RSS

Monthly Archives: November 2011

Untukmu Sayangku

Kemarin siang saya menyempatkan diri berkunjung ke Mirota Batik Jogjakarta. Tempat yang memudahkan saya untuk mencari oleh-oleh bagi keluarga dan kawan-kawan terdekat karena konsep tokonya yang one stop shopping. Mungkin barang seMalioboro ditumplek blek di situ. Ya sudah, saya ngublek di situ saja. Daripada kaki dibikin pegel karena jalan kesana kemari padahal yang dicari cuma gantungan kunci sebiji kan, ya? Eh, saya kok jadi ngelantur promosiin “lahannya” orang.

Jadi gini, mungkin karena menjelang akhir pekan, maka jumlah pengunjungnya lumayan banyak. Sedikit senggol kanan senggol kiri untuk sekedar bentangin daster batik, sudah lumrah saya lakukan. Belum lagi berlagak jadi turis yang pura-pura jarang ke Jogja biar dapat tester bakpia rasa keju dan ubi ungunya, plus kacang hijau. Lumayan, bikin kenyang.

Nah, ketika asyik memilah milih di deretan pakaian perempuan, tanpa sengaja saya mendengar seorang bapak berusia setengah baya dengan logat Jakarta bertanya kepada pramuniaga, “Mbak, saya mencari pakaian batik untuk perempuan warna ungu. Yang bagus ya, Mbak. Ingat, warna ungu. Istri saya sukanya warna ungu.” Beberapa pakaian disodorkan kepadanya, namun si bapak terus menggeleng. Kurang bagus, katanya. Tidak cocok untuk istrinya. Saya tersenyum melihatnya. Ah, pasti bapak itu sangat menyayangi istrinya sampai-sampai ingat untuk membeli oleh-oleh kesukaan istrinya.

Beberapa pengunjung di selasar itu yang mayoritas adalah ibu-ibu, menggoda bapak tersebut. “Wah, sayang sekali pak, dengan istrinya? Susah-susah dicarikan oleh-oleh yang terbaik. Pasti istrinya senang sekali, ya?” Ah, ternyata bukan saya saja yang berpikir demikian.

Si bapak agak terperanjat mendengarnya. Dengan cepat dia berkata, “Aduh, bu… Bukan sayang. Saya barusan di SMS istri saya, dia bilang gini, ‘Awas ya, jangan lupa belikan aku baju batik. Awas, jangan lupa!’ Lah, manalah berani saya pulang tidak bawa baju batik itu? Ini bukan sayang, bu… Saya takut!”

Saya yang tidak kuasa menahan tawa, langsung meninggalkan tempat itu. Ah, lelaki…

 
1 Comment

Posted by on November 26, 2011 in Ngerumpi

 

Buku Oh, Buku…

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat kiriman enam buah novel karya Sandra Brown dari seorang kawan yang bertempat tinggal berbeda kota dengan saya. Awal-awal menerimanya, saya senang bukan kepalang. Sebuah buku langsung habis saya baca. Buku kedua, semangat masih membara. Namun menginjak setengah buku, berdatanganlah bisikan-bisikan penggoda yang berusaha mematahkan keinginan saya untuk membaca. Jangan dipikir saya mengacuhkan buku-buku itu, lho. Wong tiap malam selalu saya letakkan di sebelah bantal, persis di depan wajah saya. Tapi ya gitu, baru baca beberapa baris, saya sudah lelap tertidur. Benar-benar buku pengantar tidur.

Sekali dua teman saya itu menanyakan kabar bukunya. Sudah berapa buku yang berhasil saya baca. Sambil nyengir, saya selalu menjawab dengan sesumbar, “Nanti ya, pasti habis kalau kita bertemu. Aku ceritakan ulang jalan cerita buku-buku itu, deh.” Suara saya yang mantap menenangkan dia (dan saya sendiri).

Hari berganti hari hingga akhirnya bulan demi bulan terlewati. Genap empat bulan sejak janji itu saya ikrarkan. Lha kok, ndilalah… Suatu hari teman saya memberi kabar, “Aku sudah beli tiket lho, ya, untuk ke kotamu. Aku datang tanggal 19 November. Pagi.” DEG! Jujur, yang terpikir pertama kali ketika mendengar berita itu adalah saya harus segera menyelesaikan membaca lima novel yang tersisa sebelum hari kedatangannya. Itu sekitar sebulan yang lalu.

Tenanggg… Belanda masih jauh. Masih ada waktu sebulan. Itu pikir saya yang hampir selalu menganggap remeh setiap masalah. Bukannya mulai meneruskan membaca, saya malah asyik menyusun rencana tujuan ke beberapa tempat kuliner di kota saya untuk melewatkan waktu bersamanya.

Tidak terasa dua minggu berlalu. Mau tahu berapa buku yang telah saya baca? Tidak satupun! *nyengir.

Ketika waktu menyisakan dua minggu, barulah saya sedikit panik. Tapi ya, tetap saja cenderung meremehkan. Ah, cuma buku segitu sih, sebentar juga selesai. Terbukti, saya kemudian berhasil menyelesaikan satu buku dalam tempo dua hari. Tuntas membaca buku tersebut, saya segera melapor tentang jalan cerita lengkap dengan nama-nama tokohnya. Pakai ditanya-tanya pula. Serasa ikut ujian, deh.

Namun ternyata waktu berjalan lebih cepat daripada kemampuan saya membaca. Enam hari sebelum kedatangannya, saya masih harus menyelesaikan tiga buah novel yang tebalnya membuat saya kliyengan dan nyaris merasa buta huruf sementara karena melihat deretan huruf tanpa dapat merangkainya hingga terbaca dengan baik.

Namun janji tetaplah janji. Lagipula ini salah saya sendiri, karena telah menunda-nunda sebuah pekerjaan. Saya masih bertekad harus dapat menyelesaikannya tepat waktu. Ngebut baca. Apapun yang terjadi.

Dan begitulah. Novel terakhir tuntas saya baca dua jam sebelum saya menyapanya di airport. Sayapun kemudian tenang mengantarnya berlibur akhir pekan di kota saya. Yippieee…

 
1 Comment

Posted by on November 25, 2011 in Uncategorized

 

You’re My Hero

 

Hari ini, ketika semua kepala menunduk untuk jasad para pahlawannya, sayapun merunduk untuk pahlawan hidupku. Untuk sebuah nama seorang perempuan yang pernah hadir dan menghadirkan saya dalam hidupnya.

Perempuan istimewa yang akan selalu menjadi yang teristimewa.

Perempuan yang pernah selalu menghadirkan tawa hangat dalam kepungan dinding dingin bernama rumah, menguarkan berbagai aroma harum dari dapurnya, melantunkan lagu-lagu riang penyemarak hari, memiliki semua jawaban untuk setiap tanya, menciptakan harapan untuk sebongkah resah, serta memberi usapan lembut di punggung ketika lara mendera.

Perempuan yang semalaman menjahit seragam sekolah saya sepulangnya bekerja, mengantar dan menjemput sekolah di antara jam-jam kantornya, tak pernah letih berjaga ketika saya sakit dan memastikan saya terbuai dalam lelap, menjadikan dirinya pengawal tak tergantikan kemanapun anak gadisnya pergi, yang akhirnya harus merelakan melepas semua mimpi dan cita-cita demi mendampingi sang buah hati.

Perempuan yang pernah mengajarkan saya tentang kasih, kehormatan, nama baik, harga diri, dan segala tata krama yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Mengajarkan tentang arti mendongak tanpa menjadi angkuh, dan menunduk yang tak selalu berarti berbalut malu. Perempuan itulah yang mengajarkan padaku bagaimana mengekang tali atas liarnya kehidupan.

Perempuan yang kupanggil…

 

Ibu.

Yes, she’s always be my hero.

 




 

 
1 Comment

Posted by on November 10, 2011 in Ngerumpi

 

Gadis Kecil dan Anak Kucing

Suatu waktu, tersebutlah seorang gadis kecil yang ceria, murah senyum, dan lembut hatinya. Ia senang bermain-main di taman mengejar kupu-kupu lalu kemudian tidur telentang di atas rerumputan seraya memandangi gumpalan awan. Seperti gula kapas yang dijual di pasar malam, pikirnya. Namun gula kapas di langit itu lebih menarik, karena memiliki aneka bentuk yang menakjubkan. Ia kemudian asyik menebak-nebak bentuk apakah yang sedang dilihatnya. Si Gadis Kecil merasa sangat terhibur.

Seperti juga hari itu.

Seperti biasa, setelah membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah, Gadis Kecil berlari-lari riang. Sesekali ia berputar, melompat, dan menari sembari menyentuh kembang ilalang yang tumbuh liar di kiri dan kanan jalan setapak menuju taman. Bibirnya tak henti menyenandungkan lagu riang. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menelengkan kepala dan mencoba menajamkan pendengarannya. Tak seberapa jauh dari tempatnya berdiri terdengar suara lirih, “Meongggg…” Sepertinya seekor anak kucing liar.

Perlahan disibakkannya rerumputan untuk mencari asal suara tadi. Aha! Itu dia! Seekor anak kucing berbulu kuning keemasan terlihat sedang ketakutan. Menggigil. Badannya basah dan penuh luka. Mungkin karena ia tidur beratapkan langit, sedangkan hujan deras mengguyur bumi semalaman. Belum lagi di sekitar situ banyak kucing jantan dewasa yang takkan segan menyerang kucing-kucing mungil. Naluri mempertahankan daerah kekuasaan. Pasti luka-luka ini didapatnya dari para kucing dewasa itu. Si Gadis kecil iba melihatnya.

Ia melangkahkan kaki menghampiri anak kucing itu. Tak diduga, kucing tersebut menggeram. Bulu di sekujur tubuhnya tegak berdiri. Matanya menyorotkan tatapan penuh perlawanan. Tak ragu, Gadis kecil itu mengulurkan tangan. Namun yang didapatinya adalah sebuah cakaran.

“Hey! Aku hanya ingin membersihkan tubuhmu dan merawat luka-lukamu. Mengapa kamu malah menyakitiku?” Ujarnya kecewa. Ia kemudian membalikkan badan dan berlari pulang sambil terisak kesakitan. Ibunya yang melihat, merasa keheranan dan bertanya, “Mengapa tanganmu berdarah?” Diceritakannya tentang kejadian hari itu sambil membebat luka di tangan. Ibunya hanya tersenyum dan berkata, “Anak kucing itu dibuang oleh pemiliknya. Ia pasti merasa sedih. Ia merasa sendiri di alam liar yang tak pernah dikenalnya. Dingin. Kelaparan. Bukan salahnya bila ia tak lekas mempercayaimu. Meski niatmu tulus, sekalipun. Dekati dia dengan hatimu, ya?”

Mata Gadis Kecil berbinar mendengarkan perkataan ibunya. Segera ia mengambil sepotong ikan dan segelas susu dan bergegas kembali mendatangi si anak kucing. Ditaruhnya ikan dan susu yang dibawa dari rumah. Ditempatkan tidak terlalu dekat. Asal kucing itu dapat melihatnya. Setelah itu, ia mundur beberapa langkah. Duduk di bawah pohon rindang untuk mengamati apa yang terjadi. Tak lama kemudian, si kucing kecil keluar dari tempat persembunyian dan mulai mengendus-endus makanannya. Cepat-cepat dilahapnya ikan dan susu itu hingga tandas tak bersisa.

Dua kali sehari Gadis kecil membawakan makanan untuk anak kucing itu. Ia hanya memberi. Walau ingin, ia tak berani berharap dapat membelainya. Gadis itu tahu, perlu waktu untuk memulihkan perasaan aman dalam hati si kucing. Butuh kesabaran agar kucing tersebut mengerti bahwa ia dicintai.

Hal itu berlangsung cukup lama. Namun Gadis Kecil rupanya pantang menyerah. Setelah beberapa bulan ritual itu dilakukannya dengan senang hati, hingga pada suatu sore terjadilah sesuatu yang membuat hatinya melonjak kegirangan. Kaki merasakan sentuhan bulu halus. Kucing itu sedang mengusapkan kepala pada kakinya! Ya, akhirnya ia telah mendapatkan kepercayaan si kucing. Gadis Kecil berhasil memenangkan hati anak kucing itu dan membuktikan bahwa perhatiannya selama ini tulus.

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2011 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.