Saya memang menyukai hewan, terutama yang berbulu halus dan bisa dielus, seperti misalnya kucing dan anjing. Waktu saya kecil, almarhumah mama saya beberapa kali membawakan kucing kecil liar di pasar untuk dibawa pulang dan dirawat. Bukan main senangnya ketika saya mendapatkan anak kucing pertama saya. Namun sayangnya, usia si anak kucing itu tidaklah lama. Beberapa bulan setelah tinggal di rumah kami, ia mati. Saya lupa apa penyebabnya. Yang saya ingat, saya menangisi kematian kucing kecil pertama saya itu sampai tiga hari dan menabur bunga di kuburnya. Sebelumnya saya sendiri yang membungkus tubuh kakunya dengan kain perca putih dan meminta tukang becak langganan mama untuk menguburnya di bawah pohon mangga rindang di halaman depan rumah.
Setelah itu, saya terbiasa untuk memberi makan kucing-kucing liar yang lewat di depan rumah. Sekedar secentong nasi dan seekor ikan pindang tidak akan memberatkan. Namun yang terjadi kemudian adalah kucing liar itu biasanya akan melakukan kunjungan tetap ke rumah kami untuk meminta makan. Kadang ia sampai menginap dan akhirnya tinggal menetap. Jadilah rumah kami menjadi rumah singgah para kucing liar itu dan mempersilahkan mereka untuk beranak pinak di rumah. Ada yang datang, ada yang pergi. Begitu terus, silih berganti. Tapi saya membatasi kucing yang boleh tinggal di rumah. Paling banyak hanya boleh ada dua kucing. Lebih dari itu bisa membuat mama saya senewen karena rumah akan menjadi kotor.
Kebiasaan itu berlanjut hingga saya menikah. Beberapa bulan tinggal di rumah kontrakan, datanglah seekor kucing liar. Ia datang terseok-seok dengan tubuh yang kurus dan dekil, lengkap dengan bola mata kanan yang berdarah dan mencuat hampir terlepas dari kepalanya. Saya tidak tahu mengapa ia bisa mengalami itu. Awalnya saya panik dan tidak tega melihatnya. Tapi keinginan untuk menolongnya terasa lebih kuat. Cepat-cepat saya meracik nasi plus ikan pindang yang saya taburi dengan obat antibiotik untuk manusia. Saya taruh makanan itu di dekat pagar dan meninggalkannya agar ia berani mendekat dan memakan nasi itu. Satu dua kali, hingga akhirnya ia terbiasa untuk memakan nasinya tanpa rasa takut.
Saya juga mulai terbiasa dengan kehadirannya serta tidak lagi takut melihat matanya yang mencuat itu. Kemudian saya mulai mencoba memegangnya dan meminumkan langsung obat antibiotik yang telah saya gerus, sehingga dosisnya bisa saya tambahkan untuk mempercepat kesembuhannya. Hingga suatu hari ia tidak datang lagi ke rumah. Tadinya saya mengira ia mati, namun ternyata beberapa hari kemudian ia datang dengan tubuh yang terlihat lebih sehat namun matanya berlubang. Tampaknya bola matanya benar-benar telah terlepas dan lukanya mengering karena pengaruh obat itu. Kami memanggilnya si Cumplung, yang dalam bahasa Jawa artinya berlubang.
Setelah setahun tinggal di rumah kontrakan, Puji Tuhan kami dapat membeli sebuah rumah mungil. Lengkap dengan kucing liarnya. Seekor kucing hitam mulus dengan sinar mata yang menakutkan tiap malam mendatangi rumah kami. Saya menjulukinya kucing penyihir, karena mirip dengan kucing hitam para penyihir dalam buku dongeng. Ia selalu datang tiap malam untuk makan dan jarang menampakkan diri pada siang hari. Hingga pada suatu hari ia datang mengajak serta seekor kucing betina yang masih remaja. Anaknya.
Tahun demi tahun berlalu dan meninggalkan tiap cerita tentang kucing-kucing itu. Anak si kucing hitam itu menjadi kucing dewasa dan beranak pinak. Saya menamainya Tante, karena layaknya tante girang, ia sering keluar malam dan meninggalkan anak-anaknya yang masih bayi mengeong-ngeong kedinginan. Satu generasi lahir, generasi sebelumnya menghilang. Begitu terus hingga tersisa dua ekor keturunannya dari generasi yang berbeda yaitu Maychan, seekor kucing betina dengan warna bulu kembang telon yang lahir pada bulan Mei dan tampak seperti macan, serta adiknya, seekor kucing jantan berwana abu-abu yang saya panggil Abu.
Ada kisah tersendiri yang membuat saya tetap menyayangi keduanya meski mereka kadang menjengkelkan. Kedua kucing itu tampak rukun walaupun berbeda generasi. Kadang Maychan membawakan hasil buruannya untuk diberikan kepada Abu. Setiap malam mereka saling merapatkan diri untuk menghangatkan badan lalu tidur hingga pagi menjelang. Layaknya kucing remaja, Abu menjadi incaran para kucing jantan senior di perumahan karena dianggap sebagai rival. Ketika terjadi pertempuran sengit, biasanya Tante dan Maychan akan datang membantu Abu mengeroyok para kucing senior itu.
Kedekatan mereka juga sangat terlihat ketika Maychan melahirkan. Meskipun bukan ayah dari anak-anak Maychan, Abu akan dengan setianya menemani Maychan hingga saat detik-detik menjelang proses kelahirannya. Maychan yang gelisah karena kesakitan dan Abu yang menempelkan tubuhnya di samping Maychan, adalah pemandangan yang mengharukan. Belum lagi ketika Abu dengan senang hati ikut merawat anak-anak kucing itu. Tadinya saya khawatir ketika melihat Abu masuk ke dalam kardus bekas tempat anak-anak Maychan berada. Bukanlah hal yang sulit bagi Abu untuk membunuh mereka dalam satu kali lahap. Tapi yang terjadi sebaliknya. Abu menjilat-jilat pelan tubuh kucing kecil itu lalu ikut tidur bersama mereka, padahal naluri kucing jantan dewasa adalah membunuh kucing yang lebih kecil.
ATM: Abu, Tante, dan Maychan. Dengan caranya sendiri, mereka telah mengajarkan kepada saya tentang kekuatan kasih sayang dan kesetiaan satu sama lain.


tata
February 17, 2012 at 2:26 pm
itu kucingnya yang telon&abu2 kok mirip ama kucingku dirumah??
ruma mba di kota mana???
flyingwithme
March 3, 2012 at 5:28 pm
Weits, jangan-jangan kita tetanggaan? Hihihi..
risa effendi
March 3, 2012 at 5:21 pm
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu mengharukan
mau donk kucingku akrab kayak gitu
flyingwithme
March 3, 2012 at 5:32 pm
Dilatih dari si baby masih baby aja, mbak.. *eh, kok mbulet, hehehe.
Awal-awalnya memang nolak, tapi lama kelamaan mau kok