
Kinan berjalan kesana kemari dengan gelisah. Beberapa kali diliriknya arloji warna keperakan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ditelitinya kembali satu per satu hidangan yang telah dipersiapkan oleh Chef Tiara.
“Tamu kita terlambat datang. Tolong jaga agar semua makanan tetap segar dan hangat. Spinach salad?”
“Checked!” Jawab Chef Tiara sigap.
“Chilled lobster?”
“Checked!”
“Fried calamari?”
“Checked!”
“Oya, untuk brownie fudge sundae, pastikan brownies dan vanilla ice cream kita dalam rasa yang sempurna. Saya ingin semuanya dihidangkan dengan istimewa,” Kinan melakukan briefing secara cepat. Chef Tiara dengan cermat melakukan semua yang diperintahkan Kinan. Kinan tidak salah pilih menempatkan Chef Tiara sebagai orang kepercayaannya.
Tetamu mereka kali ini memang bukan tamu sembarangan. Perusahaan itu telah menjadi pelanggan tetap Restoran “Marina” sejak dua tahun belakangan. Para manajer dan stafnya kerap mengadakan jamuan makan siang maupun malam dengan klien mereka. Merupakan tugas Kinan untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.
Tepat ketika Kinan melangkahkan kaki ke lobi, ia melihat seseorang yang dikenalnya. Andrew! Andrew Soebrata. Pria itu melangkah dengan tegap menuju Kinan. “Halo! Apakah ada meja untuk saya?” Sapanya lengkap dengan seulas senyum yang terkembang. “Maaf, Pak. Hari ini restoran kami tidak menerima tamu lain. Semua meja sudah dipesan,” cepat-cepat Kinan menyahut. Ah, senyum itu selalu membuat jantung Kinan berdenyar lebih cepat. “Oh, lalu bagaimana ini? Haruskah saya makan di paviliun Anda lagi?” tanya Andrew dengan tatap mata menggoda. “Saya kelaparan. Masa Anda tega menolak saya?” “Tapi, Pak… Semua hidangan kami hari ini khusus untuk pesanan,” tukas Kinan dengan tegas. “Apapun saya makan, meskipun Anda memasakkan saya mi instan. Saya sudah terlanjur kemari, dan saya kelaparan. Anda tidak mau kan, maag saya kambuh?” desak Andrew. Tamu-tamu mulai berdatangan dan Kinan tidak ingin kehadiran Andrew mengganggu suasana. “Baiklah. Mari ikut saya,” ajak Kinan.
Mereka melangkah menuju pantri pribadi Kinan. “Silahkan duduk. Tunggu sebentar, saya akan memasakkan sesuatu untuk Anda,” lanjut Kinan sembari menyiapkan peralatan memasak. Diambilnya sepiring udang segar dari lemari pendingin. Andrew memperhatikan gerak gerik Kinan yang memotong-motong bawang bombay dengan cekatan. “Nggg… Kinan, bolehkah saya bertanya?” ujar Andrew sedikit ragu. “Silahkan, Pak,” jawab Kinan sambil mulai menumis udang. “Aduh, panggil saya Andrew. Jangan Pak-Pak begitu.” “Mmm, baiklah. Andrew,” ralat Kinan. “Kalau boleh tahu, siapa kedua pria yang ada dalam foto denganmu di ruang makan itu? Kalian terlihat akrab. Kalau tidak bisa dibilang mesra, sih…” lanjut Andrew hati-hati.
If I don’t tell you now, I may never get the chance again
To tell you that I need you, tell you what I’m feeling
If I keep this feelings in, and I don’t say the words
How will you hear what’s inside my heart…
If I Don’t Tell You Now by Ronan Keating
to be continued…
