RSS

Monthly Archives: July 2011

Burung Malam dan Bulan

Suatu malam di tengah hutan, terdengar isakan tertahan. Seekor burung malam yang sedang beristirahat di pucuk ranting mengarahkan pandangannya ke sekitar. Tak nampak siapapun di situ. Siapa yang sedang menangis, pikirnya. Burung itu lalu terbang ke pucuk ranting pohon yang lain. Ia menajamkan pendengarannya dan suara isakan itu terdengar semakin jelas. Suara itu berasal dari suatu tempat di atasnya.

Burung Malam mendongakkan kepalanya. Ia melihat Bulan sedang murung. Ia lalu terbang mendekati Bulan dan bertanya, “Hai, sedang apa kau, Bulan? Mengapa engkau menangis? Langit menjadi muram karena tangisanmu.” Bulan yang terkejut oleh sapaan Burung Malam, menghentikan tangisnya dan menjawab, “Aku kesepian. Sepanjang malam aku hanya sendiri di sini. Bintang tak kunjung datang karena terhalang awan.” Burung Malam merasa iba melihat Bulan. Ia kemudian mencari pucuk pohon tertinggi dan berdiam di situ.

“Jangan bersedih lagi. Aku akan menemanimu di sini hingga kau bertemu dengan Bintang,” ujar Burung Malam. Sejak saat itu, setiap malam Burung Malam terbang ke ujung ranting tertinggi untuk bercengkrama dengan Bulan. Ia sering menyanyikan lagu-lagu merdu untuk Bulan. Malam demi malampun berlalu, dan Bulanpun tak lagi kesepian. Ia mendapatkan kawan yang menemani malam-malam sunyinya. Perlahan tapi pasti, Bulan jatuh hati pada Burung Malam. Ia selalu menantikan saat-saat dimana ia dapat berjumpa dengan Burung Malam. Hanya ketika Burung Malam ada, ia dapat tersenyum. Bulan semakin bersinar karenanya, hingga malam terlihat semakin benderang.

Suatu malam, Bulan berkata kepada Burung Malam, “Burung Malam, aku mencintaimu. Maukah engkau tetap tinggal di sisiku?” Burung Malam tertegun mendengarnya. Pelan ia menjawab, “Aku tak dapat mencintaimu dengan rasa yang sama seperti yang kau miliki terhadap aku. Kau tak bersuara merdu yang dapat memikat hatiku, kau tak dapat terbang membelah angin bersamaku, kita bahkan tak dapat bersisian di pucuk ranting ketika siang datang. Karena begitu Mentari menggantikan tempatmu, kau akan menghilang meninggalkan aku. Kau hanya kesepian. Kelak ketika Bintang menghampirimu, kau akan segera melupakan aku.”

Bulan terdiam. Sinarnya meredup. Ia sangat terluka ketika mendengar jawaban Burung Malam. “Kupikir rasa itu juga mendiami hatimu. Burung Malam, dengarlah. Aku memang tak bersuara merdu, namun aku menjauhkan langit kelam hingga engkau dapat bernyanyi dengan riang tanpa risaukan hujan. Aku memang tak dapat kepakkan sayap bersamamu, namun aku selalu menerangimu dengan cahayaku kemanapun kau ingin terbang. Mentari memang muncul dan melenyapkan sosokku, namun tak jarang aku melawan panasnya yang membakar hanya sekedar untuk memandangmu dalam lelap. Kaupun lihat sendiri, Gemintang sering datang menerangi malamku, tapi aku tetap merindukanmu. Aku selalu mengharapkan kehadiranmu di pucuk ranting itu.” Burung Malam hanya dapat terdiam.

Malam setelahnya, Burung Malam tak datang. Esok malamnyapun ia tak menampakkan diri di pucuk ranting. Burung Malam tak pernah lagi datang. Bulanpun berhenti bersinar. Hujan terus berganti dengan mendung pekat yang menyelimuti malam. Tak nampak lagi langit malam yang cerah.

Hingga di suatu malam yang basah, Burung Malam terbang kelelahan setelah menembus rinai hujan dan segera mencari pucuk ranting tertinggi yang dapat ditemukannya. Ia merindukan cerahnya Bulan yang pernah menerangi malam-malamnya. Sesungguhnya ia berusaha melawan rasa yang juga tumbuh dalam hatinya, sebelum Bulan mengatakannya. Ia merasa malu bila terlihat oleh kawanannya ketika sedang menemani Bulan yang tak bersuara merdu seperti mereka. Namun tak dapat dipungkiri, sesungguhnya Burung Malam menyayangi Bulan.

Setibanya di pucuk ranting, Burung Malam menyenandungkan kicauan merdu yang biasa ia lakukan ketika melewatkan malam bersama Bulan.  Ia berharap Bulan mendengarnya. Tak berapa lama, mendung tersibak perlahan-lahan. Bulan mulai menampakkan dirinya malu-malu. “Engkaukah itu, Burung Malam?” tanya Bulan meragu. “Ya, ini aku, Bulan. Tampakkan dirimu, sinarilah aku. Karena sesungguhnya aku tak bisa lewati malam tanpa dirimu,” ujar Burung Malam. Bulan tersenyum dan menampakkan sinar tercerahnya.

Sejak itu tak pernah ada lagi malam yang muram dan Bulan yang tersaput awan. Tak pernah ada lagi malam yang sunyi karena selalu ada Burung Malam yang berkicau merdu. Bulan selau mendekap hangat Burung Malam dalam cahaya lembutnya, dan sebaliknya Burung Malam selalu dapat menghadirkan senyum Bulan. Mereka saling mencintai dengan caranya sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2011 in fiction, my heart, Ngerumpi

 

Sepenggal Kisah Tentang ATM

Saya memang menyukai hewan, terutama yang berbulu halus dan bisa dielus, seperti misalnya kucing dan anjing. Waktu saya kecil,  almarhumah mama saya beberapa kali membawakan kucing kecil liar di pasar untuk dibawa pulang dan dirawat. Bukan main senangnya ketika saya mendapatkan anak kucing pertama saya. Namun sayangnya, usia si anak kucing itu tidaklah lama. Beberapa bulan setelah tinggal di rumah kami, ia mati. Saya lupa apa penyebabnya. Yang saya ingat, saya menangisi kematian kucing kecil pertama saya itu sampai tiga hari dan menabur bunga di kuburnya. Sebelumnya saya sendiri yang membungkus tubuh kakunya dengan kain perca putih dan meminta tukang becak langganan mama untuk menguburnya di bawah pohon mangga rindang di halaman depan rumah.

Setelah itu, saya terbiasa untuk memberi makan kucing-kucing liar yang lewat di depan rumah. Sekedar secentong nasi dan seekor ikan pindang tidak akan memberatkan. Namun yang terjadi kemudian adalah kucing liar itu biasanya akan melakukan kunjungan tetap ke rumah kami untuk meminta makan. Kadang ia sampai menginap dan akhirnya tinggal menetap. Jadilah rumah kami menjadi rumah singgah para kucing liar itu dan mempersilahkan mereka untuk beranak pinak di rumah. Ada yang datang, ada yang pergi. Begitu terus, silih berganti. Tapi saya membatasi kucing yang boleh tinggal di rumah. Paling banyak hanya boleh ada dua kucing. Lebih dari itu bisa membuat mama saya senewen karena rumah akan menjadi kotor.

Kebiasaan itu berlanjut hingga saya menikah. Beberapa bulan tinggal di rumah kontrakan, datanglah seekor kucing liar. Ia datang terseok-seok dengan tubuh yang kurus dan dekil, lengkap dengan bola mata kanan yang berdarah dan mencuat hampir terlepas dari kepalanya. Saya tidak tahu mengapa ia bisa mengalami itu. Awalnya saya panik dan tidak tega melihatnya. Tapi keinginan untuk menolongnya terasa lebih kuat. Cepat-cepat saya meracik nasi plus ikan pindang yang saya taburi dengan obat antibiotik untuk manusia. Saya taruh makanan itu di dekat pagar dan meninggalkannya agar ia berani mendekat dan memakan nasi itu. Satu dua kali, hingga akhirnya ia terbiasa untuk memakan nasinya tanpa rasa takut.­­

Saya juga mulai terbiasa dengan kehadirannya serta tidak lagi takut melihat matanya yang mencuat itu. Kemudian saya mulai mencoba memegangnya dan meminumkan langsung obat antibiotik yang telah saya gerus, sehingga dosisnya bisa saya tambahkan untuk mempercepat kesembuhannya. Hingga suatu hari ia tidak datang lagi ke rumah. Tadinya saya mengira ia mati, namun ternyata beberapa hari kemudian ia datang dengan tubuh yang terlihat lebih sehat namun matanya berlubang. Tampaknya bola matanya benar-benar telah terlepas dan lukanya mengering karena pengaruh obat itu. Kami memanggilnya si Cumplung, yang dalam bahasa Jawa artinya berlubang.

Setelah setahun tinggal di rumah kontrakan, Puji Tuhan kami dapat membeli sebuah rumah mungil. Lengkap dengan kucing liarnya. Seekor kucing hitam mulus dengan sinar mata yang menakutkan tiap malam mendatangi rumah kami. Saya menjulukinya kucing penyihir, karena mirip dengan kucing hitam para penyihir dalam buku dongeng. Ia selalu datang tiap malam untuk makan dan jarang menampakkan diri pada siang hari. Hingga pada suatu hari ia datang mengajak serta seekor kucing betina yang masih remaja. Anaknya.

Tahun demi tahun berlalu dan meninggalkan tiap cerita tentang kucing-kucing itu. Anak si kucing hitam itu menjadi kucing dewasa dan beranak pinak. Saya menamainya Tante, karena layaknya tante girang, ia sering keluar malam dan meninggalkan anak-anaknya yang masih bayi mengeong-ngeong kedinginan. Satu generasi lahir, generasi sebelumnya menghilang. Begitu terus hingga tersisa dua ekor keturunannya dari generasi yang berbeda yaitu Maychan, seekor kucing betina dengan warna bulu kembang telon yang lahir pada bulan Mei dan tampak seperti macan, serta adiknya, seekor kucing jantan berwana abu-abu yang saya panggil Abu.

Ada kisah tersendiri yang membuat saya tetap menyayangi keduanya meski mereka kadang menjengkelkan. Kedua kucing itu tampak rukun walaupun berbeda generasi. Kadang Maychan membawakan hasil buruannya untuk diberikan kepada Abu. Setiap malam mereka saling merapatkan diri untuk menghangatkan badan lalu tidur hingga pagi menjelang. Layaknya kucing remaja, Abu menjadi incaran para kucing jantan senior di perumahan karena dianggap sebagai rival. Ketika terjadi pertempuran sengit, biasanya Tante dan Maychan akan datang membantu Abu mengeroyok para kucing senior itu.

Kedekatan mereka juga sangat terlihat ketika Maychan melahirkan. Meskipun bukan ayah dari anak-anak Maychan, Abu akan dengan setianya menemani Maychan hingga saat detik-detik menjelang proses kelahirannya. Maychan yang gelisah karena kesakitan dan Abu yang menempelkan tubuhnya di samping Maychan, adalah pemandangan yang mengharukan. Belum lagi ketika Abu dengan senang hati ikut merawat anak-anak kucing itu. Tadinya saya khawatir ketika melihat Abu masuk ke dalam kardus bekas tempat anak-anak Maychan berada. Bukanlah hal yang sulit bagi Abu untuk membunuh mereka dalam satu kali lahap. Tapi yang terjadi sebaliknya. Abu menjilat-jilat pelan tubuh kucing kecil itu lalu ikut tidur bersama mereka, padahal naluri kucing jantan dewasa adalah membunuh kucing yang lebih kecil.

ATM: Abu, Tante, dan Maychan. Dengan caranya sendiri, mereka telah mengajarkan kepada saya tentang kekuatan kasih sayang dan kesetiaan satu sama lain.

 
4 Comments

Posted by on July 23, 2011 in my heart, my life

 

“Membeli” Doa

Pernah didoakan oleh seseorang? Bagaimana rasanya? Senang? Terharu? Ya, seperti itulah yang saya rasakan baru-baru ini. Beberapa hari belakangan ini saya sering dipertemukan oleh orang-orang yang menambahkan doa sebagai ucapan terimakasihnya kepada saya. Entah itu sekedar basa-basi atau sungguh-sungguh terucap dari dalam hatinya, yang jelas saya selalu mengamini semua doa itu. Doa dari orang-orang yang tidak saya kenal dan tanpa sengaja saya temui di jalan.

Suatu hari, ketika saya sedang berjalan di trotoar di kota tempat saya tinggal, saya melihat seorang nenek renta dan bungkuk di seberang jalan raya sedang ragu-ragu melangkahkan kakinya untuk menyeberangi jalanan yang ramai oleh kendaraan yang lalu lalang. Saya melihat di dekat nenek tersebut terparkir beberapa becak beserta pengemudinya yang sedang menunggu penumpang. Ada juga seorang tukang parkir yang duduk-duduk menunggu mobil yang hendak parkir. Di sekitar nenek itu tampak juga pejalan kaki yang simpang siur melewatinya. Saya tertegun dan berpikir, mengapa tidak ada seorangpun yang mau membantu nenek itu menyeberang jalan?

Cepat-cepat saya langkahkan kaki menyeberangi jalan menuju nenek itu. Saya condongkan badan ke wajahnya dan bertanya kepada beliau, “Mbah, menapa badhe nyebrang?”  Beliau tersenyum dan menjawab, “Nggih, Nak. Tapi dalane rame. Mbah wedhi.” Ah, saya trenyuh mendengarnya. Sudah barang tentu beliau takut melewati jalan yang penuh dengan kendaraan bersliweran tanpa ada orang lain yang membantunya. Di usianya yang setua itu ditambah lagi badannya yang terbungkuk-bungkuk, beliau pasti berjalan dengan sangat pelan. Akan sangat membahayakan keselamatannya.

Saya segera menggenggam tangan beliau dan berkata di telinganya, “Monggo, Mbah, nyebrang kaliyan dalem.” Saya sempat melihat raut wajahnya yang sedikit terkejut. Sebelumnya beliau memang melihat saya menyebrang jalan dari arah yang berlawanan dengan dirinya. Beliau mungkin berpikir untuk apa saya menyeberang lagi ke tempat semula. Namun tanpa berkata apapun, beliau mulai melangkah perlahan bersama saya. Ketika akhirnya kami tiba di seberang jalan dan beliau menyadari bahwa saya memang berniat membantunya menyeberang jalan, beliau menggenggam erat tangan saya dan berkata dengan terbata-bata, “Nak, matursuwun… Gusti Allah sing mbales, nggih. Mugi-mugi jenengan diparingi sehat, lan  rejekine lancar. Matursuwun nggih, Nak, matursuwun…” Saya mengamini doanya dan bergegas pamit sambil tak lupa mengucapkan terimakasih untuk doa yang diucapkannya itu. Sebenarnya saya sedikit malu, karena hanya dengan bantuan yang saya pikir tidak seberapa, saya mendapatkan sebuah doa yang sangat indah.

Di hari lain, saya sedang menumpang sebuah bus dengan tujuan luar kota. Penumpangnya cukup penuh, namun beruntung saya mendapatkan sebuah tempat duduk. Baru beberapa menit bus berjalan, naiklah seorang ibu paruh baya dengan barang bawaan yang terlihat cukup berat. Para lelaki yang duduk dan dilewatinya hanya diam, pura-pura sibuk dengan korannya, atau menutup mata. Terlihat sedang tidur lelap. Ibu itu menoleh kiri kanan mencari bangku kosong, yang tidak ditemukannya. Tanpa berpikir panjang lagi, saya segera berdiri dan menawarkan bangku saya untuk ibu itu. Ibu itu bertanya, apakah saya sudah akan turun, dan saya menjawab masih lama. Tapi setidaknya saya lebih kuat berdiri karena tidak membawa tas yang berat. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada saya disertai dengan doa semoga saya selalu sehat.

Kedua kejadian tersebut hanyalah sebagian dari beberapa kisah mirip lainnya yang saya alami. Entah mengapa, saya selalu terkesan dengan orang yang mengucapkan terimakasih sampai sebegitunya padahal bantuan yang saya berikan tidak seberapa. Mungkin sekecil apapun bantuan kita kepada seseorang, namun ketika kita memberikannya di saat ia sangat membutuhkannya, akan membuatnya merasa sangat berterimakasih. Apapun itu, saya bersyukur telah mendapatkan doa baik dari orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal. Hitung-hitung saya “membeli” doa dengan bantuan saya yang tidak seberapa itu.

Lalu, sudahkah kamu menolong orang lain hari ini?

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2011 in my heart, my life

 

Baca yuk, baca…

Membaca adalah salah satu cara untuk membuat kita berhasil menembus batas imaji. Membantu kita untuk mengetahui segala hal yang sebelumnya bahkan tidak pernah kita duga. Dengan membaca, kita dapat membayangkan suasana di belahan dunia lain, atau di era purbakala, atau di angkasa luar misalnya. Bahkan kita dapat menyelami isi hati seseorang hanya dengan membaca. Menyenangkan bukan?

Saya dulu termasuk orang yang memiliki hobi membaca. Saya menyukai segala jenis buku bacaan, namun saya lebih suka buku yang mengekplorasi perasaan manusia. Buku Chicken Soup, misalnya. Saya bahkan sampai mengoleksinya. Setelah membeli dan membawanya pulang, saya akan memberinya sampul plastik dan menyelipkan sebuah pembatas buku di dalamnya. Setelah selesai membaca, akan saya letakkan lagi di dalam lemari buku.  Rapi, tapi bukan berarti tidak saya baca. Begitu terus hingga koleksi buku Chicken Soup saya bertambah banyak. Namun itu dulu. Hobi itu terakhir saya sukai sebelum menikah. Entah karena apa alasannya, setelah menikah saya tidak lagi terlalu suka membaca.

Suatu hari bahkan saya dengan teganya menegur teman saya yang membawa-bawa novelnya ketika kami jalan-jalan berdua. Pikir saya sih, dia kan sudah saya temani, jadi kenapa harus ada buku lagi untuk menemani dia? Padahal sebelumnya, dia tidak pernah lepas dari kegiatan membaca.

Mungkin karena gemas, beberapa waktu sesudahnya, ia mengirimi saya enam buah novel yang telah ia baca dengan rekomendasi dua buah novel terbaik (versi dia) di antaranya. Bergegas saya mulai melahap novel itu. Novel pertama habis dalam waktu satu minggu, itupun dengan penuh perjuangan. Beberapa kali ia bahkan harus bertanya pada saya, hari ini sampai halaman berapa. Barangkali dia heran melihat saya yang lama sekali membaca sebuah buku. Ah, seandainya dia tahu berapa lama waktu yang saya habiskan untuk membaca buku kedua yang saya pilih. Buku kedua lebih parah lagi. Dua minggu ini baru terbaca 143 halaman dari jumlah keseluruhan 717 halaman.

GUBRAKKK…!!!

Duh, susahnya menumbuhkan lagi keinginan membaca buku yang setebal bantal itu. Sekarang saya memang lebih suka membaca bacaan yang singkat dan tak membutuhkan waktu lama untuk membacanya. Baca blog, misalnya. Atau baca berita sekilas di situs internet atau dua minggu sekali saya membaca tabloid resep makanan. Ah, tapi sepertinya saya tertantang untuk menumbuhkan lagi budaya membaca. Saya bahkan sudah berjanji kepada teman saya itu, bila kami bertemu lagi, keenam buku yang ia kirimkan untuk saya pasti sudah habis saya baca.

Semoga.

 
3 Comments

Posted by on July 14, 2011 in my heart, my laugh, my life

 

Calm down, please…

Tidak selamanya kita dapat menutup hari dengan senyuman. Ada kalanya kita tak memiliki banyak pilihan untuk membuat segala sesuatunya seindah harapan kita. Bahkan meskipun yang terjadi adalah sepanjang waktu sebelumnya dipenuhi dengan tawa canda dan suka ria, hal itu tidak dapat menjamin segaris senyum akan mengantar kita dalam lelap . Sungguh kenyataan yang manusiawi.

Saya ingat, dulu saya sering menenangkan salah seorang mantan anak didik saya yang bertemperamen keras dan sering berkelahi dengan teman-temannya. Biasanya saya akan memanggilnya dan berbincang dari hati ke hati sembari mengelus-elus dadanya. “Coba tirukan Ibu ya? Elus dadamu sambil bilang: tenang… tenang… Lalu tarik nafas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan melalui mulut. Ulangi sampai kamu tidak merasakan lagi keinginan untuk memukul temanmu. Bisa?” Ia hanya mengangguk dan melakukan instruksi saya. Tentu saja dengan wajah tertekuk dan mulut yang tak henti-hentinya mengomel untuk membela diri.

Memang beberapa kali setelahnya saya masih harus menariknya paksa dari arena perkelahian dan mengulang-ulang instruksi tersebut. Namun seiring waktu, dia mulai dapat mengendalikan emosinya tanpa saya perlu lagi bersusah payah “menyadarkannya”. Jadi ketika ia mulai terlibat dalam adu mulut dengan temannya dan terlihat berancang-ancang untuk main fisik, saya tinggal menepuk pundaknya dan berkata, ”Masih ingat pesan Ibu, kan?”  Puji Tuhan, dia menurut dan ternyata itu cukup efektif untuk meredakan amarahnya yang menggebu-gebu.

Hmm, tapi sepertinya malam ini saya yang membutuhkan terapi itu untuk diri saya sendiri.

Saya menikmati siang tadi dan membuat saya berpikir seandainya dalam seminggu ada dua hariiiii saja seperti hari ini, alangkah indahnya. Tapi menjelang saya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh saya dalam damainya mimpi, saya malah merasa kesulitan memejamkan mata. Apalagi penyebabnya kalau bukan emosi. Hati yang tak menentu yang menciptakan gejolak layaknya gedoran bertubi-tubi di dalam dada. Sepertinya tak ada cara lain nih, selain berusaha menenangkan hati.

Saya mulai mengambil posisi wuenak di atas tempat tidur, duduk dengan melipat kedua kaki. Mata terpejam sambil mendengarkan alunan musik lembut. Sayapun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sembari mengelus-elus dada saya sambil berbisik, “Tenang… tenang… tenang… tenang…”

Sekian menit berlalu.

Saya perkirakan saya telah menggumamkan kata “tenang” yang kelimapuluh, ketika saya belum juga merasakan tenang. Deburan di dada masih juga saya rasakan. Kali ini malah ditambah dengan perut yang memulai konser orkestranya karena sedari siang belum saya beri setoran makanan. Ada yang salah nih, sepertinya. Entah yang mana. Tak perlu menunggu lebih lama lagi, saya putuskan untuk bangkit berdiri dan menuju dapur. Ngemil beberapa makanan yang berada di kulkas lalu melanjutkan self therapy. Ajaib! Tak lama kemudian saya merasa lebih nyaman.

Hmm, berdasarkan pengalaman ini, mungkin lain kali sebelum saya menyarankan terapi ini kepada orang lain, terlebih dulu saya akan memastikan perut orang itu terisi makanan dulu, deh. Daripada elusannya sia-sia kan, ya?

 
Leave a comment

Posted by on July 9, 2011 in my life

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.