
Dengan sopan Dion memandu Andrew beserta ibunya menuju sebuah ruangan di sisi selatan restoran “Marina”. Di ruangan itu terdapat sebuah meja makan besar berukiran rumit yang dapat mengakomodasi empat orang. Di atas meja, rangkaian mawar putih, aster, dan anggrek bulan berpadu dengan anyelir merah muda dalam sebuah vas kristal bening cantik. Usai mencatat beberapa pesanan makanan, Dion pun beranjak meninggalkan keduanya.
Andrew melayangkan pandangan ke seluruh ruangan paviliun dengan cermat. Secermat ia meneliti berlembar-lembar laporan perusahaannya. Mata elangnya menyusuri deretan pigura di dinding hingga mengarah tepat ke sebuah foto dua pria yang tengah mengapit seorang wanita. Disain interior ruangan nampak luas. Tanpa sekat. Jendela-jendela kacanya yang bening, besar dan tinggi membuat matanya leluasa memandang langsung sebuah taman mungil nan asri di luar yang bermandikan cahaya lampu temaram. Sebuah lampu kristal berkilau menjuntai dengan indahnya di atas lantai marmer warna gading. Dominasi dinding berwarna krem muda kian menghangatkan suasana. Nyaman sekali. Samar-samar terdengar lagu instrumentalia Richard Clayderman mengalun lembut, Love is Blue.
Sup ikan idaman Ibu Ratna Soebrata terhidang di hadapannya. Aromanya sanggup menggelitik selera siapa saja. Kesegaran sup yang direguk masuk ke dalam kerongkongannya terasa sangat menakjubkan. Tekstur daging ikan yang lembut memudahkan giginya yang renta mengunyah. Sungguh nikmat rasanya. “Tiada racikan sup ikan selezat restoran ini”. Kalimat pujian Ibu Ratna tertuju kepada putranya. Andrew mengganggukan kepala tanda setuju. Jauh di dalam hatinya, ia bahagia tak terperi melihat ibunda tercinta sangat semangat menghabiskan sup itu. Demi ibu, aku rela melakukan apa saja, termasuk melanggar peraturan restoran ini, batinnya.
“Selamat Ulang Tahun, Bu.” Ucap Andrew setelah mereka menghabiskan potongan dessert terakhir. Lalu ia mencium tangan dan pipi ibunya. Di balik tirai sudut lain ruangan itu, seseorang memperhatikan adegan membahagiakan tersebut. Pelupuk matanya basah oleh genangan airmata.
Tak lama kemudian Andrew memberi isyarat tangannya kepada pelayan, yang selalu siap menerima titahnya, agar membawa tagihan. Sang pelayan pergi dan kembali membawa nampan tagihan. “Silahkan, Pak.” Kata pelayan itu sambil meletakkan nampan di atas meja. Andrew merogoh dompetnya seraya melihat total tagihan. Kedua matanya terbelalak melihat angka yang tertera.
I found the man of my dream,
Next time you will get to know him
Many things happened while I was away,
Mother how are you today?
Mother How Are You Today by Maywood
