Suatu malam di tengah hutan, terdengar isakan tertahan. Seekor burung malam yang sedang beristirahat di pucuk ranting mengarahkan pandangannya ke sekitar. Tak nampak siapapun di situ. Siapa yang sedang menangis, pikirnya. Burung itu lalu terbang ke pucuk ranting pohon yang lain. Ia menajamkan pendengarannya dan suara isakan itu terdengar semakin jelas. Suara itu berasal dari suatu tempat di atasnya.
Burung Malam mendongakkan kepalanya. Ia melihat Bulan sedang murung. Ia lalu terbang mendekati Bulan dan bertanya, “Hai, sedang apa kau, Bulan? Mengapa engkau menangis? Langit menjadi muram karena tangisanmu.” Bulan yang terkejut oleh sapaan Burung Malam, menghentikan tangisnya dan menjawab, “Aku kesepian. Sepanjang malam aku hanya sendiri di sini. Bintang tak kunjung datang karena terhalang awan.” Burung Malam merasa iba melihat Bulan. Ia kemudian mencari pucuk pohon tertinggi dan berdiam di situ.
“Jangan bersedih lagi. Aku akan menemanimu di sini hingga kau bertemu dengan Bintang,” ujar Burung Malam. Sejak saat itu, setiap malam Burung Malam terbang ke ujung ranting tertinggi untuk bercengkrama dengan Bulan. Ia sering menyanyikan lagu-lagu merdu untuk Bulan. Malam demi malampun berlalu, dan Bulanpun tak lagi kesepian. Ia mendapatkan kawan yang menemani malam-malam sunyinya. Perlahan tapi pasti, Bulan jatuh hati pada Burung Malam. Ia selalu menantikan saat-saat dimana ia dapat berjumpa dengan Burung Malam. Hanya ketika Burung Malam ada, ia dapat tersenyum. Bulan semakin bersinar karenanya, hingga malam terlihat semakin benderang.
Suatu malam, Bulan berkata kepada Burung Malam, “Burung Malam, aku mencintaimu. Maukah engkau tetap tinggal di sisiku?” Burung Malam tertegun mendengarnya. Pelan ia menjawab, “Aku tak dapat mencintaimu dengan rasa yang sama seperti yang kau miliki terhadap aku. Kau tak bersuara merdu yang dapat memikat hatiku, kau tak dapat terbang membelah angin bersamaku, kita bahkan tak dapat bersisian di pucuk ranting ketika siang datang. Karena begitu Mentari menggantikan tempatmu, kau akan menghilang meninggalkan aku. Kau hanya kesepian. Kelak ketika Bintang menghampirimu, kau akan segera melupakan aku.”
Bulan terdiam. Sinarnya meredup. Ia sangat terluka ketika mendengar jawaban Burung Malam. “Kupikir rasa itu juga mendiami hatimu. Burung Malam, dengarlah. Aku memang tak bersuara merdu, namun aku menjauhkan langit kelam hingga engkau dapat bernyanyi dengan riang tanpa risaukan hujan. Aku memang tak dapat kepakkan sayap bersamamu, namun aku selalu menerangimu dengan cahayaku kemanapun kau ingin terbang. Mentari memang muncul dan melenyapkan sosokku, namun tak jarang aku melawan panasnya yang membakar hanya sekedar untuk memandangmu dalam lelap. Kaupun lihat sendiri, Gemintang sering datang menerangi malamku, tapi aku tetap merindukanmu. Aku selalu mengharapkan kehadiranmu di pucuk ranting itu.” Burung Malam hanya dapat terdiam.
Malam setelahnya, Burung Malam tak datang. Esok malamnyapun ia tak menampakkan diri di pucuk ranting. Burung Malam tak pernah lagi datang. Bulanpun berhenti bersinar. Hujan terus berganti dengan mendung pekat yang menyelimuti malam. Tak nampak lagi langit malam yang cerah.
Hingga di suatu malam yang basah, Burung Malam terbang kelelahan setelah menembus rinai hujan dan segera mencari pucuk ranting tertinggi yang dapat ditemukannya. Ia merindukan cerahnya Bulan yang pernah menerangi malam-malamnya. Sesungguhnya ia berusaha melawan rasa yang juga tumbuh dalam hatinya, sebelum Bulan mengatakannya. Ia merasa malu bila terlihat oleh kawanannya ketika sedang menemani Bulan yang tak bersuara merdu seperti mereka. Namun tak dapat dipungkiri, sesungguhnya Burung Malam menyayangi Bulan.
Setibanya di pucuk ranting, Burung Malam menyenandungkan kicauan merdu yang biasa ia lakukan ketika melewatkan malam bersama Bulan. Ia berharap Bulan mendengarnya. Tak berapa lama, mendung tersibak perlahan-lahan. Bulan mulai menampakkan dirinya malu-malu. “Engkaukah itu, Burung Malam?” tanya Bulan meragu. “Ya, ini aku, Bulan. Tampakkan dirimu, sinarilah aku. Karena sesungguhnya aku tak bisa lewati malam tanpa dirimu,” ujar Burung Malam. Bulan tersenyum dan menampakkan sinar tercerahnya.
Sejak itu tak pernah ada lagi malam yang muram dan Bulan yang tersaput awan. Tak pernah ada lagi malam yang sunyi karena selalu ada Burung Malam yang berkicau merdu. Bulan selau mendekap hangat Burung Malam dalam cahaya lembutnya, dan sebaliknya Burung Malam selalu dapat menghadirkan senyum Bulan. Mereka saling mencintai dengan caranya sendiri.




