RSS

Monthly Archives: December 2011

Hentikan!

www.deviantart.com

“Sini, Rita. Jangan malu-malu!” mas Samwani melambaikan tangan sambil memanggilku.

Kutarik-tarik ke bawah rok mini ketat warna shocking pink yang membalut pinggul sintalku sembari menghampiri mereka. Untung saja aku masih sempat mencukur bulu kaki. Tadi siang rok ini baru kubeli di toko seberang Pasar Minggu. Hasil tawar menawar yang cukup alot. Selisih harga sepuluh ribu, sudah bisa membuatku tersenyum penuh kemenangan. Lumayan, untuk tambahan membeli minyak sinyong-nyong.

Kini aku semakin dapat memandang jelas wajah mas Slamet. Ia tersenyum padaku. Kulihat kumisnya bergerak-gerak. Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa geli. Mungkin karena kumisnya yang melintang itu terlihat seperti ujung ekor tikus got.

“Par… Eh, Rita.” Deheman keras mas Samwani menyadarkanku. Kuterima uluran tangan mas Slamet yang mengajakku bersalaman. Ujung telunjuknya menggelitiki telapak tanganku. Nakal.

“Slamet,” ujarnya sambil tersenyum, yang bagiku lebih mirip seringaian. Lelaki ini ternyata terlihat jauh lebih tampan bila dipandang dari kejauhan.

Belum sempat kami saling bertukar kata, tiba-tiba kurasakan hembusan angin yang sangat kencang menghantam punggungku. Daun-daun kering bertebaran ke segala penjuru seolah terkena tiupan maha dahsyat. Tanpa kami sadari, lelaki dengan tato angka di dada, telah menjejakkan kakinya dan berdiri di hadapan kami. Menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu gin-kang yang sungguh mempuni.

“PARTO! Sudah kubilang, jangan keluar dari persembunyianmu!” Wajahnya terlihat merah padam menahan amarah. Ditariknya paksa lengan kananku hingga aku nyaris terjengkang di balik tubuh tambunnya.

“Kurang ajar! Wahai Kisanak, apa maumu?” damprat mas Slamet. Matanya melotot seperti nyaris mencuat dari dalam kepala. Mas Samwani yang melihat keadaan menjadi kian memanas, beringsut mundur lalu bersembunyi di balik bilik bambu. Badannya gemetar ketakutan.

“Aku yang harusnya bertanya padamu. Apa yang hendak kau lakukan pada Parto? Dia murid perguruanku yang terbaik. Jangan coba-coba menculiknya!” Suara pria bertato itu terdengar menggelegar.

Aku? Murid terbaik dari perguruan pria bertato itu? Padahal sedikitpun aku tak mengenalinya. Bibirku membuka hendak bertanya, ketika kudengar teriakan mas Slamet. “Aaahhh…!” Tubuhnya serta merta terangkat tinggi lalu menghantam sebuah pohon besar. Secepat kilat pria bertato itu melayang lalu menerjang mas Slamet. Tulang keringnya ditendang sekuat tenaga. Krakk!! Tulang kaki mas Slamet berderak patah. Ia melosoh ke tanah. Menggeliat-geliat karena tak sanggup berdiri. Tak memberi kesempatan, pria bertato itu menelikung tangan mas Slamet kuat-kuat.

“Jangan coba-coba lagi mendekati Parto! Atau kau akan rasakan sendiri akibatnya.”

“Coba saja kalau kau berani,” desis mas Slamet di tengah erangannya.

“Hentikan!” Aku memberanikan diri berlari menuju mereka sambil berteriak. “Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa kalian sebenarnya? Mengapa aku kehilangan ingatanku?”

~~~

Ini adalah cerita berantai. Seperti cerita pertama, yang dibawakan Om Belukar dan cerita kedua, oleh Rushed. Ini adalah bagian cerita saya. Dan cerita selanjutnya akan dilanjutkan oleh anaknye emak.

 
Leave a comment

Posted by on December 21, 2011 in Ngerumpi

 

Di Balik Layar: “Sejuta Kepak Kupu-Kupu”

www.google.com

 

Beberapa waktu lalu saya meminang Ladypiano untuk bersama-sama menulis rangkaian cerita. Sebenarnya saya tidak berani terlalu berharap ia mau menerima pinangan saya. Kesibukannya yang luar biasa membuat saya akan sangat memaklumi bila jawabannya adalah penolakan. Hikss… Lama kemudian, ia menyanggupi permintaan saya dan lahirlah “Sejuta Kepak Kupu-Kupu”.

Cerita bersambung yang saya impikan bukan sekedar kisah jalinan asmara biasa. Harus ada warna lain yang akan membuatnya terasa lebih istimewa bila dibandingkan dengan cerita kolaborasi yang pernah saya jalani sebelumnya. Niat awalnya sih, mengemas obyek wisata dalam bentuk yang berbeda tanpa kesan menyerupai iklan biro perjalanan.

Saya yang banyak maunya, menetapkan dua syarat *wogh, gaya!  Satu, harus ada penggalan lirik lagu di setiap akhir episode yang mewakili perasaan si tokoh cerita. Semacam soundtrack. Dua, harus ada setting lokasi yang nyata ada, bukan rekaan semata. Jadi tidak sekedar bercerita adegan berlangsung di café Cangkir, kampus Mawar Biru, ataupun rumah si Doi.

Ladypiano, dengan pengalamannya menjelajahi beberapa kota di dalam serta luar negeri, memberi saya banyak pencerahan dan membuka wawasan baru tentang ragam tempat eksotis yang belum pernah saya kunjungi. Gaya bertuturnya yang ringan, mampu mendeskripsikan tempat-tempat indah itu dengan sangat baik hingga membuat saya serasa ikut mengalaminya.

Sebetulnya, tidak ada konsep yang jelas tentang penulisan cerbung ini. Hanya menulis bergantian di tiap episodenya tanpa rekan duet mengetahui ending episode tersebut. Sesederhana itu. Namun yang terjadi, bagi saya lebih sulit berkolaborasi menulis cerbung daripada cerpen. Kenapa? Mulanya, saya ingin menulis dengan gaya saya. Mengalir, tanpa tahu ending-nya seperti apa. Itu berhasil pada episode satu hingga empat. Kemudian, saya baru menyadari, bila diteruskan akan berakibat fatal:  episode menjadi tak terkontrol jumlahnya. Bisa dipastikan, pembaca akan merasa bosan. Cerita berkepanjangan dan bertele-tele bak sinetron. Meminjam istilah om warm “sejuta episode”, hehehe…

Teknik pun diubah. Ladypiano mengusulkan ide cemerlang agar alur dibuat lebih jelas dan terarah. Harus ada garis besar ceritanya. Dan begitulah yang terjadi. Episode demi episode selanjutnya tetap kami tulis secara bergantian. Hanya saja, kali ini kami tahu (akan) seperti apa episode berikutnya. Khusus pada dua peisode terakhir, kami menuliskannya secara bersama-sama. Menggabungkan setting lokasi yang kuat a la Ladypiano dan romantisme dua sejoli a la miayam.

Banyak kejadian seru dan unik yang kami alami ketika berperan sebagai penulis, sekaligus editor.

Pertama, lantaran saya baru mengetahui ending episode yang dipilih Ladypiano beberapa menit setelah ia terbitkan, maka baru pada saat itulah saya pontang-panting menyusun “skenario” lanjutannya. Demikian juga sebaliknya. Pernah Ladypiano manyun seharian gara-gara ulah saya. Pasalnya, saya merubah ending yang telah disepakati tanpa sepengetahuannya. Padahal tulisan sudah terbit! Tantangan ini membuat Ladypiano berpikir keras memeras otak karena ia terpaksa merubah total skenarionya agar selaras dengan cerita sebelumnya. Sangat merepotkan. Tapi percayalah, that’s fun!

Kedua, adalah lumrah bagi kami untuk saling mengkritik tulisan rekan duet selama kritikan itu positif dan dapat diterima. Jadwal terbitnya yang rutin setiap pagi, kecuali hari Minggu, mengharuskan kami untuk lebih menaruh perhatian dan meluangkan waktu di tengah kesibukan masing-masing. Sembari berkejaran dengan jam tayang, kami masih menyempatkan diri mengedit tulisan beberapa menit sebelum SENT. Tentu saja, kami selalu berusaha menjunjung tinggi sikap tenggang rasa saat perbedaan pendapat terjadi di antara kami.

Ketiga, proses pemilihan gambar latar dan penggalan lirik lagu untuk setiap episode, berhasil menciptakan kesan tersendiri. Browsing gambar untuk tulisan kolaborasi tampaknya semudah menjentikkan jari.  Ternyata tidak demikian, Rumpiers. Lama, bo! Sebab kami harus saling setuju memilih satu di antara banyak gambar/lagu yang tersedia. Pada episode ke-9, saya bahkan sempat dua kali mengganti gambar latar setelah tulisan itu terbit! Bahkan hingga memilih kata-kata kutipan pun kami harus sepakat. Atau mungkin, sepakat untuk tidak sepakat.

Di atas segalanya, hal paling mengharukan kami adalah ketika mengetahui ada diantara pembaca yang setia mengikuti cerbung ini sedari awal. Sungguh di luar perkiraan. Untuk itu, sudah selayaknyalah kami menghaturkan rasa TERIMAKASIH yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga Ngerumpi disini, terutama para editor dadakan yang bersedia mengkoreksi penulisan kata yang dirasa kurang tepat: Penikmat Senja dan Anaknye Emak

Semoga cerbung ini dapat menjadi inspirasi dan menambah wawasan para pembaca sekalian.

 

Salam Rumpiers!

 

Ladypianomiayam

 

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2011 in Ngerumpi

 

Sejuta Kepak Kupu-Kupu (9)

fairmont le cheteau

Untuk menyenangkan hati Kinan, Andrew ingin mengajaknya ke Quebec. Untuk itu, ia rela berkendara selama beberapa malam menempuh jalan bebas hambatan yang menghubungkan Toronto – Ottawa – Montreal – Quebec. Dalam perjalanan yang sangat panjang ini, Andrew mengarahkan kendaraannya menuju exit kota Ottawa.

 

Ottawa Parliament Building, lebih dikenal dengan sebutan Parliament Hill, terletak di kota Ottawa, Ontario, ibukota negara Kanada. Bangunan Parliament Hill bergaya gothic abad ke-18 itu berdiri megah dan anggun di hadapan Andrew dan Kinan. Daya tariknya mampu menyihir tiga juta pengunjung dari manca negara setiap tahunnya. Pada malam-malam tertentu di musim panas, biasanya ada pertunjukan Sound and Light Show dengan Parliament Hill itu sendiri sebagai layar raksasanya. Setelah lelah berkeliling bangunan, Andrew mengajak Kinan duduk rehat di atas halaman berumput hijau gedung itu yang luas.

“Kau belum menceritakan bagaimana bisa sampai di sini,” ujar Andrew sambil memandang wajah Kinan.

“Oh, itu. Kau masih terkejut rupanya?” Kinan bertanya menggoda. Andrew tergelak ringan menanggapi godaan Kinan, “Dua hari setelah kepergianmu, ibumu datang ke restoranku. Beliau mengkhawatirkan kesehatanmu akhir-akhir ini dan memintaku secara khusus menemanimu di sini selama ibumu berada di Jakarta. Katanya, kau pria kedua tersulit diatur untuk urusan makanan setelah almarhum ayahmu.”

“Ah, ibu! Jadi ibuku mengatur semua ini untukmu?” seru Andrew setengah tak percaya. Kinan menganggukkan kepala. Di tengah tawanya yang berderai, Andrew berkata, “Ibu memang paling tahu apa yang aku butuhkan!”

 

****

 

Setibanya di Quebec.

Keduanya menjejakkan kaki di depan hotel Fairmont Le Chateau Frontenac, Quebec, yang berada di atas bukit. Usai beristirahat semalam di hotel itu, siang harinya Andrew dan Kinan duduk di sebuah bangku taman yang menghadap Quebec City nun jauh di bawah sana. Sekelompok burung kecil berkumpul dan berterbangan di pelataran  hotel.  Hembusan angin pada temperatur 20 derajat celcius membuat Kinan menggosokkan kedua lengannya. Andrew yang melihat hal itu, seketika membuka jaketnya sendiri dan mengenakannya pada tubuh Kinan. Setelah puas menikmati pemandangan kota, merekapun berjalan menuruni beberapa anak tangga dan tiba di sebuah restoran masakan Perancis.

“Sesungguhnya aku sudah lama mendengar namamu. Bahkan sudah banyak yang kuketahui tentangmu,” tutur Andrew santai.

“Oh?”

“Ibuku sering pulang ke Jakarta. Gara-gara sup ikan restoranmu yang enak, beliau ketagihan makan di sana. Kau mungkin tak mengenalnya karena beliau selalu datang bersama para kolega atau staf perusahaan. Beliau kagum pada sosok wanita mandiri sepertimu dan memintaku datang untuk mengenalmu.” Andrew memandang wajah Kinan yang merona menahan malu.

“Selama dua bulan di Jakarta, aku memang hanya dua kali bertemu denganmu. Tapi melalui cerita ibuku, banyak hal telah kuketahui tentangmu. Dan, kau tahu? Aku mengerahkan seluruh staf perusahaan untuk makan siang di restoranmu. Berharap kau mau menerimaku makan di paviliunmu lagi,” lanjut Andrew sembari tersenyum.

“Jadi, PT. Adhi Perkasa itu..? Kau?”

“Ya, itu perusahaanku,” jawab Andrew tanpa bermaksud menyombongkan diri.

“Kau menyelidikiku, ya?” Kinan tersenyum.

“Demi kebaikan, ya!” jawab Andrew. “Tidak heran bila ibu menyukai sosokmu. Kau sendiri, mengapa bersedia datang ke sini memenuhi permintaan ibuku?”

“Bukan karena ibumu saja. Aku memang tertarik padamu setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa kau sangat menyayangi ibumu.”

“Hmm?”

“Ya. Aku melihatmu mencium tangan dan pipi ibumu saat kalian berada di paviliun. Ingat?”

“Tentu ingat. Bagaimana aku bisa lupa?”

 

Please don’t let this feeling end, it’s everything I am

Everything I want to be, I can see what’s mine now

Finding out what’s true, since I found you

Looking through the eyes of love…

 

Looking Through the Eyes of Love by Nikka Costa


to be continued…

 

 

 
Leave a comment

Posted by on December 17, 2011 in Ngerumpi

 

(Masih) Tentang Rindu

www.deviantart.com

 

“Aku rindu.”

“Ya, aku tahu.”

“Tak sabar ingin bertemu denganmu…”

“Apa yang pertama kali ingin kau lakukan bila hari itu tiba?”

“Memelukmu.”

 

Dan di sinilah aku. Menagih janji semesta untuk menghantarmu kemari. Menikmati tiap lekuk wajahmu lalu memetakannya dalam hati. Diam-diam melafazkan pujian atas hadirmu yang kasat. Mencecap manisnya rindu yang kian memekat.

 

“Mengapa diam? Tidakkah kau ingin memelukku?”

“Ah, baru kusadari. Memandangimu sama indahnya dengan memelukmu…”

 

 
Leave a comment

Posted by on December 16, 2011 in Ngerumpi

 

Sejuta Kepak Kupu-Kupu (7)

www.deviantart.com

Writers: Ladypiano & miayam

 

 

(Cerita sebelumnya: 6)


Senyum tersungging di bibir Ibu Ratna. Andrew pasti akan datang secepat kilat. Anak semata wayangnya ini memang tiada tara. Sejak usia remaja, ia hidup terpisah demi memperoleh pendidikan terbaik di negara Uncle Sam. Di sela-sela liburan musim panas sekolah barulah Andrew diboyong pulang orangtuanya agar mengenal keindahan Gili Trawangan, Danau Toba ataupun Raja Ampat. Andrew memang sangat tertarik dengan keindahan alam, terutama laut. Selepas meraih gelar M.Sc Degree dari Colorado School of Mines, Amerika Serikat, Andrew bergabung dengan perusahaan eksplorasi minyak di Laut Cina Selatan. Justru Salim Soebrata, orang tua sekaligus pendiri dan CEO perusahaan A & S Lines, yang menginginkan sang anak mengabdi di perusahaannya. Andrew menolak. Ia ingin mandiri merintis karir, lepas dari bayang-bayang kemegahan orangtuanya. Namun takdir berkehendak lain. Ayahnya berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa di ruang kerjanya saat musim dingin ekstrim melanda kawasan Vancouver, British Colombia, Canada.

Ibu Ratna segera mengambil alih perusahaan. Tak pernah sekalipun ia menyinggung ikhwal roda perusahaan di hadapan Andrew. Secara rahasia sebenarnya Andrew meminta pak Rizal untuk selalu memberitahukan segala masalah perusahaan. Sebagai seorang sekretaris perusahaan, pak Rizal banyak mengetahui keadaan perusahaan yang kompleks. Dari titik inilah Andrew mengetahui ketangguhan sang ibu memimpin perusahaan. Setahun kemudian, Andrew terbang ke Vancouver membantu sang ibu. Dengan cepat ia mempelajari seluk beluk perusahaan. Dari tingkat terbawah hingga teratas. Ia tahu persis bagaimana cara mengelola perusahaan. Di tangan Andrew yang pekerja keras dan serius, A & S Lines berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan jasa penyewaan tanker minyak yang  disegani.

Saatnya telah tiba bagi Andrew.

“Andrew, Pulau Sabang kita mengalami kerusakan mesin di perairan Strait of Georgia. Cukup parah. Kita beruntung kapal itu sedang berlayar tanpa muatan minyak. Pak Rizal menelponku tadi dari BC.” Pulau Sabang yang dimaksud adalah nama kapal tanker minyak berbobot mati 6.000 ton. “Aku mau kau terbang kesana. Atasi kerusakan itu. Selekas mungkin. Pejabat Pertalon yang saat ini sedang berada disana berniat menyewa tanker itu secara reguler. Dan Andrew…” Ibu Ratna menghentikan sesaat penjelasannya yang singkat dan padat. Menghela nafas. Andrew, yang tengah duduk di samping sang ibu, menunggu. “Setelah urusan ini selesai, aku ingin kau mengambil alih perusahaan. Ini duniamu. Ibu yakin, kau sudah siap menerima tantangan ini. Pak Rizal sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatanmu esok.”

Beberapa saat yang lalu, ketika dirinya sedang berada di  paviliun Kinan Andrew berniat mengajak wanita cantik itu berjalan-jalan usai makan siang. Entahlah. Andrew merasa ada yang tercabik dari jantungnya saat berada dekat dengan wanita itu. Menarik-narik dirinya untuk tak beranjak jauh dari sisi Kinan. Esok, ia harus terbang menjauh menuju Hongkong. Melintasi Samudera Pasifik, Vancouver, Canada.

Haruskah aku pergi, Kinan? Keluh Andrew dalam hati. Ahk, andaikan saja kau bisa menjawabku.

Dan ia lupa menelpon Kinan seperti yang dijanjikannya.

 

 

I wanna be with you, if only for a night

To be the one’s who’s in your arms who holds you tight

I wanna be with you, there’s nothing more to say

There”s nothing else I want more than to feel this way


I Wanna be With You by Mandy Moore

 

 

to be continued…

 
Leave a comment

Posted by on December 15, 2011 in Ngerumpi

 

Sejuta Kepak Kupu-Kupu (5)

www.deviantart.com

Writers: Ladypiano & miayam

(Cerita sebelumnya: 4)

Kinan berjalan kesana kemari dengan gelisah. Beberapa kali diliriknya arloji warna keperakan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ditelitinya kembali satu per satu hidangan yang telah dipersiapkan oleh Chef Tiara.

“Tamu kita terlambat datang. Tolong jaga agar semua makanan tetap segar dan hangat. Spinach salad?”

 “Checked!” Jawab Chef Tiara sigap.

“Chilled lobster?”

“Checked!” 

“Fried calamari?”

“Checked!”

“Oya, untuk brownie fudge sundae, pastikan brownies dan vanilla ice cream kita dalam rasa yang sempurna. Saya ingin semuanya dihidangkan dengan istimewa,” Kinan melakukan briefing secara cepat. Chef Tiara dengan cermat melakukan semua yang diperintahkan Kinan. Kinan tidak salah pilih menempatkan Chef Tiara sebagai orang kepercayaannya.

Tetamu mereka kali ini memang bukan tamu sembarangan. Perusahaan itu telah menjadi pelanggan tetap Restoran “Marina” sejak dua tahun belakangan. Para manajer dan stafnya kerap mengadakan jamuan makan siang maupun malam dengan klien mereka. Merupakan tugas Kinan untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Tepat ketika Kinan melangkahkan kaki ke lobi, ia melihat seseorang yang dikenalnya. Andrew! Andrew Soebrata. Pria itu melangkah dengan tegap menuju Kinan. “Halo! Apakah ada meja untuk saya?” Sapanya lengkap dengan seulas senyum yang terkembang. “Maaf, Pak. Hari ini restoran kami tidak menerima tamu lain. Semua meja sudah dipesan,” cepat-cepat Kinan menyahut. Ah, senyum itu selalu membuat jantung Kinan berdenyar lebih cepat. “Oh, lalu bagaimana ini? Haruskah saya makan di paviliun Anda lagi?” tanya Andrew dengan tatap mata menggoda. “Saya kelaparan. Masa Anda tega menolak saya?” “Tapi, Pak… Semua hidangan kami hari ini khusus untuk pesanan,” tukas Kinan dengan tegas. Apapun saya makan, meskipun Anda memasakkan saya mi instan. Saya sudah terlanjur kemari, dan saya kelaparan. Anda tidak mau kan, maag saya kambuh?” desak Andrew. Tamu-tamu mulai berdatangan dan Kinan tidak ingin kehadiran Andrew mengganggu suasana. “Baiklah. Mari ikut saya,” ajak Kinan.

Mereka melangkah menuju pantri pribadi Kinan. “Silahkan duduk. Tunggu sebentar, saya akan memasakkan sesuatu untuk Anda,” lanjut Kinan sembari menyiapkan peralatan memasak. Diambilnya sepiring udang segar dari lemari pendingin. Andrew memperhatikan gerak gerik Kinan yang memotong-motong bawang bombay dengan cekatan. “Nggg… Kinan, bolehkah saya bertanya?” ujar Andrew sedikit ragu. “Silahkan, Pak,” jawab Kinan sambil mulai menumis udang. “Aduh, panggil saya Andrew. Jangan Pak-Pak begitu.” “Mmm, baiklah. Andrew,” ralat Kinan. “Kalau boleh tahu, siapa kedua pria yang ada dalam foto denganmu di ruang makan itu? Kalian terlihat akrab. Kalau tidak bisa dibilang mesra, sih…” lanjut Andrew hati-hati.

If I don’t tell you now, I may never get the chance again

To tell you that I need you, tell you what I’m feeling

If I keep this feelings in, and I don’t say the words

How will you hear what’s inside my heart…


If I Don’t Tell You Now by Ronan Keating

to be continued…

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2011 in Ngerumpi

 

Sejuta Kepak Kupu-Kupu (3)

www.deviantart.com

Writers: Ladypiano & miayam

(Cerita sebelumnya: 2)

Dengan sopan Dion memandu Andrew beserta ibunya menuju sebuah ruangan di sisi selatan restoran “Marina”. Di ruangan itu terdapat sebuah meja makan besar berukiran rumit yang dapat mengakomodasi empat orang. Di atas meja, rangkaian mawar putih, aster, dan anggrek bulan berpadu dengan anyelir merah muda dalam sebuah vas kristal bening cantik. Usai mencatat beberapa pesanan makanan, Dion pun beranjak meninggalkan keduanya.

Andrew melayangkan pandangan ke seluruh ruangan paviliun dengan cermat. Secermat ia meneliti berlembar-lembar laporan perusahaannya. Mata elangnya menyusuri deretan pigura di dinding hingga mengarah tepat ke sebuah foto dua pria yang tengah mengapit seorang wanita. Disain interior ruangan nampak luas. Tanpa sekat. Jendela-jendela kacanya yang bening, besar dan tinggi membuat matanya leluasa memandang langsung sebuah taman mungil nan asri di luar yang bermandikan cahaya lampu temaram.  Sebuah lampu kristal berkilau menjuntai dengan indahnya di atas lantai marmer warna gading. Dominasi dinding berwarna krem muda kian menghangatkan suasana. Nyaman sekali. Samar-samar terdengar lagu instrumentalia Richard Clayderman mengalun lembut, Love is Blue.

Sup ikan idaman Ibu Ratna Soebrata terhidang di hadapannya.  Aromanya  sanggup menggelitik selera siapa saja. Kesegaran sup yang direguk masuk ke dalam kerongkongannya terasa sangat menakjubkan. Tekstur daging ikan yang  lembut memudahkan giginya yang renta mengunyah. Sungguh nikmat rasanya. “Tiada racikan sup ikan selezat restoran ini”. Kalimat pujian Ibu Ratna tertuju kepada putranya. Andrew mengganggukan kepala tanda setuju. Jauh di dalam hatinya, ia bahagia tak terperi melihat ibunda tercinta sangat semangat menghabiskan sup itu. Demi ibu, aku rela melakukan apa saja, termasuk melanggar peraturan restoran ini, batinnya. 

“Selamat Ulang Tahun, Bu.” Ucap Andrew setelah mereka menghabiskan potongan dessert terakhir. Lalu ia mencium tangan dan pipi ibunya.  Di balik tirai sudut lain ruangan itu, seseorang memperhatikan adegan membahagiakan tersebut. Pelupuk matanya basah oleh genangan airmata.

Tak lama kemudian Andrew memberi isyarat tangannya kepada pelayan, yang selalu siap menerima titahnya, agar membawa tagihan. Sang pelayan pergi dan kembali membawa nampan tagihan. “Silahkan, Pak.” Kata pelayan itu sambil meletakkan nampan di atas meja. Andrew merogoh dompetnya seraya melihat total tagihan. Kedua matanya terbelalak  melihat angka yang tertera.

I found the man of my dream,

Next time you will get to know him

Many things happened while I was away,

Mother how are you today?


Mother How Are You Today by Maywood

(cerita berikutnya: 4)

 
1 Comment

Posted by on December 10, 2011 in Ngerumpi

 

Sejuta Kepak Kupu-Kupu (1)

kafe

Cerita ini merupakan salah satu dari rangkaian cerita bersambung yang ditulis bersama Ladypiano.

Bulan separuh. Malam belum sepenuhnya melebur bersama kerlip gemintang yang memancar pudar. Malu-malu. Kinan meregangkan kedua lengannya sembari memejamkan mata. Dihirupnya nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya melalui bibir yang membentuk huruf O.

Sesaat wanita itu melempar pandang ke luar jendela ruang kerjanya yang terletak di sayap utara sebuah bangunan restoran. Sudah enam tahun tempat ini dikelolanya sepenuh hati. Restoran dengan konsep taman nan asri yang ia rintis demi mewujudkan cita-citanya. Ia memang sangat mencintai dunia memasak. Ada kebahagiaan tersendiri bila racikannya berhasil menciptakan kepuasan bagi setiap orang yang memakannya.

Pukul tujuh petang. Waktunya makan malam. Saat ini setiap meja telah terisi oleh pengunjung yang ingin menikmati sajian istimewa dari restorannya. Kebanyakan pelanggannya memang dari kalangan atas, meskipun Kinan sendiri tidak bermaksud mengkotak-kotakkan pelanggan. Mereka yang pernah berkunjung ke restorannya, mempromosikan dari mulut ke mulut. Dengan cepat restoran “Marina” berkembang pesat. Menyadari hal itu, Kinan selalu menjaga kualitas pelayanan restorannya.

Dilihatnya lahan parkir di depan restoran telah disesaki oleh berbagai mobil. Senyum bangga tersungging di bibirnya yang tipis. Tidak sia-sia jerih payahnya selama ini. “Bu Kinan? tiba-tiba terdengar suara seseorang disusul dengan ketukan perlahan di pintu ruangannya. Ya, silahkan masuk,” jawab Kinan. Dion, manajer restorannya, memasuki ruangan dengan gugup. “Maaf Bu, di depan ada pelanggan yang marah-marah karena tidak mendapat tempat duduk. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena semua meja memang sudah penuh, sedangkan beliau tidak melakukan reservasi terlebih dahulu. Kami sudah berusaha menenangkannya, namun beliau tetap tidak peduli. Beliau malah ingin bertemu dengan Ibu.” Tampak jelas ekspresi kesal di wajah Kinan. “Ya sudah, saya ambil alih. Orang kaya kadang mau seenaknya sendiri!” “Nggg… Tapi, Bu…” “Ya? Kenapa lagi?” sahut Kinan cepat. “Beliau pemilik tanker minyak ternama. Andrew Soebrata,” terbata Dion menjelaskan pada Kinan. “Saya tidak peduli dia pemilik tanker minyak atau tambang berlian sekalipun! Kalau dia tidak mau menunggu giliran, silahkan cari restoran yang lain.”

Kinan sering merasa jengkel dengan orang-orang kaya yang bersikap sombong semacam ini. Apa mereka pikir semua yang ada di bumi bisa dibeli? Sukanya bikin ribut saja. Padahal masih banyak orang yang lebih kaya darinya namun bersikap lebih bersahaja.

Bergegas Kinan melangkahkan kaki menuju lobi restorannya. Dion tergopoh-gopoh mengikutinya dari belakang. Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya terisi sebuah meja akar jati utuh berbentuk bundar dengan sebuah vas yang berisi rangkaian bunga lily merah tua. Di atasnya tergantung lampu kristal dengan pancaran cahaya yang lembut. Pada salah satu dindingnya terdapat aquarium air laut lengkap dengan ikan dan beberapa spesies laut lainnya.

Seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam perlente sedang berdiri memunggunginya. Kedua tangan pria itu diselipkan ke dalam saku celana panjangnya. Rambutnya klimis dan aroma parfum Bvlgari samar menyeruak ke dalam indra penciuman Kinan. Jadi ini Andrew Soebrata, milyuner yang sering muncul di pemberitaan media massa itu?

Tampan. Gumam Kinan.

(Cerita berikutnya: 2)

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in Ngerumpi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.