usia remaja, ia hidup terpisah demi memperoleh pendidikan terbaik di negara Uncle Sam. Di sela-sela liburan musim panas sekolah barulah Andrew diboyong pulang orangtuanya agar mengenal keindahan Gili Trawangan, Danau Toba ataupun Raja Ampat. Andrew memang sangat tertarik dengan keindahan alam, terutama laut. Selepas meraih gelar M.Sc Degree dari Colorado School of Mines, Amerika Serikat, Andrew bergabung dengan perusahaan eksplorasi minyak di Laut Cina Selatan. Justru Salim Soebrata, orang tua sekaligus pendiri dan CEO perusahaan A & S Lines, yang menginginkan sang anak mengabdi di perusahaannya. Andrew menolak. Ia ingin mandiri merintis karir, lepas dari bayang-bayang kemegahan orangtuanya. Namun takdir berkehendak lain. Ayahnya berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa di ruang kerjanya saat musim dingin ekstrim melanda kawasan Vancouver, British Colombia, Canada.
Ibu Ratna segera mengambil alih perusahaan. Tak pernah sekalipun ia menyinggung ikhwal roda perusahaan di hadapan Andrew. Secara rahasia sebenarnya Andrew meminta pak Rizal untuk selalu memberitahukan segala masalah perusahaan. Sebagai seorang sekretaris perusahaan, pak Rizal banyak mengetahui keadaan perusahaan yang kompleks. Dari titik inilah Andrew mengetahui ketangguhan sang ibu memimpin perusahaan. Setahun kemudian, Andrew terbang ke Vancouver membantu sang ibu. Dengan cepat ia mempelajari seluk beluk perusahaan. Dari tingkat terbawah hingga teratas. Ia tahu persis bagaimana cara mengelola perusahaan. Di tangan Andrew yang pekerja keras dan serius, A & S Lines berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan jasa penyewaan tanker minyak yang disegani.
Saatnya telah tiba bagi Andrew.
“Andrew, Pulau Sabang kita mengalami kerusakan mesin di perairan Strait of Georgia. Cukup parah. Kita beruntung kapal itu sedang berlayar tanpa muatan minyak. Pak Rizal menelponku tadi dari BC.” Pulau Sabang yang dimaksud adalah nama kapal tanker minyak berbobot mati 6.000 ton. “Aku mau kau terbang kesana. Atasi kerusakan itu. Selekas mungkin. Pejabat Pertalon yang saat ini sedang berada disana berniat menyewa tanker itu secara reguler. Dan Andrew…” Ibu Ratna menghentikan sesaat penjelasannya yang singkat dan padat. Menghela nafas. Andrew, yang tengah duduk di samping sang ibu, menunggu. “Setelah urusan ini selesai, aku ingin kau mengambil alih perusahaan. Ini duniamu. Ibu yakin, kau sudah siap menerima tantangan ini. Pak Rizal sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatanmu esok.”
Beberapa saat yang lalu, ketika dirinya sedang berada di paviliun Kinan Andrew berniat mengajak wanita cantik itu berjalan-jalan usai makan siang. Entahlah. Andrew merasa ada yang tercabik dari jantungnya saat berada dekat dengan wanita itu. Menarik-narik dirinya untuk tak beranjak jauh dari sisi Kinan. Esok, ia harus terbang menjauh menuju Hongkong. Melintasi Samudera Pasifik, Vancouver, Canada.
Haruskah aku pergi, Kinan? Keluh Andrew dalam hati. Ahk, andaikan saja kau bisa menjawabku.
Dan ia lupa menelpon Kinan seperti yang dijanjikannya.
I wanna be with you, if only for a night
To be the one’s who’s in your arms who holds you tight
I wanna be with you, there’s nothing more to say
There”s nothing else I want more than to feel this way
I Wanna be With You by Mandy Moore
to be continued…
