Kemarin siang saya menyempatkan diri berkunjung ke Mirota Batik Jogjakarta. Tempat yang memudahkan saya untuk mencari oleh-oleh bagi keluarga dan kawan-kawan terdekat karena konsep tokonya yang one stop shopping. Mungkin barang seMalioboro ditumplek blek di situ. Ya sudah, saya ngublek di situ saja. Daripada kaki dibikin pegel karena jalan kesana kemari padahal yang dicari cuma gantungan kunci sebiji kan, ya? Eh, saya kok jadi ngelantur promosiin “lahannya” orang.
Jadi gini, mungkin karena menjelang akhir pekan, maka jumlah pengunjungnya lumayan banyak. Sedikit senggol kanan senggol kiri untuk sekedar bentangin daster batik, sudah lumrah saya lakukan. Belum lagi berlagak jadi turis yang pura-pura jarang ke Jogja biar dapat tester bakpia rasa keju dan ubi ungunya, plus kacang hijau. Lumayan, bikin kenyang.
Nah, ketika asyik memilah milih di deretan pakaian perempuan, tanpa sengaja saya mendengar seorang bapak berusia setengah baya dengan logat Jakarta bertanya kepada pramuniaga, “Mbak, saya mencari pakaian batik untuk perempuan warna ungu. Yang bagus ya, Mbak. Ingat, warna ungu. Istri saya sukanya warna ungu.” Beberapa pakaian disodorkan kepadanya, namun si bapak terus menggeleng. Kurang bagus, katanya. Tidak cocok untuk istrinya. Saya tersenyum melihatnya. Ah, pasti bapak itu sangat menyayangi istrinya sampai-sampai ingat untuk membeli oleh-oleh kesukaan istrinya.
Beberapa pengunjung di selasar itu yang mayoritas adalah ibu-ibu, menggoda bapak tersebut. “Wah, sayang sekali pak, dengan istrinya? Susah-susah dicarikan oleh-oleh yang terbaik. Pasti istrinya senang sekali, ya?” Ah, ternyata bukan saya saja yang berpikir demikian.
Si bapak agak terperanjat mendengarnya. Dengan cepat dia berkata, “Aduh, bu… Bukan sayang. Saya barusan di SMS istri saya, dia bilang gini, ‘Awas ya, jangan lupa belikan aku baju batik. Awas, jangan lupa!’ Lah, manalah berani saya pulang tidak bawa baju batik itu? Ini bukan sayang, bu… Saya takut!”
Saya yang tidak kuasa menahan tawa, langsung meninggalkan tempat itu. Ah, lelaki…
